# 9화 — Chapter 9 : The Guardian's Silent Oath
Langkah kaki kami menerjang lorong-lorong tebal berbahan baja dan beton di dalam fasilitas bawah tanah Dewan Hunter. Dinding-dinding lorong bergetar hebat setiap kali struktur bangunan meredam gelombang benturan dari pertempuran.
Di balik punggung Seo Bong-gu yang melesat membelah barisan musuh, aku menatap sosoknya dengan gejolak perasaan yang campur aduk.
Setiap tebasan angin, pergeseran sudut tumpuan kaki, hingga kibasan aura gravitasi di sekeliling raganya terlihat begitu sempurna.
Seo Bong-gu bertarung dengan begitu tenang dan presisi, mengendalikan domain gravitasi Inti Zero seolah-olah seluruh ruang berada di bawah kehendaknya.
Namun, Seo Bong-gu tidak pernah tahu... bahwa keberadaanku di sisinya bukanlah sebuah kebetulan.
Seo Bong-gu tidak pernah mengingatnya. Benturan hebat saat tragedi pembantaian laboratorium belasan tahun lalu telah menghapus fragmen memori masa kecilnya, termasuk kenangan tentang sebuah gang gelap yang membeku di pinggiran kota Seoul.
[ FLASHBACK: SEOUL, 16 TAHUN YANG LALU ]
Saat itu, aku berusia enam tahun.
Seorang anak yatim piatu yang tersudut di dalam lorong kumuh beraroma sampah dan salju cair. Salju turun begitu lebat, membekukan jemari tanganku yang legam oleh debu jalanan.
Sekelompok preman jalanan menahanku, bersiap menjualku ke pasar gelap sebagai subjek uji coba ilegal.
Di tengah ketakutan yang merenggut napas, seorang anak laki-laki yang melintas bersama pengawalnya justru melangkah mendekat.
Anak laki-laki bertubuh kecil, namun pembawaannya tegas dan pemberani. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin dingin, dan mata birunya yang jernih memancarkan aura yang hangat di tengah temaramnya gang malam.
Anak itu tidak memegang senjata, juga belum mengenal apa itu matriks mana.
Namun, dengan tatapan mata yang luar biasa tenang dan keteguhan yang aneh untuk anak seusianya, anak itu menarik tanganku.
Ia melempar batu ke arah lampu jalan untuk mengalihkan perhatian para penculik, lalu membawaku berlari menembus badai salju hingga kami mencapai kantor polisi.
Di bawah lampu remang gang yang membeku malam itu, tangan hangatnya yang menggenggam tanganku dengan erat mulai melonggarkan genggamannya. Anak itu melepas syal wol tebalnya dan menyelimutkannya ke leherku yang gemetar.
"Jangan biarkan orang lain memutuskan kapan hidupmu berakhir," ucapnya saat itu seraya mengulas senyuman hangat.
Kalimat itu menjadi pelita tunggal dalam hidupku. Terpesona oleh keberanian anak itu, aku mendaftarkan les seni bela diri dan mempertaruhkan seluruh masa mudaku untuk berlatih seni beladiri dan pertahanan.
Aku menempah ragaku hingga berdarah-darah, tidak peduli pada hal lain selain satu tujuan untuk menjadi sosok yang cukup kuat untuk berdiri di samping penyelamatku.
Namun, setelah malam itu, aku kehilangan jejaknya. Aku bahkan tidak sempat menanyakan nama anak itu.
Hingga beberapa tahun kemudian, sebuah berita duka mengguncang media. Insiden ledakan laboratorium besar meletus dan merenggut nyawa sepasang peneliti genius.
Berita hanya berfokus pada tragedi ledakan dahsyat tersebut dan menyebutkan bahwa ada seorang anak laki-laki kecil yang ditinggalkan sendirian tanpa sanak saudara.
Lalu... bencana Dungeon Break pertama meletus di seluruh dunia. Jendela layar sistem, status, dan tingkatan level mulai muncul membelenggu realitas.
Di tengah kekacauan itu, muncul sosok fenomena baru yang menduduki takhta Hunter Nomor 1. Seorang pemuda genius yang dijuluki media sebagai Seo Hunter.
Saat pertama kali melihat wajah Seo Hunter di layar siaran berita, jantungku serasa berhenti berdetak. Tatapan mata biru jernih yang tegas dan aura membara itu... sosok itu adalah anak laki-laki yang dulu menyelamatkanku di gang malam itu.
Tak lama setelah itu, seorang ilmuwan yang memegang amanat rahasia dari mendiang orang tua anak itu, membuat keputusan di balik bayangan dengan mendirikan Tim Keamanan Khusus Rahasia untuk menjaga sang Hunter dari jauh tanpa membebaninya.
Mendengar kabar pembentukan tim tersebut, aku yang saat itu telah menguasai berbagai teknik pertahanan langsung mendaftarkan diri. Aku menyingkirkan semua kandidat veteran lainnya dan berhasil diangkat menjadi Ketua Tim Keamanan.
Baru di sanalah, saat membaca dokumen identitas rahasia tingkat tinggi dari Dr. Myeongjin, aku akhirnya mengetahui nama aslinya yang sebenarnya adalah Seo Bong-gu.
Bagi diriku, tugas menjaga Bong-gu secara diam-diam bukan sekadar pekerjaan... itu adalah janji masa mudaku untuk menjadi perisai bagi anak laki-laki yang telah memberiku alasan untuk hidup.
Seo Bong-gu lupa bahwa dialah yang mengajariku cara bertahan hidup. Namun aku tidak akan pernah lupa. Aku bersumpah akan melindunginya, terutama dari kelicikan dan manipulasi Dr. Kang Seung-hyuk yang telah memonopoli hidupnya selama belasan tahun.
[ FLASHBACK SELESAI ]
SWOOSH!
Tebasan belati kristal Genesis-ku memotong saluran hidrostatik salah satu exosuit (Exoskeleton Suit) milik Pasukan Guard yang mencoba menyergap Bong-gu dari sudut buta. ( #Exoskeleton : baju zirah tempur mekanis berteknologi tinggi yang dirancang untuk membungkus raga penggunanya.)
Uap nitrogen menyembur deras, menghentikan pergerakan musuh seketika. Percikan oli panas dan listrik membakar udara lembap di dalam lorong.
"Fokus pada lorong utama, Yeon Chul!" teriak Bong-gu seraya menghempaskan dua prajurit lain menggunakan gelombang Gravitational Surge.
"Kita harus mencapai konsol navigasi Sektor Alfa sebelum sistem keamanan Dr. Kang mengunci seluruh pintu isolasi!"
"Pahami!" sahutku seraya memutar tubuh, menebaskan sisi tumpul belatiku untuk mematahkan artikulasi persendian zirah musuh yang hendak merangkak naik.
Di belakang kami, Daeun bergerak lincah bagaikan bayangan. Jemari lentiknya menancapkan jarum-jarum penumpas saraf tepat ke celah helm baja musuh, melumpuhkan simpul saraf tanpa perlu mencabut nyawa.
Raut wajah gadis berusia 19 tahun itu tidak lagi memperlihatkan kepanikan akan lompatan waktu enam tahun di Bumi. Ia telah sepenuhnya menerima realitasnya dan memfokuskan seluruh energinya untuk bertarung di samping kami.
"Kak Bong-gu! Sinyal pemancar Dr. Kang aktif dari ruang kontrol pusat!" seru Daeun seraya mengamati indikator mana pada alat pemindainya. "Dia sedang mengunggah seluruh data riset Inti Zero ke server eksternal Dewan Hunter!"
Aku menatap punggung Bong-gu yang terus menerobos ke depan. Setiap langkahnya menimbulkan getaran frekuensi rendah yang meretakkan ubin baja fasilitas.
"Dia ingin menghapus jejakmu lagi, Seo Bong-gu," kataku dengan suara berat.
Seo Bong-gu mengepalkan tangan kanannya yang berserat ungu korosif. Pendaran biru Inti Zero di dadanya membara tajam, memantulkan bayangan kemurkaan yang terkendali.
"Dia sudah mencuri belasan tahun hidupku dan memanipulasi namaku," ujar Seo Bong-gu dingin. "Hari ini, di fasilitas ini... aku sendiri yang akan menghentikan permainan paman."
BOOM!
Ledakan medan gravitasi menyapu habis barikade baja di depan pintu isolasi Sektor Alfa.
Pecahan beton dan percikan listrik menyelimuti udara saat kami bertiga melangkah masuk ke dalam koridor utama yang menuju ke laboratorium eksperimen Dr. Kang.
Lantai lorong ini dilapisi kaca tebal bertekanan tinggi, memperlihatkan tabung-tabung inkubasi raksasa di bawah pijakan kaki kami.
Di dalam cairan hijau membiru itu, terlihat belasan monster tipe mutant dan spora hibrida yang sedang diawetkan, bukti eksperimen ilegal yang dikembangkan Dr. Kang dengan menyalahgunakan dana dan teknologi peninggalan orang tua Seo Bong-gu.
"Tempat ini..." bisik Daeun seraya menatap ke bawah kaca. Kakinya bergetar pelan saat melihat salah satu jaringan spesimen bergerak mencengkeram dinding tabung kaca.
"Ini bukan sekadar fasilitas pertahanan... ini adalah laboratorium pembiakan Dungeon ilegal."
"Bukan cuma pembiakan," timpal Bong-gu dengan nada yang kian menusuk. Matanya menatap tajam ke ujung koridor tempat sebuah pintu gerbang berlapis titanium berdiri kokoh.
"Paman mencoba meniru ekosistem Ontaris secara paksa di Bumi, memanfaatkan fragmen mana yang dia curi dari sertifikat riset ayahku."
BZZZZZT!
Tiba-tiba, seluruh lampu penerangan lorong berubah menjadi merah darah. Suara tawa terbahak-bahak yang terdengar begitu akrab terdistorsi melalui pengeras suara internal dinding.
"Luar biasa... sungguh di luar dugaanku," gema suara Dr. Kang Seung-hyuk terdengar memenuhi seluruh lorong.
"Keponakanku tercinta, Seo Bong-gu... atau haruskah kupanggil kau 'Seo Hunter' yang legendaris? Hahaha... Kau berhasil kembali dari lubang pembuangan Ontaris hidup-hidup. Dan kau membawa serta dua anjing penjagamu."
"Cukup omong kosongmu, Kang Seung-hyuk!" seru Yeon Chul seraya melangkah ke depan Bong-gu, mengangkat belati Genesis-nya dengan posisi siap tempur. "Tunjukkan dirimu!"
"Ooh, lihat siapa yang bicara. Yeon Chul... bocah jalanan yang kuizinkan berpura-pura menjadi Ketua Keamanan," Dr. Kang terkekeh sinis melalui sistem interkom.
"Kau pikir aku tidak tahu alasanmu bertahan di sisi Bong-gu? Kau hanya parasit yang bergantung pada kebaikan palsunya! Dan kau bocah, Han Daeun... kakekmu yang tua bangkai itu pasti sudah membusuk di Ontaris, bukan?"
Tangan Daeun mengepal erat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangannya sendiri. Namun sebelum Han Daeun meledak marah, Seo Bong-gu mengangkat tangannya, menghentikan semua respons emosional kami.
"Paman," panggil Seo Bong-gu dengan suara yang sangat tenang, ketenangan yang justru jauh lebih menakutkan daripada kemurkaan.
"Lima tahun lalu kau meledakkan Dungeon untuk melenyapkanku setelah aku mulai mempertanyakan muara dari seluruh riset Inti Zero." Ucapku dengan tenang.
"Kau berpikir bahwa dengan melenyapkanku, seluruh paten dan nama besar keluarga Seo akan sepenuhnya jatuh ke tanganmu?"
Suara tawa Dr. Kang mendadak terhenti di balik pengeras suara, berganti dengan helaan napas dingin.
"Kau selalu terlalu pintar untuk ukuran seorang anak yatim piatu, Bong-gu," ucap Dr. Kang lambat-lambatnya.
"Memang benar. Tanpa keberadaanmu, Dewan Hunter sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Aku mengubah Namamu menjadi produk, menjual teknologi gravitasi Inti Zero ke konglomerat global, dan menjadikan namamu sebagai simbol pahlawan yang tewas demi negara. Kau jauh lebih berguna saat dianggap mati dibanding saat kau bernapas di sisiku!" Jawab Kang Seung-hyuk dengan napas tersenggal-senggal.
"Dan hari ini," sambung Sek Bong-gu seraya mengambil satu langkah maju ke arah pintu titanium, "pemilik asli dari nama itu datang untuk mengambil kembali seluruh utangmu."
CLICK! CLANG!
Pintu gerbang titanium raksasa di ujung lorong terbuka secara hidrolik. Di balik pintu itu membentang sebuah aula laboratorium melingkar berukuran raksasa.
Di tengah-tengah ruang kontrol pusat, berdiri sosok Dr. Kang Seung-hyuk dengan jubah putih laboratorium yang dilapisi exosuit komando emas-hitam.
Di sekelilingnya, empat unit Mecha-Guardian kelas-S yang dilengkapi inti energi buatan meraung pelan, memancarkan aura radiasi yang menekan udara.
"Kalau begitu, mari kita lihat apakah sang 'Hunter Nomor 1' masih memiliki taringnya setelah terisolasi bertahun-tahun di dimensi asing!" teriak Dr. Kang seraya menurunkan tuas utama di konsol kontrolnya.
ROAAAR!
Keempat unit Mecha-Guardian melesat maju dengan kecepatan supersonik, meninggalkan jejak gelombang kejut di atas lantai baja.
"Han Daeun, matikan jaringan pemancar di konsol sebelah kanan! Yeon Chul, kawal sisi kiriku!" perintah Seo Bong-gu secara instan.
"Siap!" seru Han Daeun seraya melompat melewati bahu salah satu Mecha-Guardian dengan kelincahan yang luar biasa, meluncurkan benang-benang penumpas mana untuk memutus suplai daya mekanis musuh.
Aku menggerakkan belati Genesis-ku, memicu Aura Anchoring keemasan yang melapisi tubuhku.
Saat salah satu Mecha-Guardian mengayunkan pedang termal raksasa ke arah kepala Seo Bong-gu, aku meloncat menerjang dan menahan tebasan itu secara langsung.
CRASH!
Benturan energi membuat lantai kaca di bawah kakiku retak seribu. Namun ragaku yang telah ditempah berdarah-darah sejak usia enam tahun tidak bergeser walau satu milimeter pun.
"Aku adalah perisaimu, Bong-gu!" teriakku seraya memutar belati dan mematahkan pedang termal musuh dalam satu hantaman telak.
"Maju dan hancurkan dia!"
Seo Bong-gu menatapku sekilas—sebuah tatapan penuh kepercayaan yang terpaut secara instan tanpa perlu kata-kata.
Ia melompati pundakku, memusatkan seluruh aura Inti Zero dan Racun Korosif di telapak tangan kanannya.
Gravitational Collapse : Zero Core Unleashed!
Ruang di sekitar Dr. Kang terdistorsi hebat. Cahaya biru dan ungu melingkupi seluruh aula laboratorium, menarik seluruh pertahanan exosuit milik Dr. Kang ke dalam pusat pusaran gravitasi yang tak terhentikan.
Dr. Kang terbelalak ketakutan saat melihat sosok pemuda berusia 23 tahun itu melayang tepat di hadapannya membawa tatapan mata biru jernih yang sama seperti belasan tahun lalu, namun kini dilapisi oleh kekuatan yang sanggup meruntuhkan realitas itu sendiri.
"Cerita kebohonganmu..." bisik Seo Bong-gu dingin seraya mencengkeram inti energi di dada exosuit Dr. Kang, "...berakhir di sini."
CRACKLE! BANG!
Cengkeraman tangan kanan Seo Bong-gu yang diselimuti urat-urat ungu korosif menembus pelat titanium luar zirah komando Dr. Kang bagaikan menembus kertas basah.
Inti energi buatan di dada exosuit itu meletup hebat, memuntahkan percikan listrik statis dan minyak hidrolik berwarna hitam.
"A-Aaaargh!" jerit Dr. Kang kencang saat medan gravitasi mikro di sekitar jemari Seo Bong-gu meremukkan sistem transmisi saraf yang menempel di pundaknya.
"K-Kekuatan apa ini?! Ini bukan sekadar manipulasi gravitasi biasa! Kau... apa yang kau lakukan di Ontaris?!" Teriak Kang Seung-hyuk histeris.
"Aku tidak hanya bertahan hidup, Paman," balas Seo Bong-gu dengan suara pelan yang amat dingin, merendahkan posisinya tepat beberapa sentimeter dari wajah Dr. Kang yang kini dipenuhi peluh dingin.
"Aku mempelajari hakikat asli dari mana yang selalu kau eksploitasi. Kau menganggap Inti Zero sebagai senjata industri. Tapi bagiku... ini adalah warisan peninggalan orang tuaku yang kau nodai."
THUD!
Seo Bong-gu menarik tangannya secara kasar, mencabut inti energi buatan Dr. Kang hingga sistem Mecha-Guardian di sekeliling kami kehilangan sinyal komando dan jatuh terhempas mati ke lantai baja.
Dr. Kang tersungkur lemas, tubuhnya yang tak lagi disokong oleh kerangka mekanis exosuit bergetar hebat di atas lantai kaca laboratorium.
"Hah... hah..." Dr. Kang terbatuk-batuk, menyapu darah tipis yang menyembur dari sudut bibirnya. Namun, alih-alih menyerah, sepasang mata liciknya justru memancarkan tawa liar yang mengerikan.
"Kau pikir... kau sudah menang, Bong-gu? Kau pikir kau bisa menghancurkanku hanya dengan melumpuhkan fasilitas bawah tanah ini?!"
Aku melangkah mendekat seraya menancapkan belati Genesis-ku di samping kepala Dr. Kang, membuat pria paruh baya itu bungkam seketika.
"Bicara yang jelas, Kang Seung-hyuk," desisku dingin. "Atau belati ini akan memutus arteri lehermu sebelum kau sempat memohon ampun."
"Hehe... hahaha!" Dr. Kang justru makin tertawa terbahak-bahak, mendongak menatap layar-layar monitor raksasa di dinding laboratorium yang kini berkedip-kedip cepat.
"Kalian terlambat! Proses pengunggahan data Inti Zero ke server global Dewan Hunter sudah mencapai 97%! Dalam hitungan detik, seluruh cetak biru riset Inti Zero buatan ayahmu akan dipublikasikan atas namaku secara internasional!"
Dr. Kang menunjuk ke arah layar utama yang menampilkan garis progres berwarna hijau yang kian menipis menuju angka 100%.
"Dunia sudah mengenalku sebagai pencipta teknologi pencipta kedamaian!" seru Dr. Kang berapi-api.
"Bahkan jika kau membunuhku di sini, kau tetaplah 'hantu' yang sudah mati lima tahun lalu! Di mata hukum dan publik Bumi, aku adalah pemilik sah dari seluruh riset ini! Kau tidak akan pernah bisa merebut kembali namamu!"
"Kak Bong-gu!" seru Han Daeun dari konsol kanan. Tangannya melayang cepat di atas papan ketik hologram, berusaha menembus enkripsi keamanan kelas tinggi.
"Aku tidak bisa membatalkan pengunggahannya secara manual! Dialek enkripsinya terkunci menggunakan pemindai retina dan impuls biometrik Dr. Kang secara langsung!"
Aku menatap layar yang menunjukkan angka 99.4%. Waktu kami hanya tersisa kurang dari tiga detik sebelum seluruh kebohongan Dr. Kang terkunci permanen dalam sejarah dunia.
"Gunakan biometriknya secara paksa," kataku seraya mencengkeram kerah baju Dr. Kang dan menyeretnya ke arah konsol utama.
"Tidak akan berguna!" gelak Dr. Kang sombong.
"Sistem enkripsi ini menggunakan protokol pembatalan ganda! Begitu data mencapai 100%, seluruh bukti manipulasi laboratorium lima tahun lalu akan terhapus otomatis secara permanen!"
Namun, Seo Bong-gu tidak terlihat panik sedikit pun. Ia melangkah tenang menghampiri konsol utama di samping Han Daeun.
Pendaran aura biru di mata kirinya meredup perlahan, berganti dengan kilatan spektrum emas yang sangat murni, aura Essence of Anchoring dan realitas mutlak yang ia dapatkan dari persatuan suaka Ontaris.
"Paman," kata Seo Bong-gu seraya menempelkan telapak tangan kirinya secara langsung ke layar kaca pemancar data. "Kau lupa satu hal penting."
Dr. Kang mengerutkan dahi, dahaganya akan rasa menang mendadak luntur saat melihat lingkaran matriks cahaya emas mulai menjalar dari telapak tangan Bong-gu, merembes ke dalam sirkuit elektronik konsol laboratorium.
"Apa... apa yang kau lakukan?!" bentak Dr. Kang heran. "Kau tidak bisa meretas sistem digital dengan mana!"
"Aku tidak sedang meretas sistem digitalmu, Paman," pangkas Seo Bong-gu dengan nada mantap.
"Aku sedang meretas realitas jaringan yang kau ciptakan."
BZZZZZT!
Matriks cahaya keemasan itu menyebar tajam ke seluruh panel kontrol. Garis progres hijau yang berada di angka 99.9% mendadak berhenti kaku.
Layar monitor raksasa di dinding laboratorium mulai bergetar hebat, garis-garis kode sistemnya terurai dan berubah menjadi bahasa simbolis kuno yang sama persis dengan dialek Gate suaka Ontaris.
[OVERRIDING SYSTEM DATA: ANCHORING CORE DETECTED] Original Creator Signature Identified: SEO BONG-GU. Executing Absolute Data Purge & Public Exposure...
"A-Apa?!" Dr. Kang menjerit histeris saat melihat baris-baris dokumen rahasia miliknya, rekaman transaksi pasar gelap, video sabotase laboratorium lima tahun lalu, hingga perintah pembantaian tim peneliti, muncul satu per satu secara otomatis di layar monitor raksasa.
Bukan sekadar menggagalkan pengunggahan, Seo Bong-gu memanfaatkan jaringan pemancar global milik Dr. Kang untuk menyiarkan seluruh kejahatan pria itu secara langsung ke seluruh jaringan berita Dewan Hunter dan konglomerat dunia.
"Tidak! Hentikan! HENTIKAN!!!" teriak Dr. Kang histeris, berusaha merangkak menuju konsol untuk memutus kabel daya.
Namun Daeun melangkah maju, menghadang Dr. Kang dan menancapkan jarum penumpas mana ke bahu pria itu, menguncinya di atas lantai tanpa daya.
"Inilah pembalasan untuk kakekku, untuk Kak Bong-gu, dan untuk semua orang yang kau manfaatkan demi keserakahanmu," bisik Daeun dingin seraya menatap Dr. Kang yang kini menangis frustrasi di bawah kakinya.
PING!
Layar sistem utama berbunyi nyaring, memancarkan pesan penutup berukuran raksasa:
[BROADCAST COMPLETE: GLOBAL TRANSMISSION SUCCESSFUL] Status: Identity Restored.
[ Welcome Back, Hunter Seo ]
Seluruh fasilitas bawah tanah mendadak terhenyak dalam keheningan. Sirine merah darurat perlahan mati, berganti dengan cahaya putih penerangan cadangan.
Di layar siaran luar, terlihat konvoi helikopter militer Dewan Hunter dan kendaraan kepolisian pusat mulai bergerak mendekati koordinat laboratorium dari atas permukaan tanah.
Aku menyarungkan belati Genesis-ku, menghela napas panjang seraya menyapu keringat di dahi.
Aku menatap Seo Bong-gu yang berdiri diam di depan konsol utama, menatap tangannya sendiri yang memancarkan pendar keemasan.
"Semuanya sudah selesai, Seo Bong-gu," kataku lembut seraya melangkah ke sisinya.
"Dunia sudah tahu kebenarannya. Namamu... hakmu... semuanya sudah kembali."
Seo Bong-gu menoleh ke arahku dan Han Daeun. Senyuman hangat... senyuman yang sama persis dengan senyuman anak laki-laki berusia tujuh tahun di bawah remang lampu gang membeku belasan tahun lalu, perlahan terulas di wajahnya.
"Belum sepenuhnya selesai, Yeon Chul," jawab Seo Bong-gu seraya menatap ke arah langit-langit fasilitas yang mulai bergetar akibat kedatangan pasukan keamanan pusat.
"Mengungkap paman hanyalah langkah pertama. Kerusakan realitas yang disebabkan oleh Gate Ilegal dan fenomena Ontaris di Bumi baru saja dimulai."
Ia melangkah menghampiriku, menepuk bahuku dengan erat.
"Terima kasih telah menjagaku dari balik bayangan selama ini, Yeon Chul. Aku mungkin sempat lupa... tapi, aku bersyukur kau selalu ada di sisiku."
Jantungku berdesir hebat mendengarnya. Aku mengepalkan tanganku dan mengangguk mantap, membalas tepukan bahunya dengan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Sampai kapan pun, kak Bong-gu... aku adalah perisaimu."
BOOOM!
Sebelum kami sempat melangkah menjauhi konsol utama, bagian atap laboratorium tiba-tiba hancur berantakan.
Reruntuhan beton bermassa tonan jatuh menimpa lantai kaca, menimbulkan celah membara yang memperlihatkan langit malam Seoul di luar sana.
Namun, bukannya bintang-bintang, langit malam itu justru terpecah oleh retakan ungu raksasa memperlihatkan sebuah Dimensional Rift berskala global yang meletus tepat di atas ibu kota.
"Sistem alarm pusat!" seru Han Daeun seraya menuding ke arah layar darurat. "Ini bukan cuma Dungeon Break biasa... ini adalah Dimensional Collapse!"
Dari balik asap reruntuhan, bayangan puluhan monster berukuran raksasa dengan bentuk menyerupai naga bersisik kristal hitam mulai turun menembus retakan langit.
Suara raungan mereka menggetarkan jiwa setiap manusia yang mendengarnya.
Seo Bong-gu mengepalkan tangannya, memancarkan aura Inti Zero yang kini bersinergi sempurna dengan Essence of Anchoring.
"Perjalanan kita masih panjang," ucap Seo Bong-gu tenang, menatap lurus ke arah retakan dimensi di atas Seoul.
"Yeon Chul, Daeun... bersiaplah. Pertempuran sesungguhnya untuk menyelamatkan Bumi baru saja dimulai."
Di bawah temaram lampu laboratorium yang hancur dan kilatan merah retakan langit, kami bertiga melangkah keluar menembus kegelapan malam, menyongsong fajar baru di mana nama Seo Hunter telah bangkit kembali untuk memimpin pertempuran terakhir.
Hawa dingin malam menyengat kulit, bercampur aroma belerang dan puing-puing bangunan yang terbakar pasca-runtuhnya inti dimensi.
Seoul yang dulu riuh kini menghening di bawah tirai kegelapan, seolah menahan napas menantikan keputusasaan atau keajaiban.
Retakan di atas langit memancarkan pendaran ungu keemasan yang berdenyut tidak teratur, gerbang dimensi terdistorsi yang kini terbuka lebar, mengancam akan menelan seluruh permukaan Bumi sebagaimana yang pernah terjadi pada Ontaris.
"Aliran energi di retakan itu semakin tidak stabil," ujar Han Daeun sambil membetulkan posisi tali tas medisnya.
Mata merahnya menatap tajam ke arah langit, memperkirakan fluktuasi mana yang merambat di udara.
"Tanpa penstabil dari Inti Genesis, pembatas antara dunia nyata dan ruang terdistorsi akan runtuh total dalam kurun waktu kurang dari tiga jam."
Yeon Chul melangkah di samping kami, menggenggam erat gagang sabit barunya yang ditempa ulang dari gabungan baja meteorit dan sisa kristal pohon tua.
Bekas luka di atas alis kirinya menegaskan raut wajahnya yang dingin dan penuh kesiapsiagaan.
"Pasukan Pembersih yang tersisa pasti sudah berkumpul di titik pusat retakan. Mereka tahu Seo Bong-gu membawa 'Inti Zero' yang utuh. Mereka tidak akan membiarkan kita mendekati episentrum portal tanpa perlawanan mati-matian."
Seo Bong-gu menunduk menatap kedua telapak tangannya. Di bawah kulit lengannya, garis-garis halus berwarna keemasan redup masih berdenyut pelan, menari seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Tidak ada lagi antarmuka sistem berwarna biru yang melayang di ruang hampa pandangannya.
Tidak ada angka-angka stat, tidak ada indikator Mana Point, dan tidak ada lagi suara mekanis dingin yang memandu setiap pergerakannya.
Yang tersisa hanyalah keberadaan murni dirinya, Seo Bong-gu. Seorang manusia yang telah menerima keterbatasannya sekaligus menguasai potensi penuh dari simfoni alam tanpa batasan sistem buatan.
"Mereka boleh mencoba menahan kita," bisikku pelan, namun nadanya sarat akan tekad yang tak tergoyahkan.
"Selama lima tahun aku bertarung sebagai boneka yang digerakkan oleh angka-angka palsu. Tapi malam ini, aku bertarung demi ingatan orang tuaku, demi kedamaian yang kita rasakan di Ontaris, dan demi masa depan orang-orang yang masih bertahan di tanah ini."
Kami melintasi jembatan beton yang retak hebat di atas sungai Han. Air sungai di bawah sana bergejolak hebat, memantulkan bayangan langit yang terbelah.
Dari kejauhan, di pusat reruntuhan Distrik Gangnam, suara deru bor mekanis dan lengkingan lonceng besi terdengar menggema.
Ratusan prajurit bertopeng besi yang merupakan sisa-sisa entitas Pembersih yang kini tak terkendali telah berbaris rapat mengelilingi pilar cahaya utama yang menghubungkan Bumi dengan Inti Genesis yang goyah.
Yeon Chul memiringkan kepalanya, menatapku dengan sudut bibir yang tertarik membentuk ukiran senyum tipis yang garang.
"Sama seperti di Hutan Belakang dulu, Hunter. Tanpa buff stat, tanpa potion pemulih... murni refleks dan kerja keras."
"Tepat seperti yang kita pelajari di gubuk," balasku seraya menarik pisau genggam ganda yang kini terpasang rapat di pinggangku.
Han Daeun mengambil posisi di belakang kami, mengumpulkan konsentrasi penuh untuk menyalurkan gelombang pemulihan manual yang ia pelajari dari catatan Kakek Myeongjin.
"Aku yang akan memastikan kalian berdua tidak mati kehabisan darah di tengah jalan. Bergeraklah!"
Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, kami bertiga melompat menerobos barikade puing-puing bangunan, menerjang masuk ke dalam kerumunan musuh yang menyambut dengan raungan bor mekanis.
Di bawah naungan retakan langit Seoul, panggung pertempuran penentu telah dibuka.
Bukan lagi sebagai cerita tentang seorang hunter nomor satu yang terikat sistem, melainkan babak akhir perjalanan seorang manusia yang merebut kembali takdirnya sendiri.