# Chapter9: Kepercayaan yang Tersisa
Nyai Sekar mendengarkan seluruh ceritaku tanpa menyela sekali pun, duduk diam dengan tangan terlipat di pangkuannya sementara aku menjelaskan semuanya—gerbang candi hitam, dunia lain yang waktunya berhenti, pertarungan melawan genderuwo, dan Aksa yang menyelamatkanku, lalu memutuskan mengantarku pulang. Aku tidak menyembunyikan apa pun, kecuali satu hal yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya memahaminya—jeda kecil di mata Aksa setiap kali sesuatu menyentuh bagian tertentu dari masa lalunya, dan firasat bahwa ada lebih banyak yang ia sembunyikan daripada yang ia bagikan. Itu bukan milikku untuk diceritakan. Ketika aku selesai, Nyai Sekar diam cukup lama, matanya menerawang ke arah dinding gua yang dipenuhi ukiran-ukiran tua yang sudah ada sejak sebelum aku lahir. "Kau percaya padanya," katanya akhirnya, bukan pertanyaan. "Ya," jawabku tanpa ragu. "Dia menyelamatkanku, Nyai. Dua kali. Dia bisa saja meninggalkanku begitu saja setelah aku sadar di gubuknya. Dia tidak perlu mengantarku sejauh ini." "Atau dia punya alasan lain yang belum kau ketahui," jawab Nyai Sekar, tidak kejam, hanya realistis. "Aku sudah hidup cukup lama untuk tahu bahwa niat baik dan niat tersembunyi bisa terlihat sama persis dari luar, Asa." Aku tidak punya jawaban untuk itu, karena sebagian diriku tahu dia mungkin benar—ada sesuatu yang Aksa sembunyikan, aku hanya belum tahu apa itu. "Aku akan mempertimbangkannya," lanjut Nyai Sekar, mengakhiri percakapan itu dengan nada yang tidak memberi ruang untuk didebat lebih jauh. "Sementara itu, dia tetap di sana. Dan kau—" Ia menatapku lebih lama, sesuatu yang menyerupai kekhawatiran asli muncul sesaat di wajahnya yang biasanya begitu terkendali. "Berhati-hatilah dengan siapa kau bicara di luar sana. Tidak semua orang akan sabar menunggu keputusanku." Peringatan itu terbukti benar lebih cepat dari yang kuduga. Begitu aku keluar dari ruang tetua, aku bisa merasakan tatapan-tatapan itu sebelum aku benar-benar melihatnya—mata yang mengikuti setiap langkahku menyusuri lorong menuju sudut tempat tinggalku sendiri, bisik-bisik yang sengaja tidak direndahkan cukup untuk tidak kudengar. "...pasti dia yang membawanya kemari..." "...sama seperti dulu, tidak pernah belajar..." Aku terus berjalan, mencoba tidak menunjukkan betapa dalam kata-kata itu menusuk, sampai seseorang sengaja menghalangi jalanku—seorang pria yang kukenal sebagai salah satu petugas ladang jamur, wajahnya keras oleh kemarahan yang sudah lama ia simpan. "Kau tidak pernah berpikir sebelum bertindak, ya?" katanya, suaranya cukup keras untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar kami. "Orang tuamu membawa bencana ke tempat ini sekali, dan sekarang kau membawa orang asing yang bahkan tidak bisa menjelaskan dari mana asalnya." "Dia menyelamatkan nyawaku," balasku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang meski tanganku mulai gemetar. "Kalau bukan karena dia, aku sudah mati di reruntuhan itu." "Mungkin lebih baik begitu," seseorang lain menyahut dari belakangnya, dan kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada tamparan sungguhan. "Cukup." Suara Wening memotong sebelum aku sempat merespons, muncul dari kerumunan dengan wajah yang jarang kulihat—marah, benar-benar marah, sesuatu yang tidak biasa untuknya yang selalu tenang. "Dia baru saja kembali dari kematian, dan ini caramu menyambutnya?" "Wening, ini bukan urusanmu—" "Ini urusanku kalau kalian menyerang sahabatku di depan mataku," potongnya tajam, berdiri tepat di sampingku sekarang, seolah tubuhnya sendiri jadi penghalang antara aku dan kerumunan itu. "Kalian belum tahu apa-apa soal pria itu, tapi kalian sudah memutuskan dia berbahaya. Persis seperti yang kalian lakukan pada orang tua Asa, sebelum kalian benar-benar tahu apa yang terjadi pada mereka." Hening menyusul, canggung dan tegang, sebelum kerumunan itu perlahan membubarkan diri, meski aku masih bisa merasakan sisa-sisa tatapan mencurigakan mengikuti kami saat Wening menarik tanganku menjauh dari lorong utama. "Terima kasih," bisikku begitu kami cukup jauh dari telinga orang lain. "Kau tidak perlu berterima kasih," jawabnya, meremas tanganku erat. "Aku pikir kau sudah mati, Asa. Aku sudah menangisimu. Aku tidak akan diam saja membiarkan mereka memperlakukanmu seperti ini, apalagi setelah semua yang sudah kau lalui." Kami duduk di sudut sepi dekat ruang tumbuh, dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali, aku merasa cukup aman untuk membiarkan sebagian tembok yang kubangun sepanjang perjalanan runtuh sedikit. "Kau percaya padanya?" tanyaku pelan. "Pada Aksa, maksudku. Kau bahkan belum bicara dengannya." Wening terdiam sejenak, matanya menerawang ke arah lorong menuju ruang isolasi tempat Aksa ditahan. "Aku tidak tahu apakah legenda soal senjata itu benar," katanya akhirnya, jujur seperti biasanya. "Aku tidak tahu apakah pria itu benar-benar seperti yang kau ceritakan. Tapi aku tahu kau, Asa. Aku mengenalmu sejak kita masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa dunia ini seburuk ini. Kalau kau percaya padanya, itu cukup bagiku untuk setidaknya memberinya kesempatan." Kata-kata itu menghangatkan sesuatu di dadaku yang sudah lama terasa dingin, meski aku tahu kehangatan itu rapuh, terancam oleh ketakutan kolektif yang mengelilingi kami di setiap sudut gua ini. "Aku ingin menemuinya," kata Wening tiba-tiba, berdiri dari duduknya. "Aksa, maksudku. Aku ingin melihat sendiri siapa orang yang membuatmu selamat." Aku tidak yakin itu ide yang baik—Dirga dan para penjaga lain jelas tidak akan menyukai kunjungan semacam itu—tapi ada sesuatu dalam tekad di wajah Wening yang membuatku tahu ia sudah memutuskan, dengan atau tanpa persetujuanku. Ruang isolasi hanya diterangi satu lampu minyak kecil, cahayanya nyaris tidak cukup untuk menerangi sosok Aksa yang duduk bersandar di dinding batu, tangannya masih terikat di depan tubuhnya sekarang, matanya terpejam meski aku ragu dia benar-benar tidur. Ia membuka mata begitu mendengar langkah kami, tidak terkejut, seolah sudah mendengar kami mendekat jauh sebelum kami sampai. "Asa," katanya, suaranya tetap tenang seperti biasa, lalu matanya beralih ke Wening dengan kewaspadaan yang halus namun jelas. "Ini Wening," kataku. "Sahabatku." Wening berdiri di ambang pintu sel sejenak, matanya menilai Aksa dengan cara yang sama seperti Nyai Sekar tadi—mencoba membaca sesuatu yang tidak kasat mata. "Aku tidak tahu apakah legenda soal senjata itu nyata," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang biasa kudengar, hampir seperti pengakuan. "Aku tidak tahu apakah kau benar-benar seperti yang diceritakan Asa. Tapi dia mempercayaimu, dan hidupku sudah cukup lama diisi ketakutan tanpa alasan yang jelas untuk tahu bedanya dengan harapan tanpa bukti yang jelas juga." Ia menghela napas. "Jadi aku memilih percaya. Bahkan kalau ternyata ini semua hanya cerita tidur yang tidak pernah jadi kenyataan." Aksa menatapnya lama, dan aku bisa melihat sesuatu bergeser di wajahnya—bukan keterkejutan besar, tapi pengakuan kecil, seolah kata-kata Wening menyentuh sesuatu yang jarang ia temui belakangan ini. "Terima kasih," katanya akhirnya, sederhana, tapi tulus. "Kepercayaan tanpa bukti adalah hal yang paling sulit diberikan siapa pun. Aku tidak akan menyia-nyiakannya." Wening mengangguk pelan, lalu menatapku sekali lagi sebelum berbalik meninggalkan ruang isolasi, memberi kami sedikit waktu berdua. "Bagaimana keadaanmu?" tanyaku begitu Wening pergi, memperhatikan tangannya yang masih terikat. "Aku baik-baik saja," jawabnya. "Ini bukan penderitaan pertamaku, dan kurasa bukan yang terakhir." Ia terdiam sejenak. "Bagaimana denganmu? Mereka mengatakan sesuatu di luar sana?" Aku ragu-ragu, tidak ingin menambah bebannya dengan bebanku sendiri, tapi sesuatu dalam tatapannya membuatku tahu berbohong bukan pilihan yang akan ia terima. "Beberapa orang mengatakan hal-hal yang menyakitkan," akuku akhirnya. "Soal orang tuaku. Soal aku yang mengulangi kesalahan mereka." Rahang Aksa mengeras, sesuatu yang jarang kulihat sejak mengenalnya. "Mereka salah." "Mungkin tidak sepenuhnya," kataku pelan, mengejutkan diriku sendiri dengan kejujuran itu. "Aku memang membawamu kemari, Aksa. Kalau ternyata kau membawa bahaya yang tidak kusadari, itu akan jadi kesalahanku juga." Ia menatapku lama, dan untuk sesaat aku pikir ia akan membantah, meyakinkanku seperti yang mungkin dilakukan orang lain. Tapi Aksa tidak pernah berbohong, bahkan untuk menenangkan. "Aku tidak bisa berjanji aku tidak membawa bahaya," katanya jujur, kata-kata itu terasa lebih berat justru karena kejujurannya. Aku tidak tahu harus merasa lega atau semakin takut mendengar kalimat itu.