# 10화 — Chapter 10 : The Returning Starlight
ROAAAR!
Pekak raungan naga bersisik kristal hitam itu membentur dinding-dinding udara Seoul dengan tekanan yang sanggup merobek selaput gendang telinga.
Distorsi gelombang mana yang keluar dari kedalaman Dimensional Collapse membuat gravitasi di sekeliling wilayah Gangnam menjadi sepenuhnya tidak stabil.
Pecahan aspal, bangkai mobil yang terbakar, hingga bentangan pilar beton setinggi puluhan meter mendadak terangkat mengapung di udara, seolah-olah hukum alam yang mengikat bumi sejak jutaan tahun lalu telah lenyap direnggut oleh kehendak asing.
"Struktur ruang di area ini sudah mendekati titik krisis total!" teriak Daeun seraya melompat mundur dari jangkauan pilar beton yang melayang pasif.
Jarum-jarum penumpas mana di jemarinya bergetar hebat, memancarkan garis-garis energi merah redup saat memindai kepadatan udara.
"Sinyal pemindai menunjukkan ada lebih dari lima puluh entitas kelas SSS yang menerobos masuk secara bersamaan dari celah utama!"
Di sudut reruntuhan, Dr. Kang Seung-hyuk yang tubuhnya terikat rapat oleh benang penahan milik Han Daeun, tergeletak dengan napas tersengal.
Wajahnya yang memar akibat hantaman tumitku masih menyisakan senyum culas yang menyebalkan.
"Hahaha... bodoh! Kalian bertiga sungguh bodoh!" gelak Dr. Kang dengan suara parau bercampur darah.
"Kalian pikir dengan mengalahkan unit Mecha milikku dan menyiarkan data itu ke publik, kalian sudah menjadi pemenang? Ini adalah fenomena Ontaris Incursion! Realitas Bumi sudah terlalu rapuh akibat kebocoran mana yang kubuat selama belasan tahun! Kalian... seluruh kota ini... akan hancur terhisap ke dalam garis hampa!"
Aku tidak membuang energi untuk menanggapi celotehannya.
Dengan satu gerakan dingin, aku mengayunkan tumit sepatuku tepat ke rahangnya sekali lagi, memastikan pria tua jahat itu benar-benar terkunci dalam pingsannya.
"Jaga dia tetap bernapas, Han Daeun," perintahku seraya membetulkan cengkeraman pada gagang belati Genesis. "Dunia luar butuh kesaksian fisiknya. Dia tidak boleh mati sebelum mempertanggungjawabkan setiap tetes darah yang pernah ia perah dari Bong-gu."
"Pahami, Kak Yeon Chul!" sahut Han Daeun tegar.
Jemari lentiknya menarik benang mana lebih kencang, menyegel simpul saraf Dr. Kang agar pria itu tidak sadarkan diri di tengah guncangan.
Di depan kami, Seo Bong-gu melangkah maju tanpa ragu.
Setiap pijakan kakinya di atas ubin baja yang mengapung menimbulkan getaran frekuensi rendah yang merapikan kembali medan gravitasi liar di sekitarnya.
Ia menengadah, menatap langsung ke pusat lingkaran retakan ungu yang bagaikan mata raksasa di langit malam.
"Dia benar tentang satu hal," ujar Seo Bong-gu, suaranya tenang namun bergema di antara benturan gelombang kejut yang beruntun.
"Struktur dimensi kota ini sudah retak di tingkat dasar. Jika kita hanya bertahan di bawah sini, seluruh Seoul akan terserap masuk ke dalam kedalaman Ontaris dalam hitungan menit."
"Apa rencanamu, Bong-gu?" tanyaku seraya mengambil posisi di samping kirinya, memicu Aura Anchoring keemasan yang membungkus rapat seluruh tubuhku.
"Kau tidak berniat menahan seluruh beban distorsi itu sendirian, kan?"
Seo Bong-gu menoleh sejenak. Spektrum cahaya emas dari Essence of Anchoring menyala makin pekat di mata kirinya, memantulkan bayangan tekad yang mutlak.
"Aku tidak sendirian, Yeon Chul. Kali ini, aku punya kalian," jawabnya mantap.
"Aku akan menggunakan Anchoring Core untuk menjangkarkan fondasi gravitasi Seoul secara langsung ke inti Bumi. Tapi proses Sinkronisasi Gravitasi Mutlak itu membutuhkan waktu tiga menit tanpa ada gangguan satu milimeter pun. Selama tiga menit itu... aku butuh perisai yang tidak bisa ditembus oleh apa pun."
Aku mengulas senyum tipis, menyapu bercak darah kering yang menempel di pipiku.
Janji yang tertanam di hatiku sejak usia enam tahun... janji untuk menjadi perisai bagi anak laki-laki yang menyelamatkanku di gang salju membeku itu, berkilat membakar seluruh sel di tubuhku.
"Jangankan tiga menit," kataku seraya melompat ke posisi terdepan dan menancapkan belati Genesis-ku ke tanah, membentuk kubah pelindung keemasan berskala raksasa.
"Seratus tahun pun akan kuhadapi."
"Aku juga tidak akan membiarkan Kakak berjuang sendirian!" seru Han Daeun seraya meluncurkan ratusan benang penumpas mana ke udara, merajut jaring perangkap bertingkat untuk menahan laju serbuan naga-naga kristal yang mulai menusuk turun dari retakan.
ROAAAR!
Naga kristal hitam pertama meluncur deras bagaikan meteor jatuh, membuka rahangnya yang memancarkan kobaran api kosmik berwarna ungu pekat.
Seo Bong-gu memejamkan mata, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Matriks geometris keemasan raksasa memancar dari telapak kakinya, menjalar menembus fondasi beton, merembes ke dalam tanah, dan mengunci seluruh molekul gravitasi kota.
"Mulai!" teriak Seo Bong-gu.
Sementara itu, di permukaan Distrik Gangnam yang porak-poranda, suasana berada di ambang histeria massa.
Lampu-lampu sirene darurat berwarna merah memantul di antara kepulan asap hitam dan reruntuhan kaca gedung-gedung pencakar langit.
Ribuan warga sipil berlarian dengan ketakutan luar biasa, berusaha memadati jalur-jalur evakuasi bawah tanah yang disediakan oleh pihak berwenang.
Suara tangisan anak-anak, teriakan panik, dan raungan mesin kendaraan bercampur menjadi satu simfoni kekacauan yang mengerikan.
"Barikade Sektor Empat! Jangan biarkan warga menyeberangi jembatan utama!" Teriak seorang komandan dari DMP (Divisi Proteksi Mana) melalui pengeras suara.
Polisi biasa menangani kejahatan manusia, tetapi DMP dibentuk khusus untuk mengamankan perimeter luar saat bencana portal terjadi. Memastikan warga selamat selagi para Hunter bertarung di garis depan.
"Gunakan jaring pembatas mana! Evakuasi warga ke arah Distrik Seocho sekarang juga!"
Ratusan personel personel DMP (Divisi Proteksi Mana) dan Unit Taktis DMP bekerja tanpa henti di bawah tekanan udara yang mencekam.
Senjata pelontar energi kelas ringan mereka terus diarahkan ke langit, berusaha menahan pecahan-pecahan kristal dimensi yang jatuh bagaikan hujan meteor mini.
"Komandan! Sinyal komunikasi kita lumpuh total!" seru seorang bintara DMP dengan wajah penuh jelaga.
"Sistem radar menunjukkan ada fluktuasi mana berskala bencana global di atas lokasi bekas fasilitas Dewan Hunter! Apakah ini... Dungeon Break Tingkat Bencana?"
"Bukan sekadar Dungeon Break!" balas sang Komandan DMP dengan suara bergetar seraya menatap langit yang terbelah.
"Ini adalah runtuhnya batas dimensi... Kita tidak punya cukup Hunter kelas tinggi untuk menahan ini!"
Tiba-tiba, dari arah garis langit sebelah utara, terdengar deru mesin jet supersonik yang membelah udara dengan kecepatan luar biasa.
Tiga kilatan cahaya merah membara, violet terang, dan perak berkilau melesat membelah awan hitam, mendarat di atas puncak sisa pilar bangunan dengan hentakkan angin yang sangat dahsyat.
BOOMM!
Tekanan udara yang dihasilkan dari pendaratan itu menyapu bersih asap belerang di sekitar barikade polisi.
Ketika debu perlahan terurai, berdiri tiga sosok yang sangat dikenal oleh seluruh masyarakat Korea Selatan, bahkan dunia.
Mereka adalah para Hunter peringkat teratas (Top-Rankers) yang selama lima tahun terakhir menduduki puncak hierarki pahlawan, mengisi kekosongan panggung kekuasaan yang ditinggalkan oleh Seo Hunter.
Di tengah berdiri Kang Min-hyuk, Hunter Peringkat 3 Global yang dijuluki The Crimson Aegis, pria berbadan tegap dengan zirah berat berlapis emas-merah dan pedang raksasa di punggungnya.
Di sisi kirinya adalah Aria Vance, Hunter Penyihir Peringkat 4 Dunia asal Amerika yang memegang tongkat berkristal violet bercahaya The Verdant Archon.
Dan di sisi kanan adalah Ryu Shin-woo, Hunter Pembunuh Peringkat 1 Domestik yang melayang pelan dengan sepasang belati perak bergetar frekuensi tinggi.
"Luar biasa..." bisik Aria Vance seraya membetulkan kacamata berbingkai tipisnya, matanya membelalak menatap kerapatan mana di udara.
"Konsentrasi mana di area ini menembus angka seratus ribu Ether-Points. Ini bukan portal kelas S biasa. Jika ini meledak, seluruh Semenanjung Korea akan terhapus dari peta dalam hitungan detik."
"Tutup mulutmu dan siapkan sihir pelindung, Aria!" bentak Kang Min-hyuk dingin, tangannya langsung menggenggam erat gagang pedang raksasanya.
"Para personel Divisi Proteksi Mana di bawah sana bertaruh nyawa untuk menahan warga. Tugas kita adalah menghancurkan apa pun yang keluar dari retakan sialan itu!"
Ryu Shin-woo tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sepasang mata tajamnya yang bagaikan elang justru tidak tertuju pada naga-naga di langit, melainkan tertegun menatap ke bawah... tepat ke arah episentrum runtuhnya laboratorium bawah tanah.
"Min-hyuk... Aria... lihat ke bawah," selak Ryu Shin-woo dengan suara yang mendadak bergetar. Sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang pembunuh berdarah dingin seperti dirinya.
"Ada apa, Shin-woo? Ini bukan waktunya melamun—" kata Kang Min-hyuk seraya menoleh ke bawah.
Kata-katanya terhenti seketika.
Di tengah kawah reruntuhan yang dikelilingi ribuan ton beton hancur, terlihat sebuah kubah pelindung keemasan yang memancar begitu murni.
Di dalam kubah itu, berdiri tiga orang.
Seorang gadis muda yang mengendalikan jaring benang interaktif, seorang pemuda berzirah pelindung yang menahan setiap hantaman monster dengan belati Genesis, dan di tengah-tengah mereka... seorang pemuda berambut hitam yang merentangkan tangan ke tanah.
Dari tubuh pemuda di tengah itu, menjalar lingkaran-lingkaran geometris berwarna emas mutlak.
Sebuah teknik manipulasi medan gravitasi yang sudah lima tahun tidak pernah terlihat lagi di muka Bumi.
"Struktur teknik itu... koordinasi warna aura itu..." suara Kang Min-hyuk bergetar hebat, tiba-tiba seluruh badannya bergidik dingin.
Pedang raksasa di tangannya bahkan terkulai beberapa sentimeter. "Tidak mungkin... Ini tidak masuk akal!"
Aria Vance menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata kekaguman dan ketakutan bercampur di matanya.
"Identifikasi energi itu... Itu adalah Gravitational Domain : Zero Core. Teknik milik... Seo Hunter!"
"Dia kembali..." bisik Ryu Shin-woo, napasnya memburu cepat.
"Pria yang mendominasi seluruh Dungeon Break pertama... pahlawan yang dikatakan telah tewas lima tahun lalu... dia benar-benar berdiri di sana!"
Sebelum ketiga Hunter peringkat atas itu sempat mencerna rasa terkejut mereka, siaran langsung yang diretas oleh Seo Bong-gu beberapa saat lalu mendadak memancar kembali melalui seluruh layar raksasa di jalanan Gangnam, papan reklame elektronik, hingga ponsel seluruh polisi DMP dan warga yang berada di area evakuasi.
Wajah Dr. Kang Seung-hyuk yang babak belur terampang jelas di layar, diikuti oleh beribu-ribu dokumen rahasia yang mengutarakan seluruh kejahatannya.
Manipulasi sejarah, pemalsuan paten Inti Zero, sabotase Dungeon lima tahun lalu, hingga bukti bahwa Seo Hunter tidak pernah tewas karena kegagalan, melainkan dijebak oleh kelicikan Dewan Hunter.
PING!
Pesan sistem darurat yang melompati seluruh protokol keamanan nasional bergema dari jutaan perangkat seluler secara bersamaan.
[SISTEM PEMULIHAN IDENTITAS GLOBAL] Nama Subjek : Seo Bong-gu (Seo Hunter) Status : Aktif / Pahlawan Utama Kembali Tindakan : Seluruh Hak Akses Otoritas Tertinggi Dioperasikan Kembali kepada Seo Hunter.
Keheningan melingkupi seluruh Distrik Gangnam selama beberapa detik.
Para polisi DMP yang memegang senjata tertegun melihat layar ponsel mereka.
Warga sipil yang menangis mendadak menghentikan ratapan mereka, menatap layar reklame raksasa dengan mata terbelalak tak percaya.
"Seo... Seo Hunter masih hidup?!" jerit seorang warga di tengah kerumunan.
"Dia tidak mati! Pahlawan kita tidak pernah tewas!" seru warga lainnya dengan suara serak menahan tangis.
Di atas gedung, Kang Min-hyuk menelan ludahnya yang terasa pahit.
Rasa bangga dan keangkuhannya sebagai Hunter Peringkat 2 meruap lenyap seketika, berganti dengan rasa hormat yang mendalam kepada sosok legendaris yang berada di bawah sana.
"Kalian dengar itu, wahai para Hunter?!" teriak Kang Min-hyuk melalui siaran sihir suaranya, menggema ke seluruh penjuru kota dan didengar oleh ratusan Hunter yang berada di area tersebut.
"Dia... Seo Hunter sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menjangkarkan gravitasi kota ini! Dia sedang membeli waktu untuk kita semua!"
Kang Min-hyuk mencabut pedang raksasanya, mengacungkannya tinggi-tinggi ke arah langit malam yang dipenuhi naga kristal.
"Selama lima tahun kita menikmati kedamaian palsu yang dibeli dari penderitaannya!" seru Kang Min-hyuk dengan aura merah membara yang meledak dari tubuhnya.
"Hari ini, saat Sang Pahlawan kembali... apakah kita hanya akan berdiri menonton seperti penonton penakut?!"
"TIDAK!" gema teriakan ratusan Hunter dari berbagai jajaran yang berada di sekitar jalanan Gangnam menyahut secara serentak.
"Aria! Shin-woo! Lindungi area perimeter luar kubah keemasan itu!" perintah Min-hyuk berapi-api.
"Jangan biarkan satu pun monster keparat itu menyentuh Seo Hunter dan timnya!"
"Diterima!" seru Aria Vance seraya mengayunkan tongkat violetnya, memanggil ratusan lingkaran sihir badai angin untuk menghantam barisan naga yang mulai menusuk turun.
"Dengan senang hati," gumam Ryu Shin-woo, tubuhnya mendadak melenyap menjadi bayangan perak yang berkelebat cepat, memotong sayap-sayap naga kristal di udara sebelum mereka sempat mendekati kubah pelindungku.
Di dalam kubah pelindung keemasan, aku bisa merasakan kehadiran bantuan dari atas.
Ledakan sihir elemen, tebasan pedang raksasa Kang Min-hyuk, dan tarian belati Shin-woo membuat tekanan gempuran naga-naga kristal berkurang secara signifikan.
"Bantuan datang dari Hunter peringkat atas di luar!" teriak Han Daeun, jemarinya terus bergerak lincah menyimpul benang-benang penumpas mana untuk mengikat monster yang lolos dari perimeter luar.
"Peringkat 2 Kang Min-hyuk dan timnya sedang menahan barisan utama di udara!"
Aku mengulas senyum bangga seraya terus menahan tebasan ekor naga yang berhasil menembus celah atas kubah.
"Bagus! Itu artinya kebenaran yang ditunjukkan Seo Hunter berhasil membakar kembali semangat mereka!"
Seo Bong-gu masih bergeming dalam posisinya. Napasnya makin berat, peluh membasahi seluruh pakaian pertahanannya.
Urat-urat di leher dan lengannya bertonjol tajam saat ia menahan gejolak gravitasi yang setara dengan bobot ribuan ton struktur kota.
"Satu menit tersisa!" seru Bong-gu, suaranya agak bergetar namun keteguhannya tidak goyah sedikit pun.
"Yeon Chul! Daeun! Persiapkan energi kalian untuk gelombang kejut pembalik!"
"Mengerti!" sahutku dan Han Daeun serentak.
ROAAAR!
Tiba-tiba, dari pusat retakan teratas, muncul seekor naga kristal yang ukurannya tiga kali lebih besar dari naga-naga sebelumnya, adalah Raja Naga Kristal Ontaris.
Entitas itu meluncur deras, mengabaikan serangan sihir Aria dan tebasan Min-hyuk, meluncur lurus bagaikan tombak takdir yang bertujuan menghancurkan kepala Seo Bong-gu secara langsung.
"Dia terlalu cepat!" jerit Aria dari atas gedung. "Aku tidak bisa mengunci targetnya!"
"Cepat bertahan, Min-hyuk!" seru Shin-woo.
Namun, sebelum para Hunter peringkat atas itu sempat bertindak, aku sudah melompat lebih dulu.
Aku tidak lagi menggunakan belati sebagai penahan. Aku memusatkan seluruh Aura Anchoring keemasan yang terkumpul dalam hidupku ke dalam kepalan tangan kananku.
"Aku sudah bersumpah..." geramku di udara, mengingat kembali wajah anak kecil berdasi wol yang menyelamatkanku di gang salju belasan tahun lalu.
"...tidak akan ada satu pun monster yang bisa melangkahi mayatku untuk menyentuhnya!"
BOOOOM!
Tinjuku bertabrakan langsung dengan moncong raksasa Raja Naga Kristal itu di udara.
Gelombang kejut keemasan meledak dahsyat, menciptakan rekahan udara yang menghancurkan seluruh sisik kristal di kepala monster tersebut.
Monster raksasa itu meraung kesakitan sebelum akhirnya terhempas jatuh menghantam tanah dan hancur menjadi debu mana.
Kang Min-hyuk yang menyaksikan pukulan itu dari atas gedung sampai terbelalak kagum.
"Siapa pria berbelati itu?! Kekuatan fisiknya... murni tanpa menggunakan buff sihir!"
Tepat pada detik ke-180, Seo Bong-gu mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Gravitational Collapse... Absolute Anchoring." Kalimat itu diucapkan pelan, namun sanggup membekukan udara dan membuat atmosfer terasa seberat timah.
Seketika, tekanan gravitasi tak kasatmata turun menghantam bumi, memaksa siapa pun di sekitarnya bertekuk lutut akibat aura dominasi yang luar biasa.
BZZZZZZT—BANG!
Pilar cahaya emas raksasa membumbung tinggi dari tempat Seo Bong-gu berdiri, menembus awan hitam dan menghantam pusat retakan Dimensional Collapse di langit. Medan gravitasi mutlak bergetar hebat.
Retakan dimensi ungu yang menganga raksasa itu mendadak ditarik paksa secara memusat, menguncinya kembali dengan segel keemasan yang tak tertembus.
Naga-naga kristal yang tersisa di udara mendadak kehilangan pasokan energi dimensi mereka, terurai menjadi partikel cahaya dan lenyap ditiup angin malam.
Suara gemuruh benturan mendadak berganti dengan keheningan yang luar biasa.
Langit malam Seoul yang porak-poranda perlahan kembali bersih.
Di ufuk timur, garis-garis fajar pertama mulai menyingsing, memancarkan sinar keemasan hangat yang menyapu bersih sisa-sisa kegelapan dan ketakutan.
Seo Bong-gu menarik tangannya dari udara, lalu tubuhnya limbung ke depan akibat kelelahan luar biasa. Aku dengan sigap menangkap tubuhnya sebelum ia menyentuh tanah.
"Kau berhasil, Bong-gu..." bisikku lembut seraya merangkul pundaknya. "Kau menyelamatkan kota ini."
Seo Bong-gu membuka matanya perlahan, menatap fajar yang merekah di atas Seoul, lalu menatapku dan Han Daeun dengan senyuman hangat yang terulas tulus.
"Kita... berhasil," bisik Seo Bong-gu pelan.
Dari atas reruntuhan, langkah-langkah kaki tergesa mendekat. Kang Min-hyuk, Aria Vance, dan Ryu Shin-woo melompat turun, diikuti oleh puluhan petugas polisi DMP dan warga yang memberanikan diri mendekati kawah.
Kang Min-hyuk melangkah perlahan, lalu tiba-tiba meletakkan tangan kanannya di dada dan menundukkan kepalanya secara terhormat di hadapan Seo Bong-gu, sebuah hormat tertinggi dalam tradisi Hunter.
"Selamat datang kembali... Seo Hunter," ujar Kang Min-hyuk dengan suara yang penuh rasa hormat. "Terima kasih... telah menyelamatkan Seoul sekali lagi."
Ryu Shin-woo dan Aria Vance turut memberikan hormat yang sama, diikuti oleh ratusan petugas DMP dan warga sipil di belakang mereka yang mulai bersorak riuh menyorakkan nama "Seo Hunter" dengan penuh keharuan.
Namun, di tengah momen kemenangan itu, alat pemindai di pergelangan tangan Han Daeun mendadak berbunyi nyaring kembali, memancarkan nada peringatan frekuensi tinggi yang membuat suasana hangat itu mendadak mendingin.
Daeun menatap layar pemindainya dengan wajah yang pucat pasi.
"Kak Bong-gu... Kak Yeon Chul..." suara Daeun bergetar hebat.
"Retakan di Seoul memang berhasil dikunci... tapi sinyal Dimensional Collapse berskala giga baru saja meletus secara bersamaan di lima benua lain. London, New York, Tokyo, Paris, dan Cairo... semuanya terserang secara serentak."
Seo Bong-gu perlahan berdiri tegap disangga olehku. Ia menatap layar pemindai Han Daeun, lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari terbit yang kini menyinari seluruh Semenanjung Korea.
Matanya tidak lagi memancarkan kelelahan, melainkan kilatan api perjuangan yang baru saja menyala.
"Penguasa Ontaris tidak akan berhenti sampai seluruh Bumi terserap," ujar Seo Bong-gu dengan suara yang mantap dan bergema.
Ia menoleh menatapku dan Han Daeun, lalu menatap Kang Min-hyuk serta para Hunter yang berdiri di sekeliling kami.
"Pertempuran di Seoul hanyalah pembuka," sambung Bong-gu seraya mengepalkan tangan kanannya yang bergetar aura emas.
"Perang sesungguhnya untuk merebut kembali realitas Bumi... baru saja dimulai secara global."
Hawa dingin fajar berembus perlahan, menyapu debu-debu kristal yang perlahan pudar di udara.
Kata-kata Bong-gu yang menggantung di udara membuat seluruh tempat itu mendadak hening.
Kang Min-hyuk menatap kepalan tangan Bong-gu yang masih memancarkan pendar keemasan, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah penuh keseriusan.
"Jika ini adalah perang global, maka Korea tidak akan bertarung sendirian," tegas Kang Min-hyuk seraya mengepalkan tinjunya di atas dada.
"Atas nama Asosiasi Hunter dan para pahlawan yang tersisa, kami siap berada di garis depan di bawah komandomu, Seo Hunter."
Aria Vance dan Ryu Shin-woo berdiri berdampingan di sisinya, memberikan tatapan hormat yang sama tanpa ragu sedikit pun.
Di balik barikade, ratusan personel DMP dan warga sipil yang menyaksikan momen itu mulai menyuarakan dukungan mereka.
Sorak-sorai yang tadinya berupa kepanikan kini berubah menjadi gelombang harapan yang membakar semangat.
Aku melangkah mendekat, berdiri sejajar di samping kanan Seo Bong-gu seraya menggenggam erat belati Genesis. Han Daeun bergerak ke sisi kirinya, jemarinya siap mengendalikan benang-benang mana kapan saja.
"Ke mana pun tujuanmu selanjutnya, Bong-gu," bisikku dengan nada dingin yang sarat akan janji mutlak, "aku akan selalu menjadi perisaimu."
Seo Bong-gu menatap kami berdua, lalu melemparkan pandangannya jauh ke arah horizon tempat matahari terbit menembus sisa-sisa awan hitam.
Langkah awal untuk merebut kembali takdir dunia telah dipajang di hadapan kami, dan tidak ada satu pun dari kami yang berniat untuk mundur.