1. Gerbang
Napasku terasa seperti pecahan kaca yang digosokkan ke tenggorokan setiap kali aku bernafas. Pasir hitam Parangtritis berhamburan di bawah kakiku, masuk ke dalam sepatu saatku berlari dan melukai kakiku. Di belakang, aku bisa mendengarnya—derap kaki sebesar batang pohon yang berdebam menghantam tanah, dan geraman yang menggetarkan jantung hingga membuatnya berdetak dengan irama yang kacau.
Genderuwo itu sudah mengejarku sejak fajar.
Aku tidak sempat menoleh untuk melihat seberapa dekat dia sekarang. Aku tahu dari cara bulu kudukku berdiri, dari bau tanah basah dan busuk yang semakin pekat di udara, bahwa jarak antara kami semakin dekat. Reruntuhan di sekelilingku…dulu katanya ini kota, dulu katanya di sini ada rumah-rumah, jalan aspal dan lampu yang menyala sepanjang malam. Sekarang hanya menjadi labirin puing yang membuatku tersandung dan tersungkur. Namun aku juga bersyukur dengan adanya labirin ini, yang menyembunyikan wujudku dari penglihatan Genderuwo itu.
Gumuk pasir di depanku menjulang seperti bukit kecil, aku merasakan dorongan keharusan untuk menaiki tempat tersebut. Aku memaksa kakiku memanjat meski setiap otot kakiku menjerit kesakitan. Dari puncaknya aku bisa melihat tebing karst di kejauhan, garis pantai yang menghitam, dan di sana, sekitar 10 meter dari bibir pantai, dikelilingi oleh ombak dan percikan air……gerbang itu.
Gerbang candi hitam.
Aku sudah hafal bentuknya dari cerita yang diwariskan turun-temurun di antara reruntuhan tempat aku dibesarkan: dua pilar batu bata merah yang disusun mengerucut ke atas, yang dengan gagahnya masih berdiri ditengah terpaan ombak laut selatan. Beberapa bagiannya sudah menghitam dan berlumut, rusak dan rontok, akan tetapi siluetnya masih menjulang tinggi di tempat yang tidak seharusnya sebuah bangunan berada. Legenda bilang di baliknya tersimpan senjata yang bisa menyelamatkan manusia. Menyelamatkan kami dari kepunahan dan penindasan. Legenda itu jugalah yang membuatku meninggalkan tempat perlindunganku, berjalan berhari-hari melewati tanah tak bertuan, hanya untuk sampai di sini, babak belur, kehabisan napas, dan diburu oleh sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih cepat dariku.
Aku menoleh.
Kesalahan besar.
Genderuwo itu lebih dekat dari yang kukira, tubuhnya yang menjulang gelap, matanya yang menyala merah terang di antara rambut lebat yang menutupi wajahnya, dan tangannya yang terulur dengan kuku tajam sepanjang lenganku. Makluk itu sudah berada di bawah gumuk pasir tempatku berada. Dia berteriak keras ke arahku dengan suara yang menggelegar dan memekakan telinga. Aku terdiam dan menjerit tanpa suara, paru-paruku sudah tak punya cukup udara untuk benar-benar berteriak, untungnya angin laut yang dingin menampar pipiku untuk segera sadar dari kepanikanku. Aku melempar tubuhku menuruni sisi gumuk pasir, berguling, merasakan pasir masuk ke mulut dan luka - lukaku.
Gerbang itu berada di depanku, aku tak tahu berapa meter lagi jarak antara aku dan gerbang itu, aku tak peduli, aku hanya bisa berlari. Aku berlari. Aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya berlari tanpa rasa sakit, setiap langkah mengirim ngilu dari luka di kakiku ke seluruh tubuh, tapi aku tidak berhenti. Di belakangku suara geraman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip dengan tawa ejekan, seolah dia tahu aku tak akan sampai.
Semakin dekat.
Bersamaan dengan kakiku yang bertabrakan dengan ombak laut, Sesuatu menyambar punggungku, hanya ujung kukunya yang menggores, tapi cukup untuk membuatku limbung dan jatuh berlutut. Cipratan air asin memasuki mulutku. Rasa panas menjalar dari bahu ke tulang belakangku. Aku menggigit bibir sampai berdarah dan memaksa diriku bangkit lagi dan terus melangkah. Aku mendengar tawa makluk biadab itu dibelakangku, mentertawakan perjuangan dan semangat hidupku.
Semakin dekat.
Aku bisa melihat detail pilar gerbang itu sekarang, lumut yang menutupi hampir seluruh permukaannya, retakan yang menjalar seperti sungai kecil di batu, dan kegelapan di antara dua pilar itu yang terasa aneh, seolah bukan sekadar bayangan, walaupun cuaca sedang mendung gelap. Air laut yang semakin dalam membuat setiap langkahku semakin berat, dan Perih luka-lukaku yang terkena air laut senantiasa mencambukku untuk terus berjalan.
Sangat dekat.
Cakar itu menyambar lagi, kali ini mengoyak sisi pinggangku. Aku menjerit, kali ini suaraku benar-benar keluar, aku menjatuhkan diri ke depan karena kakiku sudah menyerah, kepalaku terbenam ke dalam air, akan tetapi tanganku masih terulur, aku belum menyerah, aku tak ingin menyerah hingga ujung jariku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Tangga candi itu.
Dan dunia berubah.
Bukan seperti berjalan melewati pintu. Lebih seperti seluruh tubuhku ditarik dan diperas melalui celah yang terlalu sempit untuk kulewati, lalu dilepaskan begitu saja ke sisi lain yang tak bisa kupahami. Suara geraman genderuwo, bau busuk, air laut yang asin yang melukaiku, semuanya lenyap dalam sepersekian detik, digantikan oleh keheningan yang begitu total sampai telingaku berdenging.
Aku jatuh ke tanah yang lembut. Basah. Rerumputan dan lumpur, bukan pasir. Aku memaksa mataku terbuka, meski kepalaku berputar dan penglihatanku mengabur di tepi-tepinya. Yang kulihat membuatku lupa sejenak pada rasa sakit di sekujur tubuhku.
Hijau.
Hijau di mana-mana, pepohonan yang menjulang tinggi dengan dedaunan lebat, lereng-lereng bukit yang berlapis kabut tipis, dan langit yang berwarna biru cerah tanpa cela, tanpa asap, tanpa apa pun. Udara di sini dingin dan bersih, membawa aroma tanah basah dan bunga yang tidak pernah kucium sebelumnya. Di kejauhan aku mendengar suara air mengalir, dan burung—burung sungguhan, bukan bayangan makhluk yang menyerupainya berkicau di dahan-dahan.
Ini bukan Parangtritis.
Ini bukan dunia yang kutinggalkan.
Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku tak lagi mau menurut. Setiap gerakan mengirim gelombang nyeri baru dari luka-lukaku, dan pinggiran penglihatanku mulai menghitam. Aku merangkak menuju suara air itu, entah kenapa, instingku mengatakan air berarti kehidupan, air berarti harapan, sebelum tubuhku menyerah sepenuhnya dan kepalaku ambruk di tepi sungai kecil yang jernih, dengan wajahku menyentuh permukaan air yang dingin. Yang terakhir kuingat adalah bayangan sesuatu, seseorang, bergerak cepat ke arahku dari seberang sungai, dan suara langkah kaki menembus sungai yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Lalu semuanya gelap.