# 2화 — Chapter 2 : New Things
Suasana rumah sudah tidak seperti sebelumnya. Setelah kita mendapati sebuah buku yang membawa berita kematianku. Chul tidak banyak bicara, dia hanya menghabiskan harinya tidur di sofa yang sekarang menjadi tempat tidurnya setelah dipindahkan. Aku masih ingat apa yang dia katakan waktu itu dan membuat dirinya menjadi gelisah.
"Apa yang kamu bicarakan? Disini hanya tertulis kematianku, mengapa menjadi kita?" Ucapku. "Kita terdampar di planet aneh ini bersama. Jika kamu mati, bukankah itu berarti aku juga mati?" Jawab Chul dengan panik saat itu.
Aku melihat punggungnya dengan tatapan malas dan menggelengkan kepala. "Siapa yang dikabarkan mati, siapa yang merenungi nasib?" Monologku lirih. Di tengah dinginnya angin berhembus, aku berniat membuat suatu minuman untuk menghangatkan diri. Namun setelah berkali-kali memastikan, ternyata kita kehabisan persediaan bahan makanan. “Hei Chul, teh dan bahan lainnya... kita kehabisan mereka.”
Chul menoleh dan berjalan keluar rumah. Aku menengok pada dirinya melewati jendela yang berjalan menuju kebun. Dia berhenti lalu kembali masuk. “Kita kehabisan mereka juga di kebun. Ikut aku.” Ucap Chul sembari memakai jubah dan tudung besarnya. “Ke mana?” Tanyaku kepadanya. Dia melemparkan jubah dan tudung lainnya kepadaku, menyuruhku untuk memakainya.
“Pasar lokal.”
Kita berjalan berdua melewati kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang dan para pedagang yang sibuk menawarkan dagangan mereka. Ini adalah pertama kalinya aku memasuki sebuah pasar yang memberikan nuansa seperti ini. Aku hanya mengikuti kemana arah Yeon Chul berjalan dengan membawa satu kantong Mana Stone. Aku mengamati keramaian yang ditimbulkan oleh pasar. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun sangat terlihat mereka sedang melakukan suatu negosiasi berbelanja. Tidak ada penerjemah bahasa yang biasanya aku gunakan karena jendela sistem tidak berfungsi lagi. Namun setidaknya bersyukurnya aku bertemu dengan Chul, karena dirinya memahami sedikit bahasa mereka, dan dapat menjelaskannya kepadaku apa yang tidak aku ketahui.
“Hei, sebenarnya kemana kita akan pergi? Dan mengapa dengan Mana Stone itu?” Tanyaku kepada Chul. Dia tidak berhenti berjalan, dan aku tetap mengikuti di belakang punggung besarnya. “Kau lihat itu?” Chul menunjuk ke arah orang-orang yang sedang bernegosiasi. “Disini, tidak ada uang. Jadi, kita menggunakan sistem barter untuk mendapatkan sesuatu. Uang tidak memiliki nilainya di sini, tidak, mereka tidak mengenal uang.” Ucapnya lalu melirikku. “Lalu, Mana Stone ini aku gunakan untuk barter dengan bahan makanan yang ingin kita beli.” Dia menambahkan dan lanjut berjalan.
Aku mengangguk paham dengan perkataannya. Aku sadar bahwa sedari tadi aku tidak melihat orang-orang menyerahkan koin atau selembar uang untuk membeli sesuatu. ‘Hmmm, aku merasa sangat bodoh disini.’ Batinku meringis.
Yeon Chul berhenti di sebuah toko yang memiliki spanduk bertuliskan aksara yang aku kenali. “Huh?” Celetukku. Yeon Chul tidak menanggapi diriku dan fokus melihat-melihat barang dagangan yang tertata rapi di depan toko. “Hei, apakah pemilik toko ini adalah orang yang sama dengan kita?” Bisikku pada Chul.
Aku berjalan mengelilingi seluruh toko dan melihat banyak barang yang sangat familiar. Barang-barang yang bertuliskan dengan aksara korea, dan bahkan beberapa karung besar berisi uang koin 100 won. “Aku tidak yakin. Sepertinya dia hanya orang biasa yang terseret secara acak kesini.” Ucap Chul yang tiba-tiba berdiri di sampingku. “Pemilik toko ini hanyalah pria tua yang tinggal dengan cucunya. Selama ini aku membeli barang-barang disini, karena... setidaknya itu melegakan, bertemu orang yang memahami kita.” Nada bicara Chul sempat ragu dan lirih.
Aku mengerti bagaimana perasaannya yang hidup sebatang kara di sini, berkelana sendirian. Aku menepuk dan mengusap punggungnya dengan lembut. Sebagai hadiah dan penghargaan dirinya yang sudah berjuang sendirian selama ini. “Hebat, kamu sudah berjuang selama ini adikku. Huhuhu...” Ucapku dengan dramatis selayaknya seorang kakak yang bangga kepada adiknya. “Apa yang kamu lakukan! Menyingkirlah dariku!” Chul mengibaskan tanganku dan berjalan menjauh dengan malu. Aku tertawa melihat telinganya yang berubah menjadi merah. Aku mengejarnya untuk memberikan lelucon lagi, dan dia terus berlari menjauh dariku.
Tiba-tiba, seseorang keluar dari arah dalam pintu yang menghubungkan toko. Chul langsung berdiri tegak dan berjalan kearahnya. Mereka saling merangkul dan bertegur sapa dengan ramah. Saat itu, pertama kalinya aku melihat Chul tersenyum dengan cerah. Senyum ramahnya yang tidak pernah dia perlihatkan kepadaku. ‘Hmmm? Anak itu ternyata bisa tersenyum juga, huh?’ Aku tersenyum melihat pemandangan itu.
Di samping itu, pria tua yang sedang berpelukan dengan Chul langsung melihatku dengan wajah terkejutnya. Seolah-olah tidak percaya, dia berjalan dengan perlahan menuju arahku dan berusaha menggapai tanganku. Aku bertatap muka pada Chul dengan mata yang dipenuhi dengan kebingungan. Aku berdiri dengan bingung dalam situasi ini. Saat pria tua itu menjangkau tanganku, aku terlonjak kaget.
“Huh? A-apakah anda menginginkan sesuatu dariku?” Tanyaku pada pria tua yang terus menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Chul berjalan menuju arah kita dan menarik bahuku mendekat. Aku terkejut dan menengadah melihatnya. Chul dan pria tua itu saling menatap tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.
“Kakek, aku pulang- Kakek! Oh my, maafkan aku. Kakekku memang terkadang seperti ini. Dia sering mengira orang-orang adalah kenalannya. Maafkan aku, haha haha.” Ucapnya dengan tertawa canggung.
Seorang perempuan muda yang terlihat berusia sekitar 18 tahun itu, memasuki toko dan langsung merangkul pria tua di depanku. Pria tua itu terlihat sangat bingung saat dirinya di seret menuju dalam rumah oleh perempuan tadi. Aku menjadi merasa bersalah karena perubahan suasana ini.
“Apa itu tadi?” Tanyaku pada Chul yang hanya diam dan berjalan ke arah benih-benih sayuran tanpa menghiraukan pertanyaanku. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Ucapku dengan penasaran. “Dia memang terkadang seperti itu, jadi itu bukan masalah.” Jawab Chul dengan acuh tak acuh.
Tak lama kemudian, seorang perempuan sebelumnya keluar menuju toko dengan ragu-ragu mendekati kami. “Aku akan membeli masing-masing ini satu karung.” Ucap Chul mencairkan suasana. Perempuan itu mengangguk dan menjumlah barang-barang yang akan kita beli, membungkusnya dan menukarkannya dengan mana stone milik kami. “Terima kasih, selamat berkunjung kembali. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap perempuan itu menunduk pada kami dengan ramah, seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku pun juga memilih untuk menutup mulut.
Kita berdua meninggalkan toko tanpa mengungkit kejadian sebelumnya sampai di pertengahan pasar. Di tengah keramaian pasar, Chul berhenti dan membuka mulutnya. “Jika saja..” “Huh? Aku tidak mendengarm-“ Ucapku dengan bisingnya pasar. “Jika saja, benar terjadi sesuatu kepadamu disana... bagaimana perasaanmu? Tidakkah kau merasa aneh?” Tanya Chul acuh tak acuh memotong kata-kataku. "Di sana?" Tanyaku lirih yang sangat bisa dipastikan Chul tidak akan bisa mendengarnya.
Melihat punggung besar Yeon Chul yang tidak menoleh kepadaku ditengah lalu-lalang orang. Dalam sepersekian detik aku paham apa yang dia maksut. Membahas kabar kematianku di bumi, bagaimana perasaanku? Sekarang? “Haha, apa maksutmu... haha.. heh...” Ucapku tertawa dengan canggung. Aku pun tertunduk diam.
Aku tidak tahu...
Aku tidak peduli.
Aku tidak terlalu memikirkannya, apakah kematianku sebegitu pentingnya untuk disayangkan? Aku diam, tidak menanggapi perkataan Yeon Chul. Selama sisa hidupku yang tidak berharga dan tidak ada artinya ini, aku gunakan untuk mengabdikan kepada negara, sebagai hunter untuk melindungi nyawa seluruh warga kota.
Namun, bagaimana perasaanku?
Setelah kematian orang tuaku akibat Dungeon Break yang terbuka dengan anehnya di laboratorium, aku hanyalah seseorang yang berjalan tanpa perasaan, hasrat, dan keyakinan. Bak boneka yang digerakkan di atas panggung, aku hanya bergerak untuk menyelesaikan tugas yang sudah diberikan kepadaku.
“Seo Hunter.” Panggil Yeon Chul.
Badan tinggi besarnya yang tertutupi dengan jubah dan tudung coklat berkibar dengan hembusan angin. Mata hijaunya yang mengkilap, menatapku dengan tajam dan seksama namun memberikan kesan lembut secara bersamaan.
Tiba-tiba dia mengambil langkah besar menuju ke arahku. Tangannya mendarat dengan lembut di pucuk kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Yeon Chul dengan tingkah laku anehnya itu, sekarang menepuk kepalaku dan tersenyum dengan lembut. Seperti sadar akan ekspresi yang aku tunjukkan, Yeon Chul tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia ucapkan selama ini.
“Kamu sudah berjuang keras selama ini.”
Tanpa disadari, air mata mengalir di pipiku. Aku menunduk malu dan menyeret tudungku maju untuk menutupi seluruh wajahku. ‘Huh? Sialan, kenapa ini? Kenapa aku menangis?’ batinku sembari mengusap air mataku yang tidak kunjung berhenti.
Usapan Yeon Chul tidak berhenti dengan tepukan-tepukan lembut di kepalaku. Tiba-tiba dia menyeret tanganku ke samping toko yang tidak di lalui orang-orang dan berhenti disana. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, aku yang tidak kunjung berhenti menangis dan Yeon Chul menutupi diriku dari pandangan orang-orang. Aku menyadari bahwa hal-hal yang terjadi disini, dan apa yang aku rasakan sekarang adalah hal baru dan tidak biasa aku dapatkan selama sisa hidupku selama ini. Akhirnya, kita hanya berdiam diri, menghabiskan waktu disana sampai cakrawala mulai memerah.
Kala senja mulai menyapa, langit berubah warna menjadi jingga. Diikuti suara deras air sungai dan gemericik air menetes di bebatuan. Di kala remang ini, suasana terasa sangat damai. Aku duduk merenung menatap pantulan bayanganku di jernihnya air mengalir. Melihat diriku yang saat ini tidak bisa melakukan apapun, membuat tidak berharganya diriku bertambah. Terjebak di suatu tempat yang aneh dan tidak kukenal. Berusaha bertahan hidup dengan apa adanya dan berusaha keras tanpa sistem yang menolong. Semua ini sangat baru untukku, namun, aku tidak dapat menolong apa pun dan siapa pun. Baik sebelumnya maupun saat ini. Keinginan, masa depan, dan orang tuaku...
"Ambil ini." Tiba-tiba Yeon Chul berdiri disampingku dengan menyodorkan sebuah gelas teh hangat. Dia duduk di sampingku dan menyesap tehnya sesekali. Aku menatap kosong ke arah air sungai yang tak jauh dari rumah.
Sniffle
"Apakah kau sudah merasa baik?" Tutur Chul mencairkan suasana. Aku tidak menoleh dan meletakkan kepalaku di lutut kakiku yang tertekuk. "Wahh, Seo Hunter... kau benar-benar hanya menusia biasa tanpa sistem, Hahaha." Yeon Chul tertawa dan menyeruput teh nya lagi. "Sepertinya diriku lebih unggul saat ini jika di bandingan dengan dirimu. HAHAHA" Yeon Chul tertawa dengan puas.
Aku tidak menyanggah kata-katanya, karena itu benar. Walaupun aku adalah seorang anak ilmuwan jenius di Korea, aku bukanlah apa-apa. Aku tidak bisa apa-apa, dan semuanya tidak berjalan sesuai keinginanku. Meskipun orang tuaku selalu mendukungku, namun tekanan perasaan ini yang selalu aku sembunyikan menghalangi diriku. Di tengah sunyi dan dinginnya angin mulai berhembus, tiba-tiba... "Maafkan aku." Aku terdiam sejenak lalu menoleh padanya. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu." Ucap Yeon Chul tiba-tiba. "Saat itu, aku lumayan terkejut dengan melihat berita kematianmu yang membuatku memikirkan hal buruk lainnya. Apakah aku juga mati? Apakah tempat ini adalah surga, tempat peristirahatan terakhir, atau semacamnya? Aku memikirkan hal-hal itu selama ini." Tutur Yeon Chul.
Giggle Giggle
"Huhh? Kenapa kamu tertawa!" Ucap Yeon Chul bingung. Aku tertawa mendengar perkataannya. Aku mengusap air mataku dan terus terkekeh melihat wajah cemberut dan malu Yeon Chul saat ini.
"Oleh karena itu..." Chul melanjutkan yang membuatku melirihkan kekehan. "Saat diriku melihatmu yang acuh tak acuh dengan hidupmu, aku mulai bertanya-tanya. Mengapa dirimu bisa setenang itu? Mengapa dirimu seakan-akan tidak mempermasalahkan berita kematianmu? Mengapa dirimu diam saja? Aku penasaran dengan itu."
Aku terdiam dari kekehanku. Aku berhenti dan menatap Yeon Chul yang sedang menghindari tatapanku. Aku menghela nafas panjangku dan menatap jernih air lagi.
"Chul... Yeon Chul... Nama yang sangat cocok untukmu... Apakah dirimu tahu siapa nama asli, yang diberikan orang tuaku?" Ucapku sembari melempar batu ke dalam sungai.
Blupp!
"Seo Bong-gu... itu namaku. Hahaha." Angin berhembus mengusap pipiku. "Aku merasa namaku terlalu bagus untuk seseorang yang tidak dapat melakukan suatu hal dengan baik... aku selalu berusaha keras selama ini. Berkah? Anggap saja seperti itu untuk dirimu, namun... tidak bagiku." "Namun kamu adalah Seo Hunter, hunter no 1 di Korea." Sanggah Yeon Chul. Aku terkekeh mendengar tutur kata Yeon Chul. Aku menatap dirinya dengan lembut dan dia akhirnya menoleh padaku.
"Hmm? Itu bukan pujian, bukan?" Tanyaku dengan senyum lebarku. Yeon Chul menatapku aneh lalu menghindari tatapan mataku. "Mengapa kau berpikir seperti itu? Banyak orang diluar sana yang ingin menjadi sepertimu." Tanya Yeon Chul sembari melempar batu dengan lurus yang akhirnya memantul-mantul 3 kali di atas air sebelum tenggelam.
"Mari kita lihat~ Menjadi hunter No.1 itu bukan capaian terbesar di hidupku, dan aku tidak terlalu menghargainya, untuk sekarang." Aku melihat langit yang sudah mulai petang, menunjukkan bintang-bintang dan bulan sabit yang menghiasi langit. "Kenapa?" Tanya Yeon Chul. Aku menoleh kepadanya yang sedang menunduk. "Chul, berapa umurmu saat ini?" Tanyaku. "22." "Kalau begitu, saat itu aku lebih muda darimu. Saat kecil aku belum menyadarinya, namun saat aku memasuki bangku sekolah menengah atas, aku sadar bahwa aku terlalu banyak menjadi beban selama ini."
"Orang tuaku seorang ilmuwan yang sangat jenius, namun diriku tidak mencerminkan sebagai seorang anak ilmuwan. Aku selalu gagal, dan tertinggal dari teman-temanku. Diriku yang sakit-sakitan dan selalu menghalangi orang tuaku, aku baru menyadarinya saat ada seseorang yang menyayangkan diriku menjadi anak mereka."
Petang itu jatuh dengan muram. Langit meredup, dan bersama itu, perasaan sendu merayap, membungkus suasana dalam melankoli yang serius dan dingin. "Dungeon Break terjadi, dunia berubah saat aku di tahun terakhir sekolah waktu itu. Dan akhirnya, inilah aku mejadi seorang Seo Hunter... yang tidak pernah aku bayangkan sekali pun. Penghargaan, pujian, dan kehormatan... bahkan seseorang yang tiba-tiba mengaku sebagai teman-temanku, yang tidak pernah aku punya sebelumnya. Sangat lucu."
Yeon Chul terlihat menoleh padaku dengan cepat sebelum menatap air sungai yang jernih dan mengalir dengan tenang.
"Sesaat, aku merasa senang dan bangga dengan pencapaianku saat itu, sampai akhirnya aku dibutakan dari kenyataan yang sempat aku lupakan dengan keterbatasanku. Dan semua itu kembali setelah kematian orang tuaku. Aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa jika bukan karena mereka sebelumnya. 'Bagaimana jika aku bukan anak mereka? Bagaimana jika aku bukan Seo Hunter? Apakah orang tuaku benar-benar bangga mempunyai anak sepertiku? Aku bertanya-tanya seperti itu setiap hari."
Yeon Chul tidak bersuara. Angin malam yang dingin berhembus menyelimuti kita di tengah langit petang. Perasaan campur aduk yang saat ini kita rasakan, tidak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu.
"Sampai akhirnya aku terseret kesini, dunia tanpa sistem, tanpa kekuatan, dan pertolongan apa pun untuk menyembunyikan keterbatasanku. Di sini, aku sadar, bahwa aku benar-benar tidak dapat diandalkan."
Aku menghela nafas panjang yang berat. Dadaku mulai terasa sesak seperti dahulu, ya, seperti diriku yang sebenarnya. Aku menggeret bajuku untuk menutupi tubuhku yang mulai terasa dingin menerpa. Tiba-tiba sebuah tudung coklat jatuh dipundakku. Tanpa menoleh, bayangan yang ditimbulkan dari air jernih sudah menjawab. Aku tersenyum hangat.
"Terima kasih, Chul. Karena dirimu aku tetap bisa bertahan disini."
Kepalaku terasa berat dengan tekanan tangan Chul yang menghentikan diriku untuk menoleh padanya.
"Jangan katakan hal seperti itu. Itu sangat tidak cocok untukmu dengan wajah seperti itu." Ucap Yeon Chul acuh tak acuh yang membuatku tertawa lagi.
Setidaknya, aku bersyukur...
"Walaupun aku mati, dan berakhir terjatuh di planet aneh ini. Aku senang dengan semua hal baru disini. yang tidak membuatku terlihat sebagai orang yang tidak berguna. Dan begitu juga aku bertemu dengan dirimu..." Tatapku lega kepada Yeon Chul.
Dengan cepat, tangan Yeon Chul mendorong wajahku, dan tangan besarnya menutupi wajahku.
"Sialan! Sudah aku bilang, jangan mengatakan hal-hal aneh seperti itu! Aku pergi!" Gerutu Yeon Chul dengan wajah merahnya. Aku tertawa terbahak-bahak melihatnya berjalan cepat menuju rumah.
"Heyyy~ Kembalilah kesini, ahahaha!" Teriakku padanya yang semakin menjauh. "Matilah kedinginan di situ!" Ucapnya dengan mengacungkan jari tengahnya padaku. Aku semakin tertawa melihat tingkah lucunya.
"Dasar bodoh, tidak dapat diandalkan? Kau benar-benar melupakan segalanya. Bodoh sekali, Seo Hunter." Monolog Yeon Chul di jalan pulangnya.
Malam menyelimuti Ontaris dengan kegelapan yang pekat. Hujan gerimis membentur atap jerami gubuk, menciptakan ketukan irama yang damai. Di depan perapian yang menyala hangat, kami berdua duduk bersampingan, membakar potongan ubi kayu hasil buruan siang tadi.
"Sebelum terlempar ke sini, apa yang paling ingin kamu lakukan kalau tidak menjadi hunter?" tanya Yeon Chul sambil membalik ubi di atas bara api. Aku menatap kobaran api jingga di depan kami, berpikir sejenak.
"Aku lupa," bisikku jujur. "Aku dibangunkan sebagai hunter saat usiaku masih tujuh belas tahun. Sejak hari itu, hidupku hanya berisi jadwal latihan, ekspedisi dungeon, dan wawancara media. Aku bahkan tidak tahu apa hobi favoritku atau sup jenis apa yang paling kugemari."
Yeon Chul tertawa kecil, sebuah tawa tipis yang jarang sekali ia perlihatkan. "Kalau begitu, mulailah mencari tahu di sini. Di Ontario, kamu punya waktu seumur hidup untuk mencari tahu apa yang kamu suka."
"Bagaimana denganmu, Chul?" tanyaku menatapnya. "Kenapa kamu selalu tampak begitu siap menghadapi tempat ini? Kamu tidak merindukan Bumi?"
Pandangan Yeon Chul menerawang ke arah bara api yang memercikkan bunga api kecil. "Di Bumi, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Tempat itu penuh dengan hiruk-pikuk dan ketakutan akan monster. Di sini, meski hidup kita primitif dan penuh kerja keras, setiap suap makanan yang kita makan terasa nyata. Aku tidak perlu khawatir terbangun oleh sirine bahaya kota."
Keheningan kembali melanda, namun kali ini bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan penuh kesepahaman di antara dua jiwa yang sama-sama terluka oleh masa lalu.
Di balik dinding gubuk yang sederhana ini, aku mulai menyadari sesuatu, kehilangan kekuatan sihir dan status pahlawan bukanlah sebuah hukuman, melainkan takdir yang memberiku kesempatan kedua untuk mengecap arti menjadi manusia seutuhnya.
Pagi hari di Ontaris selalu datang dengan cara yang asing. Tidak ada suara alarm digital dari ponsel, tidak ada notifikasi antarmuka sistem yang melayang di udara memberi tahu perkiraan cuaca atau buff harian. Yang ada hanyalah aroma dingin embun pagi yang menyusup lewat celah papan gubuk dan rasa pegal di tulang belakangku.
"Hup..."
Aku mencoba mengangkat sebuah batang kayu gelondongan di samping gubuk. Napasku langsung memburu. Keringat dingin menetes dari dahiku hanya dalam hitungan detik. Dulu, ketika stat Kekuatan (Strength) milikku mencapai angka tiga digit di bawah naungan sistem hunter, melempar truk trailer seberat sepuluh ton adalah hal yang setara dengan melempar bola kasti. Namun sekarang, tanpa stat buff dan aliran mana di dalam pembuluh darah, mengangkat gelondongan kayu seberat tiga puluh kilogram saja membuat otot lenganku bergetar hebat.
"Gunakan tumpuan kakimu, bukan punggungmu, Bong-gu." Suara berat Yeon Chul mengejutkanku. Pria itu keluar dari dalam gubuk sambil membawa sebilah kapak kayu berlapis baja kusam di bahunya. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik canggungku.
"Aku biasa menghancurkan batu seperti ini hanya dengan kibasan tangan," gumamku sambil melepaskan pegangan kayu itu. Kayu itu jatuh menimpa tanah dengan dentuman berat. Aku menyeka keringat di pelipis.
"Sensasi tubuh yang lambat dan rapuh ini... menyiksa sekali." Yeon Chul berjalan mendekat, meletakkan kapaknya di atas tunggul kayu besar.
"Itu karena otakmu masih berpikir seperti seorang hunter nomor satu, bukan manusia," katanya pelan. "Sistem di Bumi menipu persepsimu tentang rasa sakit dan keterbatasan. Di sini, kalau kamu memaksakan ototmu tanpa teknik yang benar, kamu akan cedera selama seminggu. Dan cedera di Ontaris berarti kamu tidak makan."
Ia mengulurkan segelas air herbal pahit padaku. Aku menerimanya, menyesap rasa pahit yang membakar tenggorokan.
"Berapa lama kamu butuh waktu sampai terbiasa dengan tubuh tanpa mana ini, Chul?" tanyaku sambil memperhatikan jari-jarinya yang penuh kapalan bekas kerja keras tanpa bantuan pemulihan sihir (healing magic).
Yeon Chul menatap langit Ontaris yang kebiruan tanpa awan. "Dua bulan pertama adalah neraka. Setiap malam tubuhku gemetar karena dorongan kecanduan energi mana. Tapi begitu kamu sadar bahwa tidak ada monster atau kuota kuil yang harus kamu kejar, rasa lelah itu berganti menjadi rasa aman."
Melihat Yeon Chul yang sangat bugar dan terlihat sangat bahagia menandakan dirinya sangat menyukai dan menikmati hidup di dunia tanpa sistem ini. Perjuangannya untuk bertahan hidup saat terlempar ke tempat ini, sendirian tanpa seseorang yang dia kenal dan tanpa bantuan sedikit pun membuat dirinya menjadi laki-laki dewasa.
Kluk! Kluk!
Bunyi logam menembus tanah, Yeon Chul dengan cangkulnya menyebar benih-benih sayuran dengan semangat. Dia terlihat sangat bahagia dengan aktivitasnya. Aku terkekeh melihatnya dari atas tangga sembari memanen buah persik yang tumbuh di selatan rumah.
Tanah di sini sangat luas, mungkin sekitar 2-3 hektar. Chul mengatakan bahwa dia sudah memastikan tidak ada yang mempunyai tanah tersebut, yang berakhir di akui sisi dan membangun rumah dan beberapa kebun di tanah ini.
"Apakah sayuran di kebun belakang rumah sudah dipanen?" Ucap Yeon Chul secara tiba-tiba di bawah tangga. Aku terkejut melihatnya yang berdiri mengusap keringatnya menatapku dengan tanpa rasa bersalah.
"Fiuhh~ Tidak bisakah dirimu memberikan tanda-tanda kehidupan? Jangan seenaknya muncul seperti itu!" Bentakku kesal yang tidak perlu karena dia tidak berniat menghiraukan.
"Sudah di dapur. Apakah kau sudah selesai? Jeruk di utara sepertinya sudah waktunya di panen. Ambil mereka sebelum mereka terjatuh." Ucapku sembari melanjutkan aktivitasku.
Tanpa mengucapkan apapun, Yeon Chul berjalan dan mengangkat keranjang untuk memanen jeruk. Aktivitas kita hari ini adalah menanam, dan memanen. Dari berbagai sayuran, dan buah-buahan yang sebagian akan kita bawa ke pasar lokal untuk menukar dengan barang yang kita butuhkan.
Saat aku berjalan menuju rumah dengan membawa keranjang persik, aku berhenti di bawah pohon besar depan rumah. Pohon itu, pohon yang sama persis seperti pohon di tengah hutan saat pertama kali aku bertemu dengan Yeon Chul. Ada beberapa pertanyaan terkait pohon ini yang sangat ingin ku ketahui. Pohon yang sangat besar, tidak diketahui jenisnya, dan tidak pernah layu. Daunnya tidak pernah gugur meskipun diterpa angin yang berhembus kencang. Aku mencoba mencari tahu dan pernah sesekali bertanya kepada Chul, namun dia juga tidak mempunyai ide sama sekali terkait hal ini.
Saat aku mencoba ingin menelusuri pohon yang sama di tengah hutan saat itu, Yeon Chul dengan keras melarangku keluar ke sana. Aku menjadi semakin penasaran mengapa Yeon Chul menggunakan kata-kata keluar ke sana, bukannya lebih tepat jika kita memasuki hutan daripada keluar? Akhirnya aku mengesampingkan niatku untuk kesana karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti terakhir kali. Orang-orang aneh yang membawa obor dan senjata seperti mencari sesuatu.
'Untung saja Yeon Chul menyelamatkanku saat itu.' Batinku. Aku berjalan menuju dapur dan mencari Yeon Chul yang tidak terlihat di dalam rumah.
Shhh Shhh
Aliran air yang mengalir di kamar mandi, sepertinya Yeon Chul sedang membersihkan diri setelah bermandikan keringat. Aku mencuci buah dan sayur yang telah di panen dan meniriskannya di dalam wadah.
Gedebuk!
Aku seketika menoleh mendengar suara sesuatu yang jatuh dari arah luar rumah. "Arahnya dari kebun jeruk... Yeon Chul? Tapi bukankah Yeon Chul sedang mandi?" monologku. Aku berjalan menuju pintu keluar dan menoleh ke arah kamar mandi. "Yeon Chul? Chul!" Teriakku untuk memastikan, namun tidak ada sautan dari arah kamar mandi. "Apakah Chul hanya menghidupkan air dan pergi keluar lagi?" Aku pun berjalan keluar untuk mengecek sesuatu dari arah suara.
Ceklek..
"Kenapa?" Jawab Chul saat dia keluar dari kamar mandi.
"Seo Hunter?"
Kosong. Tidak ada sautan dari Seo Hunter. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Seo Hunter sampai di kebun jeruk, namun tidak ada yang aneh. "Yeon Chul?" Panggilnya namun tidak ada apa-apa di sana. "Apa-apaan sialan, cepat keluar!" Panggil Seo Hunter sekali lagi.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Seo Hunter dan menyeretnya di bawah pohon jeruk. "Siapa kam-" Mulutku langsung dibungkam sebelum aku berhasil berteriak. "Sssttt! Ini aku, masih ingat?" Ucap perempuan itu. Aku mengerutkan alisku dan ingat. "Cucu kakek toko?" Tanyaku kaget. "Ehehehe." Jawabnya dengan senyum gigi lebarnya sembari menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
Kita berdua duduk di bebatuan sungai yang tak jauh dari rumah. Melihat perempuan itu bermain air dan terkadang melempar batu atau kerikil ke dalam sungai. Aku menatapnya aneh karena dia tidak mengatakan sesuatu dan hanya asyik dengan aktivitasnya.
"Kenapa kau disini?" Tanyaku pertama kali. Dia menoleh sebentar lalu mengabaikanku lagi. Tidak ada ide mengapa dia tiba-tiba muncul di rumahku. Bahkan menyuruhku untuk tidak memberitahu Yeon Chul soal dia yang datang.
"Sejak kapan kamu berada disini, paman?" Tanya perempuan itu.
'Paman?!' Batinku kaget mendengar panggilannya untukku.
"Eum.., mungkin sudah sekitar 1 bulan, atau lebih. Mengapa?" Tanyaku penasaran.
"Paman tahu... aku dan kakekku terjatuh di sini sudah sekitar 7 bulan. Hanya kakek yang aku punya saat itu. Kakekku tidak bisa banyak berbuat, jadi aku yang berusaha. Dengan keanehan dan bahasa manusia yang tidak pernah kudengar sebelumnya." Tuturnya.
"Kakek adalah seseorang yang hebat sebelumnya, dan dia selalu membawa barang-barangnya di sisinya. Ahahaha, syukurlah itu sangat berguna di sini, padahal aku mengira semua itu sangat merepotkan, membawa banyak barang."
'Hmm, apakah barang-barang yang dia maksut adalah barang yang tertata rapi di toko waktu itu?' Batinku.
"Selama ini kakekku mulai tidak sehat, dan akhirnya Kakak Yeon Chul datang. Saat itu, kakak Yeon Chul banyak membantu, namun tidak banyak bertanya. Tapi akhir-akhir ini dia jarang berkunjung ke toko dan membuat kakek merindukannya."
Aku membuang muka saat mendengar pernyataannya, karena sadar alasan Yeon Chul tidak berkunjung adakah karena dirinya.
"Namun paman, kakek tidak selalu seperti itu sebelumnya. Setelah kedatangan paman lusa lalu, kakek menjadi lebih aneh." Aku menoleh pada perempuan itu. Kita saling bertatapan, matanya sayu namun tajam menatapku.
Daeun memeluk kedua lututnya, menatap keruh air sungai yang mengalir deras di bawah jemarinya. "Paman tahu rasanya bangun di tempat yang sama sekali tidak punya hukum?" bisiknya. "Di Bumi dulu, diriku hanya siswi SMA biasa yang sibuk memikirkan ujian masuk perguruan tinggi. Tapi begitu terlempar ke sini, kakek langsung linglung. Aku harus belajar memotong kayu, membarter barang di pasar Ontaris yang keras, dan pura-pura tidak takut saat orang-orang asing menatap kami curiga. Kakek satu-satunya peganganku. Jadi pas kakek histeris melihat paman dan menyebut 'Subjek Utama', aku tahu... paman bukan sekadar pemuda hilang seperti yang dikatakan Kak Yeon Chul."
Perlahan dia mengangkat wajahnya, mata merahnya menatap mataku dengan tajam dan penuh dengan kecurigaan.
"Paman.... kamu siapa?" Tanya perempuan itu menatap tajam ke arahku.