# 1화 — Chapter 1 : Beginning
Langit melingkar berubah menjadi hitam, layaknya ruang terdistorsi yang siap menelan semua hal yang berada di dekatnya. Dunia menjadi gelap, angin badai menerpa dengan sangat kasarnya. Bebatuan berterbangan melukai kulit. Suara teriakan orang-orang yang berlarian menabrakku memenuhi telingaku. Jendela sistem bertuliskan Error dan lenyap di hadapanku. Dalam seperkian detik sebuah cahaya meledak di hadapanku.
Gelap
Penglihatanku buram dan gelap, badanku terasa sangat ringan seakan terbang dalam udara. Telingaku berdenging dengan keras, sampai kurasa gendang telingaku pecah. Saat itulah aku kehilangan kesadaranku. Tiba-tiba tenggorokanku terasa sangat kering, nafasku terkesiap lalu batuk tersenggal-senggal karenanya. Tanpa kusadari, aku terbangun di sebuah gedung yang sepertinya telah ditinggal lama. Kosong, kotor, dan tidak ter-urus.
Tumbuhan belukar tumbuh di setiap sudut gedung yang menambah kesan menyeramkan. Badanku compang-camping dan bekas luka yang sudah mengering dimana-mana. Aku pun mencoba berdiri untuk melihat apa yang berada di luar gedung. Di saat aku menginjakkan kakiku di atas rerumputan, aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Sinar matahari yang menerpa wajahku, suara burung yang terdengar sangat merdu, tupai yang melompat-lompat di atas pohon, dan pepohonan yang tumbuh dengan segar di sepanjang mataku melihat. Pemandangan yang biasanya hanya terlihat bangunan-bangunan tinggi jauh di pandangan mata, saat ini tergantikan dengan keindahan alam yang aku dambakan selama ini. Namun, ada hal ganjil yang terus membuatku sulit untuk menerima semua ini.
“Dimana aku?”
Sudah 2 minggu aku berkelana di dalam hutan. Menangkap ikan untuk mengisi perut kosongku dan bermalam di samping sungai dengan api unggun buatanku. Bermodal daun untuk alas tempat tidurku, aku memandang langit malam yang dipenuhi bintang itu.
“Kapan terakhir kali aku melihat bintang yang indah itu?” Aku mengangkat tanganku di udara mencoba membuka jendela sistem, namun tidak ada apa pun yang terlihat di sana. “Hmmm.. sepertinya sistemnya rusak sejak kejadian itu.” Aku pun duduk dan berjalan mendekati api unggun untuk mematikannya.
Kresekk Kresekk
Aku pun seketika menoleh mencari arah suara itu. aku mencoba tenang dan mengamati sekitarku namun hanya kegelapan hutan yang dapat terlihat. Aku pun mengambil senjata pisau genggamku yang untungnya tidak hilang saat aku terbangun di sini. Terdiam, senyap dan sepi yang dapat kudengar. Namun, saat aku menoleh ke seberang sungai, terlihat sepasang mata menatapku. ‘Manusia?’ batinku.
Selama ini aku sama sekali tidak menemukan seseorang di dalam hutan. Namun tidak tahu apa yang berada di luar sana. “Hei, kau.” Aku pun mencoba memanggilnya. Dia seketika bersembunyi dibalik pohon setelah aku memanggilnya. Dengan hati-hati aku berjalan menyeberangi sungai untuk mendekatinya. “Hei.” Saat aku hampir mendekatinya, dia secara tiba-tiba berlari menjauhiku dengan sangat cepat. Aku pun mengejarnya. Dengan bantuan sinar bulan yang menerangi gelapnya hutan aku berhasil menyusul tanpa kehilangan dirinya.
Seseorang dengan jubah dan tudung hitamnya terus berlari menjauhiku. ‘Sial, dia sangat cepat, aku tidak bisa mencapainya’ Aku mencoba terus mengejarnya karena mungkin aku akan mendapat informasi tentang di mana kita berada sekarang.
“Hei, berhenti sebentar!” Namun, setelah melewati pohon yang sangat besar, dia menghilang. Dengan nafas terengah-engah berlutut dan mengamati sekitar namun nihil, tidak ada siapa-siapa di sini.
“Sial, aku kehilangan dia.” Aku memandangi takjub pada pohon besar di hadapanku. Baru sekali ini aku melihat pohon yang sangat besar selama hidupku. Bahkan selama aku menjalankan misi memasuki dungoen pun, aku tidak pernah melihat yang sebesar ini. Tidak lupa dengan tujuanku, aku melihat sekitarku namun tetap saja tidak ada siapa-siapa.
“Hei! Keluarlah! Aku ingin bertanya kepadamu!” Namun tidak ada sahutan. Hanya suara-suara gesekan daun dan serangga yang dapat aku dengar.
“Hei! Jika Kau Kelu-“ saat aku berteriak, tiba-tiba senjata tajam seperti sabit melingkar di leherku. Dia berada di belakangku, melingkarkan sabitnya di leherku seperti sedang menyandera. Tangan kirinya memegang pundakku agar aku tidak banyak bergerak. Namun dia tidak mengatakan satu kata pun. Aku melihat bayangan dirinya melalui sorot sinar bulan. Tinggi dan besar, seperti monster beruang yang pernah aku basmi saat di dungeon dulu. Hembusan nafasnya terasa sangat kasar mengenai pucuk kepalaku. Bisa diperkirakan tingginya sekitar 6 kaki orang dewasa bisa lebih.
“Maaf, tapi....” Aku berbicara namun tangannya semakin erat memegang pundakku. “Sstt.. Jangan berisik.” Ucapannya membuatku langsung terdiam seribu bahasa. Dia menyeretku menuju belakang pohon besar dan memojokkanku di batang pohon tanpa melepas sabit yang melingkar di leherku. Sadar akan bahaya, aku menelan air liurku berat dan tidak mengucapkan satu kata pun setelah mendengar kebisingan yang segera datang menuju kami. Aku mendengar segerombolan orang-orang membawa bor berjalan sembari berbicara menggunakan bahasa yang tidak kupahami, melewati kami yang sedang bersembunyi.
Setelah situasi aman, pria besar di belakangku tidak kunjung melepas pegangannya padaku. “Permisi... apaka-“ Belum selesai aku mengucapkan sesuatu, pria itu seketika melepas pegangannya dan menjauhkan sabitnya dari leherku. Aku pun bernapas lega setelah nyawaku sudah aman. Aku melihat pria di depanku, berdiri tegak namun wajahnya tidak cukup terlihat karena tudung besarnya. “Siapa kau?” “Huh?” Aku terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. Dia menggunakan bahasa yang sama sepertiku, jadi mungkin dia juga sama sepertiku. Melihat senjata yang dia pakai sebelumnya, aku yakin bahwa itu adalah peralatan yang hanya dapat diperoleh dari gabungan mana dungeon sebagai hadiah pembasmian. Aku mencoba melangkah maju mendekatinya, namun dia juga mengambil langkah mundur menjauhiku. “Tetap di situ.”
Aku berhenti.
“Tidak, sebentar, aku ingin bertanya suatu hal.” Aku mencoba meraih dirinya, tetapi tangannya langsung menggenggam tanganku untuk menghentikan diriku menyentuhnya. “Jangan di sini....” Ucapnya lirih sembari melihat sekitar kita. “Ikuti aku.” Dia langsung berjalan menjauhiku dan aku langsung mengikuti langkah besarnya segera agar tidak kehilangan.
Kita berjalan menjauhi pohon besar dan memasuki kawasan hutan yang sangat gelap minim dengan cahaya bulan. Angin berhembus mulai menjadi dingin, dan udara semakin sesak karena semakin gelap. Aku melihat ke kanan dan ke kiri namun kabut hutan menyelimuti arah pandanganku. “Hei.” Pria besar itu memanggilku. Aku menoleh dan melihatnya sedang membuka tanaman rambat yang menutupi suatu jalan masuk. ‘Oho, jalan rahasia yaa’ batinku. Aku pun mengikuti dibelakangnya. Memasuki suatu lorong yang lebih gelap. “Sudah aman.” Ucap dirinya lalu menghidupkan obor dengan pemantik untuk menerangi terowongan. Berkat obor yang dia hidupkan, aku dapat melihat dinding terowongan dengan jelas. Batu-batu yang dihiasi dengan simbol-simbol yang tidak aku mengerti. “Apa ini?” Tanyaku pada pria itu namun tidak ada jawaban.
Terus berjalan menyusuri lorong yang berbelok-belok, akhirnya pria besar itu mengangkat sebuah batu dan memberi isyarat padaku untuk turun ke bawah terlebih dahulu. Tanpa basa-basi, aku mengikuti arahannya tanpa mengucapkan satu kata pun. Aku turun melalui tangga dan dia mengikutiku turun membawa obornya. Saat aku mencapai dasar dari tangga, aku melihat 3 lorong yang mengarah ke jalan berbeda. “Kiri” Ucap dirinya saat sudah mencapai tanah.
Aku melihat dirinya mematikan obor dan berjalan menuju lorong kiri. Aku bertanya-tanya menuju kemana lorong yang lainnya. Sesaatnya sampai diujung lorong, hanya jalan buntu yang terlihat. Aku mengerutkan keningku saat pria besar itu mendorong dinding batu di depan kita. Aku melotot saat batu tersebut sedikit demi sedikit terbuka dan menampakkan sebuah pemandangan bukit yang luas, danau dan airnya yang jernih memantulkan sinar bulan dengan bunga teratai yang cantik. Suatu rumah yang berdiri di tengahnya aku yakin adalah rumah pria di depanku saat ini. Namun pandanganku masih tertuju pada sesuatu, sesuatu yang sangat menonjol di tempat ini. “Pohon itu...” Ucapku dengan lirih, namun sepertinya pria itu mendengarku dengan jelas. “Kenapa?” Tanyaku padanya saat matanya yang dalam kegelapan tudungnya itu menatapku terus.
Tanpa disadari dia berjalan mendekatiku perlahan. Aku merasakan hawa tidak mengenakan yang keluar dari dirinya. Karena kebiasaan naluri bertahan hidup di dalam dungeon, aku langsung meraih pisau dari saku celanaku dan mengarahkan padanya. “Kamu...” Ucapnya. Aku tidak menurunkan kewaspadaanku terhadapnya walaupun dia berhenti.
‘Mungkin saja dia berbahaya, Sial, aku tidak waspada karena tadi dia menolongku.’ Monolog ku.
Aku tetap mengacungkan pisauku dan berjalan mundur perlahan. “Siapa kamu?” Tanyaku padanya. “Cepat lepas tudungmu. Jangan bersembunyi, atau aku akan membunuhmu” Ucapku mengancam dirinya.
Dia terus berdiri terdiam di sana, belum ada niatan untuk membuka tudungnya yang menutupi hampir setengah wajahnya. Karena malam hari aku kesulitan untuk melihat wajahnya. Setelah aku ingat lagi, suaranya terasa familiar seiring berjalannya waktu. Namun aku tidak boleh lengah hanya karena itu. Dalam suatu Guide, terdapat ribuan, puluhan, dan ratusan ribu orang yang bekerja, entah itu staff atau seorang hunter. Mungkin itu hanya imajinasiku saja karena sudah lama sendirian di sini kesehatan mentalku menjadi goyah, karena membutuhkan seseorang yang kukenal disisiku.
Tiba-tiba, aku mendengar dia menghela napasnya dengan sangat berat lalu membuka tudung yang menutupi wajahnya. Aku mengerutkan kening dan memiringkan kepalaku melihatnya.
“Kamu... apa kau mengingatnya?” Dia bertanya kepadaku. Tatapan matanya yang dingin dengan bekas luka robek di dahi kiri dekat dengan alis. Rambut hitamnya berkibar dengan hembusan angin malam. Mata hijaunya berkilau menatap tajam kepadaku menanti jawaban.
“Apa maksudmu?” Pertanyaannya membuatku bingung. Apa yang dia maksud dengan mengingatnya? Walaupun suaranya terasa familiar, namun....
‘Aku tidak ingat, aku tidak ingat sama sekali. Kenapa? Kenapa tiba-tiba aku tidak ingat apa pun’ Tiba-tiba kepalaku pusing, badanku ambruk lemas. Pandanganku mulai kabur karena sesak yang aku dapat.
‘Huh? Tidak! Tidak boleh! Cepat Bangun! Aku akan mati! Kenapa ini? Kenapa aku...’ Monologku dalam hati dengan sisa-sisa kesadaranku. Dalam pandangan buram aku melihatnya mendekatiku, lalu....
“Jadi kamu tidak mengingatku...”
Gelap.
Seo Hunter tidak sadarkan diri setelah mendengar apa yang diucapkannya dalam sisa kesadaranku. “Hyung.” Ucap pria tudung itu. . .
Aku mendengar suara yang sibuk di seberang kesadaranku. Saat aku tersadar, aku mendapati diriku terbangun di sebuah gubuk. Saat aku melirik ke sampingku, pria sebelumnya yang sedang sibuk di dapur sepertinya tidak menyadari kesadaranku.
“Kamu sudah bangun?” Aku terlonjak kaget karena ternyata dia menyadarinya. “Ekhem ekhem.” Aku bergerak duduk masih di tempat tidur. Aku melihat sekeliling tempat yang sedang kita tempati saat ini. Aku memerhatikan pria itu yang berjalan ke sana kemari sedang membuat sesuatu.
“Tidak usah takut, aku tidak akan membunuhmu.” Ucapnya yang mungkin menyadari gerak-gerik anehku. Aku berdeham canggung karena merasa sangat tidak nyaman dengan suasana ini.
“Apakah ini rumahmu?” Tanyaku padanya sembari hendak berdiri dari tempat tidur.
“Tetap disitu, aku hampir selesai.” Ucapnya. Aku duduk kembali dan diam seribu bahasa karena bingung topik pembahasan apa yang bagus untuk mencairkan suasana. Tidak menunggu lama, dia berjalan ke arahku membawa nampan berisi 2 mangkuk sup dan beberapa minum air hangat. Aku diam melihat hidangan yang dia sajikan dan aku melirik dirinya yang duduk setelah menarik kursi untuk mendekat ke arah tempat tidurku.
“Kenapa? Makan saja, tidak beracun.” Ucapnya lalu mengambil sup dan memakannya. Aku mengambil sendok dan menyendokkan sesuap sup ke dalam mulutku. Aku merasa masih tidak nyaman karena menyadari hal-hal yang kita alami sebelumnya. Aku memutar-mutar sendokku dengan gelisah lalu melirik pria itu.
“Kamu pingsan, sepertinya kelaparan.” Ucapnya tiba-tiba mencairkan suasana. Aku merasa malu akan pernyataan yang dia buat, namun aku tidak bisa menolak. “Te-terima kasih.” Ucapku sedikit canggung. Selama ini aku jarang mengucapkan terima kasih kepada seseorang karena biasanya aku yang mendapatkan pujian tersebut setelah menyelamatkan warga.
“Ini rumahku.... setidaknya, untuk sementara.” Lalu dia menyendokkan sup lagi ke dalam mulutnya. “Sementara?” aku menaikkan kedua alisku bertanya penasaran kepadanya. Dia akhirnya mengangkat wajahnya menatapku, lalu memberikan isyarat kepadaku dengan dagunya untuk memakan sup. Aku mulai memakan dan menikmati sup buatannya terlebih dahulu. Setelah kita berdua selesai makan, dia menatapku dengan tatapan datar. Aku pun menyadari akan tatapannya itu.
“Siapa dirimu? Apakah kamu berasal dari sini? Kenapa kamu menyelamatkanku?” Tanyaku membombardir yang membuatnya menghela napas panjang. “Sebelum itu, apakah kamu tidak mau mandi terlebih dahulu?” Dia menyodorkan handuk bersih di depanku lalu menunjuk kamar mandi di samping dapur.
Saat keluar dari kamar mandi, aku mendapati dirinya sedang menata sesuatu yang sangat familiar selama ini ke dalam lemari penyimpanan. “Hei, bukankah itu mana stone?” Ucapku langsung tanpa basa basi. Aku sudah ingin bertanya soal ini sedari tadi namun tidak dalam waktu yang tepat.
Dia melonjak kaget karena kehadiranku yang tiba-tiba di belakangnya. Dia mengerutkan keningnya dan melihat keluar jendela sesaat. “Siapa kamu? Apakah aku mengenalmu? Atau sebaliknya? Tidak tidak, apakah kamu seorang hunter dari seoul?” Rasa penasaranku amat teramat sampai lupa dengan dirinya yang hanya diam membeku bingung mendengar pertanyaanku. “Tidak, atau mungkin?” Jawabnya berputar-putar. Aku mengusap wajahku lelah dan menaruh handukku, lalu berjalan mendekatinya dengan rasa ingin tahuku.
“Jawab dengan benar. Saat ini aku butuh kepastian dengan semua peristiwa yang menimpaku secara tiba-tiba. Aku tidak tahu berada dimana, dan apa yang terjadi diluar sana. Siapa dirimu dan orang-orang sebelumnya...? Bahasa yang mereka gunakan berbeda dengan kita. Apakah aku jatuh di dimensi lain, atau sejenisnya? Aku tidak tahu.... huft...” Aku menarik dan menghela napasku berat.
Detak jantungku berdetak dengan kencang karena rasa sesak tiba-tiba di dadaku. Aku memegangi dadaku, kepalaku terasa pusing lagi. Tak lama, tangan pria itu mengusap bahuku, aku menatapnya. “Tarik napas... buang...” Aku pun mengikuti arahannya berulang kali dan setelah merasa ringan dia menyuruhku duduk dan membawakanku air.
“Jadi... kamu ingin dari mana?” Ucapnya menatapku sembari menaruh air di depanku. Aku menatapnya dengan sengit karena sikapnya yang selalu basa-basi. ‘tidak mungkin dia seorang hunter dari sikapnya’ batinku.
“Kamu hunter korea?” Ucapku mantab. Dia hanya diam menyeruput teh tidak menjawab pertanyaanku. “Lalu, dimana kita?” “Kita jatuh di Ontaris, dimana bumi yang berbanding terbalik dari tempat kita tinggal sebelumnya. Tidak ada jendela system, tidak ada internet, mana stone, dungeon, monster.... kita juga kehilangan kekuatan kita disini, jadi kita tidak bisa apa-apa, semuanya kembali lagi seperti semula.” Jawabnya semakin lirih. Aku diam melamun mendengarkan perkataannya. Jadi jendela sistem tidak bisa dibuka karena di dunia ini benar-benar dunia yang kembali seperti semula, dunia tanpa sistem.
“Berapa lama kamu disini?” “Mungkin sudah sebulan.” Jawabnya. Aku menatap matanya mencari kebenaran namun hanya tatapan datar yang dapat terlihat. Aku tidak dapat memastikan dia berbohong atau jujur kepadaku. “Kamu bisa membunuhku kalau aku berbohong. Kamu adalah Seo Hunter bukan? Hunter yang terkenal di seoul, selain itu namamu adalah Hunter yang semakin membuatmu terkenal." Aku mengangkat satu alisku karena tertegun karena omongannya tentang diriku.
"Orang tuamu seorang ilmuwan, dan kamu diberkahi dengan kemampuanmu yang luar biasa. Aku tidak percaya seorang Seo Hunter yang hebat akan jatuh di tempat seperti ini, heh.” Dia mengatakannya dengan tersenyum licik dan bangga merendahkanku, aku menatapnya malas.
“Bagaimana kamu bisa sampai disini? Apakah dunia sedang kacau?” Tanyanya. Aku mengangkat kedua alisku mendengar pertanyaannya. Aku berdecak lidah. “Yah... aku mendapat perintah untuk mengatasi dungeon break karena hunter lain tidak bisa menanganinya. Namun, sesampainya disana semuanya sudah sangat kacau. Sebagian warga belum dievakuasi dan semuanya buruk. Langit hari itu sangat hitam dan gerbang... belum sampai aku mempersiapkan diri, semua meledak dan disinilah aku saat terbangun.” Jawabku mengedikkan bahuku.
Dia menatapku dengan serius lalu meminum tetes terakhir tehnya. Dia berdiri lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari dapurnya. Aku melihat keluar jendela dan mengamati pohon yang sama besarnya seperti di tengah hutan sebelumnya.
“Bolehkah aku bertanya lagi?” Aku bertanya. Dia menoleh padaku dengan membawa sesuatu seperti mana stone di tangannya. “Pohon itu, apa itu pohon yang sama seperti di hutan sebelumnya?” Tanyaku. Dia berhenti sejenak lalu berjalan menuju kursi. “Kau tau ini?” Dia bertanya kembali padaku dengan menunjukkan sepasang mana stone dengan warna berbeda yang bersinar namun memiliki pola yang sama. Aku memiringkan kepalaku karena baru pertama kalinya melihat mana stone seperti ini. Aku meraih mana stone tersebut, dan tiba-tiba timbul percikan aneh dan pola-pola dalam mana stone bergerak melingkar. Aku yang terkejut pun menjatuhkan mana stone dan membuat mana stone kehilangan sinarnya. Kita saling menatap terkejut dengan pria di depanku setelah melihat hal aneh tadi.
“Apaa itu? Kenapa bisa seperti itu?” Tanya pria di depanku dengan matanya yang melotot tak percaya. Aku mengerutkan keningku karena bingung. “Apakah sebelumnya belum pernah terjadi seperti itu?” Tanyaku sembari memungut mana stone dari lantai. Pria itu menggelengkan kepalanya. Aku mencoba mendekatkan 2 mana stone tadi lagi, namun sinarnya belum juga kembali. Mencoba berkali-kali namun tidak ada reaksi sama sekali yang muncul.
“Kau merusaknya.” Aku menengadah melihat pria yang sedang berdiri di depanku dengan wajah cemberutnya. Namun aku yakin bahwa mana stone tidak akan rusak dengan mudah. Karena aku tidak bisa menggunakan kekuatanku di dunia ini, aku harus mencari cara alternatif. Aku melihat keluar jendela, aku sudah penasaran dengan suatu hal diluar sana. Dari sebuah pohon besar yang menarik perhatianku selama ini. Selain itu, air danau yang jernih dan tumbuhan yang tumbuh dengan subur di sini. Aku harus mencari tahu agar dapat kembali.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Kalau kau ingin keluar, tahan sampai besok dan tidurlah sekarang.” Dia menarik tanganku dan mendorong bahuku menuju tempat tidur. Dia mendorongku dan tersenyum dengan terpaksa. “Ini sudah malam, dan aku sangat lelah untuk mengawasimu. Selamat tidur.” Aku menganga dengan sikapnya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Setelah mengucapkan selamat tidur dia meninggalkanku sendirian di dalam gubuk. “Hmm? Kalau aku tidur disini, lalu kamu tidur dimana?” Dia berhenti lalu menoleh kebelakang menatapku datar dengan sangat lama. “Tidurlah.” Ucapnya sekali lagi lalu membuka pintu keluar gubuk. Aku mengerutkan kening dengan tingkahnya yang sangat aneh.
Mari kita ingat-ingat, di awal kita bertemu dia sangat dingin dan seperti ingin membunuhku. Tatapannya mata yang dia berikan padaku seperti menunjukkan persaingan. “Tapi, tiba-tiba dia menunjukkan sisi lembutnya dan baik kepadaku. Ada apa dengannya? astaga." Aku memiringkan kepalaku bingung dengan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba di waktu yang bersamaan.
Saat aku menarik selimutku, aku teringat akan sesuatu yang mengganjal. “Omong-omong, bukankah dia tadi mengatakan bahwa aku tidak mengingatnya? Setelah aku pikir-pikir, aku sama sekali tidak ingat bertemu orang menyebalkan sepertinya. Hmmm aneh sekali.” Aku terus bergelut dengan isi batinku. Aku juga mencoba menunggu dia apakah akan pulang atau tidak, dimana dia tidur, apakah dia tidur di luar? Aneh sekali. Banyak sekali keanehan di dunia ini.
Setelah lama bergelut dengan imajinasiku, aku merasa mengantuk. Selama menjadi hunter, aku dapat menggunakan kelebihan dari sistem dengan tidak merasakan kantuk saat sedang bertugas. Semakin lama semakin aku merasakan lelah pada badanku. Lalu aku mencoba menutup mataku. “Omong-omong, aku lupa menanyakan namanya...” Ucapku menggumam sebelum akhirnya larut dalam tidurku. . . . “Hei.” Aku mendengar seseorang memanggil dan menggoyangkan kakiku. “Hei, bangunlah dasar hunter sialan.” Aku pun terbangun dan duduk dengan cepat. Aku menoleh padanya dengan linglung. “Huh? Maaf aku masih mengantuk...” Ucapku sembari menggosok mataku. Sinar matahari yang cerah menerangi dalam gubuk dan kehangatan memenuhi gubuk. Aku melirik pria yang berdiri menatap aneh padaku lalu menaikkan alisku seolah bertanya ada apa.
“Ternyata kau hanyalah manusia biasa jika tanpa sistem.” Ejek pria itu dengan muka aneh yang dibuatnya. Aku kesal namun malas untuk menanggapi. “Cepatlah bangun, sarapan sudah jadi.” Dia duduk di kursi meja makan dan menyantap sarapannya. Aku berjalan mendekatinya dan melirik ke atas hidangan. “Sup ikan pagi hari? Huh?” Ucapku sembari menari kursi. Pria itu menatapku tajam lalu mengenduskan napas. “Kalau tidak mau, jangan dimakan.” Dia mengangkat mangkuk sup ku menjauh. “Tidak, tidak, terima kasih haha.” Ucapku dengan tawa canggung. Dia melirikku dengan tajam lalu menaruh mangkuk sup ku lagi.
Kami berdua makan bersama di pagi hari itu. tanpa ada obrolan yang diucapkan, hanya suara gesekan sendok dan mangkuk dengan di bumbui suara merdu burung yang bernyanyi. Aku menoleh keluar melihat burung-burung yang bertengger di atas pohon. Langit yang cerah, sinar matahari yang hangat, dan udara yang segar. “Untuk yang pertama kali, bukan?” Ucapnya. Aku menoleh untuk menatapnya, “Merasakan ketenangan, dan kedamaian. Tanpa gangguan dari monster-monster atau dungeon break yang tiba-tiba. Melihat dan mendengar burung-burung yang bernyanyi dengan udara yang segar, itu sangat jarang ditemukan disana.” Ucapnya sekali lagi. Aku menoleh lagi melihat pemandangan luar. Sangat asri dengan banyaknya tanaman, dan pepohonan. Tidak ada polusi dari transportasi, gedung-gedung, maupun orang yang berlalu lalang. Layaknya dunia lain... “Yeahh.. kau benar...” Aku tersenyum dengan kedamaian yang aku dapatkan saat ini.
“Omong-omong...” Aku menoleh pada pria yang sedang menyantap hidangannya itu. “Aku belum tahu, siapa namamu?” Tanyaku padanya. Dia tertawa kecil lalu meletakkan sendoknya. Aku menyodorkan tanganku padanya mengajaknya bersalaman. Dia hanya diam menatap, lalu dengan ragu-ragu meraih tanganku. “Chul... Yeon Chul.” Sepertinya dia malu karena tidak menatap diriku. Aku tertawa melihat sikapnya yang selalu berubah-ubah, sangat lucu. “Baiklah, Yeon Chul. Mohon bantuannya untuk saat ini.” Aku tersenyum lebar melihat wajahnya yang semakin merah seperti tomat. Dia terkadang sangat dingin, namun terkadang lucu dan baik. . Kami berjalan menuju halaman gubuk untuk melakukan aktivitas kita. Chul selalu menghilang setelah kita keluar, entah apa yang dia lakukan, aku tidak terlalu penasaran. Sudah seminggu aku tinggal disini, dan aku masih mencoba mencari tahu dan meneliti apa saja yang dapat digunakan sebagai petunjuk. Dari air danau, bunga teratai, tumbuh-tumbuhan liar, buah-buahan, dan pepohonan. Setelah aku melihatnya, semua mempunyai karakteristik yang sama seperti di bumi tempat tinggalku. Aku masih belum mempunyai ide di mana kita berakhir. Apakah masih dibumi namun berbeda negara atau berakhir di dunia lain.
Walaupun sudah bertanya kepada Chul yang sudah 1 bulan berkelana sendirian, dia juga tidak tahu pasti tempat-tempat di sini. Yang aku ingat dari perkataannya saat itu adalah.... “Sangat primitif. Aku pernah berkelana dan memasuki sebuah pasar, aku mendapati mereka semua menggunakan cara-cara manual. Benar-benar primitif.” Aku terkekeh jika mendengar ucapan itu darinya yang terdengar sangat mengejek. Aku sudah menduga bahwa di belahan dunia ini, semuanya menjadi seperti semula, menjadi manual karena jendela sistem yang tiba-tiba menghilang dan kekuatanku yang tidak bisa digunakan. Tidak ada penambahan buff stat, bahkan mana stone tidak berharga di sini.
Aku menoleh kesana kemari mencari dimana Chul pergi namun tidak terlihat batang hidungnya. Aku pun menyusuri hutan belakang gubuk, tempat Chul biasanya pergi. “Yeon Chul~” Aku menaggilnya, namun tidak ada sahutan. “Yeon Chul!”Aku sedikit berteriak di batas masuk hutan. Suaraku bergema namun masih nihil, tidak ada sahutan darinya. Aku pun mencoba memasuki hutan dengan memanjat pagar kayu untuk pembatas masuk hutan.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Ucap seseorang secara tiba-tiba menarik bahuku kembali. Aku terkejut lalu segera menoleh ke belakang. “Chul?” Ucapku kaget. Di tangannya membawa nampan berisi sayuran dan umbi-umbian. “Aku bertanya apa yang kau lakukan?” Nada bicara Yeon Chul saat ini sangat tidak mengenakkan untuk didengar. Sangat dingin. “Aku mencarimu, dari mana saja kau?” Aku tertawa kecil dengan canggung, namun dia hanya menatapku dengan mata hijaunya yang datar.
“Aku ada disana.” Ucapnya menunjuk kebun samping gubuk dengan kepalanya. “Dan... jangan coba-coba memasuki kawasan itu.” Setelah mengucapkannya dia lalu menarik bahuku menjauh dari pagar. Aku mengangguk dan berjalan mengikuti dirinya memasuki gubuk. Aku memiringkan kepalaku aneh dan menoleh ke arah hutan lagi.
Melihat reaksi Chul yang sangat tidak ingin aku pergi ke sana membuatku sangat penasaran. Sejujurnya aku juga terkadang menyadari keanehan dengan hutan belakang gubuk selama ini. Dibandingkan dengan hutan yang aku lewati bersama Chul sebelumnya, hutan belakang gubuk terlihat sangat gelap dan memancarkan aura yang sangat menakutkan. “Apa yang kau lakukan? Ayo masuk.” Panggil Chul dan aku segera menyusulnya. . Hari berganti hari, hari berganti minggu. Sudah hampir 1 bulan aku tinggal di sini dan aku mulai merasakan kejenuhan. Bagaimana Chul bisa bertahan di sini selama 2 bulan terakhir?.
Aktivitas yang kita lakukan hanyalah bangun tidur, berolahraga secukupnya, berkebun, istirahat, memasak, dan tidur. Bahkan Chul tidak mempunyai hewan peliharaan yang bisa mencairkan suasana. Hanya burung yang bernyanyi, atau melihat tupai-tupai yang melompat di pepohonan.
“Syukurlah Chul mempunyai beberapa buku.” Aku berguling di tempat tidur dengan buku bacaan ditanganku. Aku melirik Chul yang sedang menyesap teh, duduk di teras gubuk. “Hei, Chul. Darimana kamu mendapatkan buku-buku ini? Aku lihat orang-orang disini berbeda bahasa dengan kita, namun ini adalah buku berbahasa korea...” Tanyaku sembari membolak-balik sampul buku dan menatap Chul.
Chul menoleh padaku dan menghendikkan bahunya, “Aku secara tidak sengaja menemukan tumpukan buku-buku itu di pasar lokal. Aku langsung membeli semua itu, namun pedagang di sana hanya memberikannya padaku secara sukarela.” Ucapnya sembari memasuki gubuk. Dia menuju rak-rak buku dan mengambil salah satunya.
“Namun semua buku ini sudah sangat terlihat usang. Benar-benar seperti sudah sangat lama. Lihat ini, bagian ini terdapat sobekan yang sudah sangat tua, dan beberapa buku terdapat tanah liat atau bekas rayap buku.” Dia menunjukkan padaku buku-buku yang rusak dan usang. Aku pun seketika berdiri dan berjalan cepat menuju rak buku. Entah bagaimana tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikiranku. Yeon Chul yang melihat diriku hanya menatap aneh pada diriku.
Aku mencoba melihat satu persatu judul buku, dan membukanya. Saat aku menemukan suatu buku, mataku melotot sedikit tidak percaya. “Chul...” Panggilku. Dia menoleh dan memiringkan kepalanya. “Katakan padaku, sudah berapa bulan kamu disini?” Tanyaku. “Kalau dihitung dari awal kita bertemu, sudah sekitar 2 bulan lebih...?” Jawabnya. “Saat kamu terjatuh, dan akhirnya tersadar di tempat ini... apakah kamu langsung berkelana?”
Chul yang menyadari keanehan dari pertanyaanku mengerutkan keningnya. Berjalan mendekatiku dan meraih buku dari genggamanku. Saat dia mencoba membaca buku, dan akhirnya berhenti di satu halaman, dia terdiam. Dia menatap datar lembaran di dalam buku itu, tidak ada satu kata pun yang keluar dari dirinya. Aku mengenduskan napasku berat dan mengusap wajahku dengan kasar.
“Apa maksudnya ini?” Akhirnya dia mengucapkan satu patah kata dengan nada tidak percaya. Suaranya gemetar, dan tangannya meremas buku itu. Aku juga sama seperti dirinya yang belum sepenuhnya bisa mencerna semuanya saat ini. Aku melihat Chul yang masih membolak-balik halaman ke halaman namun dia hanya bisa terdiam, menatap tak percaya. “Jadi... Apakah kita sudah mati?” Ucap Chul saat itu dengan suara rendahnya. . . .