2. Yang Mengintip dari Kegelapan
Sinar hangat menyentuh wajahku sebelum aku benar-benar sadar. Bukan matahari, akan tetapi lebih lembut, bergerak-gerak, seperti tari-tarian dari masa lalu.
Aku membuka mata perlahan, dan hal pertama yang kulihat adalah langit-langit dari kayu dan jerami, dianyam rapat oleh tangan yang jelas sudah lama terlatih melakukannya. Api kecil menyala di tengah ruangan, di dalam cekungan batu yang dikelilingi kerikil, melemparkan cahaya oranye yang bergoyang lembut ke seluruh sudut tempat ini. Asap tipis mengambang di udara, bercampur dengan bau kayu terbakar dan sesuatu yang manis—entah ramuan, entah getah pohon yang dibakar dengan sengaja.
Aku tidak mengenal tempat ini.
Dinding-dindingnya kayu gelondongan, disusun rapat dengan rapi, dan di beberapa bagian yang memang sengaja dibiarkan terbuka sedikit untuk sirkulasi udara. Di salah satu dinding tergantung jaring ikan yang sudah using, gulungan tali, dan sebilah pedang dengan sarung kulit yang sudah retak-retak di beberapa sisi.
Aku mencoba duduk. Rasa nyeri langsung menyambar dari seluruh tubuhku, menjalar ke tulang belakang seperti sengatan listrik. Aku mendesis, tanganku otomatis mencengkeram sisi tubuh yang terluka.
“Jangan bergerak dulu.”
Aku terlonjak. Suara itu datang dari sudut ruangan yang tidak sempat kuperiksa—suara yang dalam, tenang, seperti milik seseorang yang sudah lama sekali tidak perlu terburu-buru untuk apa pun di dunia ini. Aku menoleh, dan untuk pertama kalinya aku melihatnya dengan jelas. Seorang pria. Mungkin awal tiga puluhan, meski ada sesuatu di sorot matanya yang terasa jauh lebih tua dari itu—seperti seseorang yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal untuk orang seusianya. Kain pakaiannya kasar, berwarna cokelat tanah, dijahit dan ditambal berkali-kali di berbagai tempat, dengan potongan yang asing bagiku. Bukan seperti pakaian siapa pun yang pernah kutemui di reruntuhan tempatku dibesarkan. Lebih mirip sesuatu yang kulihat dalam ilustrasi buku-buku sejarah lama yang tersisa—dari zaman kerajaan yang runtuh jauh sebelum dunia bahkan runtuh untuk kedua kalinya.
Ia berjalan mendekat dengan mangkuk bulat yang terbuat dari buah kelapa, berisi air jernih.Gerakannya hati-hati, seperti mendekati binatang liar yang bisa menyerang kapan pun.
“Kau kehilangan banyak darah,” katanya.
“Aku sudah merawat dan membersihkan lukamu semampuku. Beberapa butuh waktu untuk sembuh.”
Aku menatap perban kasar dari kain usang yang membalut pinggangku, bahuku, dan salah satu betisku. Kain yang dipakainya untuk membalut terlihat sudah lama disiapkan, seolah ia sudah lama menunggu untuk digunakan.
“Di mana aku?” Suaraku serak, nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri.
Ia berhenti sejenak, menatapku dengan sesuatu yang sulit kubaca. Bukan curiga sepenuhnya. Bukan juga ramah. Semacam kewaspadaan yang sudah terlalu lelah untuk benar-benar waspada.
“Tempat yang sudah lama sekali tidak kedatangan siapa pun,” jawabnya pelan.
“Aku menemukanmu pingsan di sungai. Berdarah begitu banyak hingga aku kira kau tidak akan bangun lagi.”
Aku menatap sekeliling gubuk sekali lagi, mencoba memahami semuanya sekaligus—dunia hijau yang kulihat sebelum aku pingsan, keheningan yang begitu total hingga terasa asing di telingaku, pria ini dengan segala hal tentangnya yang terasa dicuri dari masa yang jauh lebih lampau dari yang pernah kukenal.
“Bagaimana aku bisa sampai di sini?” Aku memaksa diriku bicara meski tenggorokanku kering. “Aku—aku masuk lewat gerbang. Gerbang candi. Aku dikejar—”
Sesuatu berkelebat di wajahnya. Begitu cepat hingga aku nyaris tak yakin benar-benar melihatnya, sebelum wajahnya kembali datar seperti semula.
“Genderuwo,” katanya. Bukan pertanyaan.
Aku tersentak. “Bagaimana kau tahu—”
“Karena hanya itu yang cukup gila untuk mengejar seseorang sampai ke ambang gerbang.” Ia meletakkan mangkuk air di dekatku, lalu duduk di atas balok kayu tak jauh dariku—cukup dekat untuk merawatku, dan cukup jauh untuk terasa disengaja.
“Kau beruntung bisa sampai ke sini hidup-hidup. Atau tidak beruntung. Aku belum tahu yang mana.”
Aku mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Ia tidak menjawab. Matanya justru berpindah ke arah pintu gubuk—hanya sekilas, tapi cukup lama untuk membuat sesuatu di dadaku terasa dingin.
“Minumlah,” katanya, mengabaikan pertanyaanku. “Kau membutuhkannya. Lukamu tidak akan sembuh kalau tubuhmu dalam keadaan kekurangan darah dan air sekaligus.”
Aku meraih mangkuk itu dengan tangan gemetar, meminumnya perlahan. Airnya dingin dan bersih, tidak seperti air yang pernah kuminum sebelumnya—tidak ada rasa logam berkarat, tidak ada bau busuk yang biasa menyertai setiap sumber air yang kutemukan di dunia luar.
“Siapa kau?” tanyaku akhirnya, menatapnya lurus-lurus.
“Kenapa kau ada di sini sendirian?”
Untuk pertama kalinya, sesuatu yang menyerupai senyum kecil muncul di sudut bibirnya—tapi itu bukan senyum bahagia. Lebih seperti senyum seseorang yang sudah lama berhenti mengharapkan pertanyaan itu dijawab dengan mudah.
“Pertanyaan yang bagus,” katanya pelan, tanpa benar-benar menjawabnya. “Tapi kau baru saja nyaris mati. Istirahatlah dulu. Ada waktu untuk semua pertanyaan itu nanti.”
Aku ingin mendesak, ingin memaksanya menjawab—siapa dia, sudah berapa lama dia di sini, kenapa tempat ini begitu berbeda dari semua tempat yang pernah kukenal, dan yang paling penting, bagaimana caranya keluar dari sini dan menemukan senjata yang kucari. Tapi rasa lelah yang begitu berat mulai menarikku turun, seperti arus deras yang tak mampu kulawan lagi. Sebelum aku sempat mengucapkan kata lain, kelopak mataku sudah menutup sendiri, dan aku tenggelam kembali ke dalam kegelapan yang, anehnya, terasa hangat.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur.
Yang membangunkanku bukan cahaya, bukan suara langkah kaki, bukan juga mimpi buruk seperti biasanya. Yang membangunkanku adalah getaran—halus, berirama, seperti detak jantung raksasa yang merambat naik dari tanah, melalui balok-balok kayu penyangga gubuk, hingga ke tulang punggungku sendiri. Setiap getaran semakin dekat, semakin kuat, sebelum akhirnya berhenti tepat di luar dinding.
Mataku terbuka perlahan. Jantungku sudah berdegup kencang sebelum otakku sepenuhnya sadar kenapa.
Api di tengah ruangan sudah mengecil menjadi bara, melemparkan bayangan panjang yang bergoyang di sepanjang dinding kayu. Pria itu duduk tidak jauh dariku, punggungnya menghadap ke arahku, tubuhnya diam sempurna—terlalu diam untuk seseorang yang sedang beristirahat. Ia sedang memperhatikan sesuatu. Sesuatu di luar.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Dan aku melihatnya.
Di celah sempit antara kayu-kayu dinding gubuk—celah yang seharusnya terlalu kecil untuk dilewati apa pun selain angin malam—satu mata raksasa memenuhi seluruh lubang itu, menyala merah pudar dalam kegelapan. Hanya satu, menekan begitu dekat hingga aku bisa melihat urat-urat gelap yang menjalar di sekitar bola matanya, terlalu besar untuk muat sepenuhnya di celah sesempit itu. Sesuatu yang sebesar itu, setinggi pohon kelapa, pasti sedang membungkuk rendah-rendah di luar sana, menekuk tubuh raksasanya hanya untuk mengintip ke dalam sebuah gubuk yang baginya mungkin tak lebih besar dari kotak kayu mainan.
Mengintip.
Tidak bergerak. Tidak berkedip. Hanya menunggu.
Napasku tercekat di tenggorokan, dan tanpa sadar, tanganku bergerak mencari sesuatu—apa pun—untuk digenggam, seolah tubuhku sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum pikiranku sempat menyusulnya.