# Sarung Pedang Chapter 10: Sarung yang Terbuka
Aku belum sempat kembali ke sudut tempat tinggalku ketika salah satu penjaga muda menemukanku, memberitahuku bahwa Nyai Sekar memintaku ikut kembali ke ruang isolasi. Jantungku berdegup kencang sepanjang perjalanan kembali, tidak yakin apakah ini pertanda baik atau justru sebaliknya. Nyai Sekar sudah berdiri di depan sel ketika aku tiba, dengan Dirga di sampingnya, tombaknya tergantung santai di satu tangan meski matanya tetap waspada mengawasi Aksa di balik jeruji kayu. "Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya," kata Nyai Sekar tanpa berbasa-basi, menatapku sekilas sebelum kembali menghadap sel. "Kau boleh tinggal, Asa. Tapi diam, dan dengarkan saja." Aku mengangguk, berdiri di sudut ruangan yang cukup gelap, sementara Nyai Sekar melangkah mendekati jeruji, menatap Aksa dengan tatapan yang sama tajamnya seperti pertemuan pertama kami. "Ceritakan lagi," katanya. "Dari awal. Asalmu, bagaimana kau menemukan Asa, semuanya." Aksa menceritakan semuanya persis seperti yang ia ceritakan padaku—gerbang, dimensi yang waktunya berhenti, tahun 2025, segel yang melemah. Ia tidak menambahkan atau mengurangi apa pun, suaranya tetap tenang meski aku tahu betapa sulitnya mengulang cerita yang begitu mustahil kepada orang yang jelas sudah memutuskan untuk tidak mempercayainya. Nyai Sekar mendengarkan dalam diam, wajahnya tidak menunjukkan apa pun sampai Aksa selesai bicara. "Aku sudah hidup lebih dari tujuh puluh tahun di dalam gua ini," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. "Aku sudah mendengar banyak cerita, banyak alasan, banyak kebohongan yang dibungkus sebagai kebenaran. Ceritamu ini adalah salah satu yang paling aneh yang pernah kudengar." Ia terdiam sejenak. "Tapi aku juga sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa dunia ini penuh hal-hal aneh yang tidak selalu bisa dijelaskan akal sehat. Aku tidak sepenuhnya mempercayaimu, Aksa. Tapi aku juga tidak akan mengabaikan kemungkinan bahwa kau memang berkata jujur." "Itu lebih dari yang kuharapkan," jawab Aksa sederhana. "Jangan salah paham," lanjut Nyai Sekar, "ini bukan pembebasan. Kau tetap di sini sampai aku benar-benar yakin. Tapi aku akan mempertimbangkan semua yang kau katakan dengan pikiran terbuka, bukan sekadar ketakutan." Ia menatapku sekilas. "Itu lebih dari yang biasanya kuberikan pada orang asing, Asa. Jangan buat aku menyesalinya." Dengan itu, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan aku, Dirga, dan Aksa di ruang isolasi yang temaram. Aku pikir Dirga akan ikut pergi bersamanya, tapi ia justru tetap berdiri di tempatnya, menatap kepergian Nyai Sekar dengan ekspresi yang perlahan berubah dari hormat menjadi sesuatu yang lebih sinis. "Dia semakin tua," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri, tapi cukup keras untuk kudengar. "Dulu dia tidak akan pernah memberi keringanan seperti ini pada orang asing manapun." "Dirga," kataku, mencoba memperingatkannya untuk tidak melanjutkan, tapi ia sudah menoleh ke arahku dengan senyum sinis yang membuatku semakin tidak nyaman. "Dan kau," katanya, "mempercayai cerita seperti itu. Gerbang ke dimensi lain, waktu yang berhenti. Kau dengar sendiri betapa konyolnya semua itu, Asa, tapi kau tetap membelanya seolah dia semacam pahlawan." "Dia menyelamatkanku," ulangku, lelah harus mengatakan hal yang sama berkali-kali kepada orang yang jelas tidak berniat mendengarkan. Dirga mendengus, lalu perhatiannya beralih ke pedang Aksa yang tergeletak di atas meja kayu dekat pintu masuk, disita sejak kedatangan mereka. Ia melangkah mendekat, mengangkat sarungnya, memeriksa gagangnya dengan tatapan meremehkan. "Pedang biasa," katanya, mengulang kata-kata yang sudah kudengar berkali-kali sejak Aksa pertama kali mengucapkannya di reruntuhan gubuk, tapi kali ini dengan nada mengejek. "Tidak ada yang istimewa dari benda ini. Sama seperti ceritanya." Ia mulai menarik gagang pedang itu keluar dari sarungnya, hendak memeriksa bilahnya lebih dekat. "Jangan," kata Aksa tiba-tiba, suaranya berubah—bukan lagi tenang seperti biasanya, tapi mendesak, hampir tajam. Ia bergerak mendekati jeruji secepat yang bisa dilakukan tangan terikatnya. "Jangan buka sarungnya." Dirga berhenti sejenak, menatap Aksa dengan alis terangkat. "Kenapa? Takut aku menemukan sesuatu yang membuktikan kau berbohong?" "Pedang itu sudah membunuh banyak makhluk gaib," kata Aksa, kata-katanya cepat dan penuh tekanan, jauh berbeda dari caranya bicara biasanya. "Aku tidak tahu persis bagaimana, tapi ada sesuatu yang menempel padanya—sesuatu yang bisa dikenali makhluk gaib lain, terutama yang lebih kuat. Selama tersarung, itu tersembunyi. Begitu terbuka, aku tidak bisa menjamin apa yang mungkin tertarik mendekat." Untuk sesaat, aku melihat keraguan berkelebat di mata Dirga—cukup lama untuk membuatku berharap ia akan mendengarkan. Tapi kemudian bibirnya melengkung jadi senyum mengejek yang lebih lebar dari sebelumnya. "Kau pikir aku akan percaya ancaman kosong seperti itu?" katanya, lalu menarik bilah pedang itu sepenuhnya keluar dari sarungnya, memutar-mutarnya di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, seolah sengaja memamerkan keberaniannya di depan kami berdua. "Lihat? Cuma logam biasa. Sama seperti yang kukatakan." "Dirga," kataku, suaraku bergetar, entah karena takut atau karena firasat buruk yang tiba-tiba mencengkeram dadaku. "Masukkan kembali. Kumohon." Ia mendengus, tapi sesuatu dalam suaraku—atau mungkin dalam wajah Aksa yang kini benar-benar menunjukkan kekhawatiran nyata untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—membuatnya ragu sejenak. Ia memandang bilah pedang itu sekali lagi, lalu ke arah kami berdua, seolah menimbang apakah mempertahankan gengsinya sepadan dengan meredakan ketakutan yang jelas mulai menjalar di ruangan itu. Lalu dari kejauhan, jauh di luar gua, terdengar sesuatu—lolongan panjang yang bukan berasal dari makhluk mana pun yang pernah kudengar sebelumnya, menggema melalui lorong-lorong batu seolah gua ini sendiri yang menjerit. Wajah Dirga memucat. Aksa memejamkan matanya sejenak, dan ketika membukanya kembali, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajahnya—bukan lagi kekhawatiran, melainkan kepastian kelam yang sudah lama ia takutkan akan terjadi. "Masukkan pedang itu kembali ke sarungnya," katanya, suaranya kini benar-benar tenang, tapi dengan cara yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan sekalipun. "Sekarang. Dan bangunkan semua orang." Untuk pertama kalinya, Dirga tidak membantah.