# 3화 — Chapter 3 : Shadows Behind Destiny
Gadis berambut pendek yang bergelombang dengan mata merah itu menatapku dengan seksama, menunggu jawabanku. Bukan karena aku tidak ingin menjawab atau menyembunyikan identitasku yang sebenarnya, namun aku terlalu bingung jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya.
Masalah diriku yang terlempar ke tempat aneh ini saja sudah membuatku pusing, bagaimana bisa tiba-tiba ada cerita seorang gadis yang mencurigaiku karena masalah yang menimpa kakeknya itu.
Aku mencoba memutar otak untuk mencari jawaban yang pas agar perempuan di depanku ini puas dengan satu jawaban saja.
“Hmmm....” Gumamku.
Tatapan perempuan itu semakin tajam padaku, yang menandakan bahwa tekadnya untuk mendapatkan jawaban dariku tidak pudar.
“Aku kurang yakin apakah ini jawaban yang kau inginkan... namun, sebelumnya apakah selama di bumi... kau tidak pernah melihatku? Semacam di TV atau berita di surat kabar, majalah begitu?” Tanyaku pada perempuan yang menatapku bingung sesaat.
“Hah? Apa maksutmu? Apa sekarang kau ingin berkata bahwa dirimu adalah artis atau idol korea selama di bumi? Kalau begitu anggap saja pembicaraan kita sebelumnya tidak pernah ada, lupakan. Terima kasih”
Gadis itu mengatakan dengan memasang wajah malas dan tidak percaya padaku. Aku terlonjak kaget dengan kesimpulan liar sepihaknya tanpa memikirkannya lagi.
“Bu-bukan hal semacam itu! Hahhh~” Ucapku menghela nafas sembari memegang kepalaku. “Apakah kau kenal seseorang yang bernama Seo Hunter?” Tanyaku to the point. Aku melihatnya sedang menatap langit seperti mengingat-ingat sesuatu. “Seo Hunter? Sepertinya aku pernah membaca nama itu di suatu tempat.” Jawabnya. “Apakah selama di bumi kau tidak pernah mendengar atau melihatnya di TV?” Tanyaku lebih mendesak.
Gadis itu sesaat berpikir dengan keras, dan tiba-tiba dia menjentikkan jarinya di udara dengan semangat. “Ahhh hunter no.1 di Korea itu maksutmut? Sang genius dari anak ilmuwan? Sepertinya aku mengingatnya, namun aku tidak terlalu tahu bagaimana wajahnya.” Jawabnya sedikit ragu.
Aku diam sejenak melihatnya. “Kenapa kedengarannya seperti kau tidak pernah melihatnya?” Tanyaku penasaran. “Oh, aku pindah ke Korea lagi saat aku di tahun pertama sekolah menengah akhir. Selama ini aku di Amerika dan terkadang pindah ke Jerman karena pekerjaan orang tuaku. Jadi, aku tidak terlalu tahu berita terkini di Korea.” Aku mengangguk atas jawabannya. Karena itulah, dia tidak terlalu mengenal diriku. Namun tiba-tiba terlintas pertanyaan dalam benakku.
“Kalau begitu, apa posisimu selama di bumi sebelumnya? Sepertinya kau memiliki banyak waktu untuk berpindah-pindah negara.” “Aku seorang healer.” Jawabnya singkat.
Aku melotot tak percaya atas jawaban darinya yang tanpa berpikir panjang. Dia melihatku dengan tatapan aneh setelah melihat reaksiku kepadanya.
"Apa itu? mengapa paman terkejut?" Tanyanya bingung.
"Terserah kalau paman tidak percaya, tapi jangan hanya melihat dari luarnya saja. Walaupun aku seperti ini, aku benar-benar seorang healer."
Aku terdiam, sesaat aku meragukannya karena penampilan eksentriknya yang sangat tidak menunjukkan dirinya sebagai seorang heaker.
Aku berdeham untuk mencairkan suasana canggung yang memenuhi atmosfer diantara kita.
"Omong-omong, siapa namamu? Sepertinya kita belum berkenalan dengan benar." Tanyaku mengubah topik pembicaraan.
"Aku Han Daeun, umurku 19 tahun. Kalau paman?"
Seo Hunter terdiam sejenak, bukan karena tidak mengerti, melainkan pikirannya dipenuhi pertanyaan yang mengusik dirinya sedari tadi.
‘Paman? Kenapa dia selalu memanggilku paman, aku masih 23 tahun!’ Gerutu Hunter dalam batinnya.
Gadis berambut pendek gelombang dengan mata merah itu terus menatapku dengan seksama. Angin sore berhembus cukup kencang dari arah lembah, menggoyangkan dedaunan di sepanjang tepi sungai dan membawa aroma tanah basah yang dingin. Suara gemericik air yang menghantam bebatuan seolah menjadi satu-satunya latar belakang yang mengisi ketegangan di antara kami.
"Han Daeun..." panggilku pelan, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menghimpit. Aku memperbaiki posisi dudukku di atas batu kali yang dingin.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau kakekmu berubah setelah melihatku?"
Daeun menghentikan gerakan tangannya yang sedang memainkan kerikil sungai. Ia melempar kerikil terakhir ke tengah aliran air, menciptakan kecipak kecil sebelum menghela napas panjang. Ia menatap pantulan air sungai yang mulai berwarna keemasan terpapar sinar matahari sore yang kian condong ke barat.
"Paman, kakekku itu memang sudah pikun sejak kami terdampar di sini, tapi dia punya ingatan fotografis untuk hal-hal dari masa lalunya saat masih aktif bekerja," kata Daeun dengan nada suara yang perlahan melirih.
"Sejak kami terlempar ke Ontaris tujuh bulan lalu, kakek tidak pernah bertindak aneh pada orang-orang lokal. Tapi setiap kali dia melihat bintang di malam hari, dia selalu menggumamkan istilah yang sama. Dia tidak menyebut nama keluarga kami, juga bukan barang dagangan toko. Dia menyebut nama... Project Genesis."
Deg.
Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Dada sebelah kiriku berdenyut nyeri, membawa sensasi sesak yang amat familiar. Project Genesis? Nama itu... bukan sekadar istilah asing. Nama itu terpatri jelas di dalam dokumen-dokumen rahasia yang dulu sering kudapati di atas meja kerja orang tuaku sebelum insiden Dungeon Break berdarah merenggut nyawa mereka di laboratorium pusat Seoul.
"Dan waktu kakek memegang tangan paman di toko kemarin..." Daeun menoleh padaku. Matanya yang berwarna merah jernih menatap lurus ke dalam mataku dengan getaran kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Dia membisikkan kata 'Subjek Utama'. Paman, siapa sebenarnya paman ini? Kenapa paman punya reaksi aneh saat menyentuh Mana Stone di rumah Kakak Yeon Chul? Kenapa paman bertingkah seolah paman tidak tahu apa-apa, tapi semua hal di sekitar paman tampak terhubung dengan tempat ini?".
Aku mengepalkan tanganku di atas lutut, meremas kain celanaku hingga buku-buku jariku memutih. Rasa pusing yang tajam kembali menghantam bagian belakang kepalaku. Bayangan percikan sinar aneh dan pola-pola bergerak dari dua Mana Stone yang kumpulkan di gubuk Yeon Chul mendadak melintas begitu jelas di ingatan. Reaksi aneh itu tidak pernah terjadi pada Yeon Chul.
Mengapa harus aku? Apakah dunia tanpa sistem ini benar-benar planet asing yang berbanding terbalik dari Bumi, atau... tempat ini adalah wujud nyata dari sebuah proyek laboratorium yang melenceng jauh dari kendali?
"Daeun-ah," ucapku dengan suara berat. Suaraku terdengar jauh lebih dalam dan dingin dari biasanya, membuat gadis di hadapanku itu sedikit tersentak. "Bagaimana kalau kuberitahu... bahwa kakekmu mungkin adalah salah satu kolega yang pernah bekerja sama dengan orang tuaku di Seoul?”.
Mata merah Daeun membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, mencoba mencerna kombinasi fakta yang baru saja kudengungkan.
Namun, sebelum gadis 19 tahun itu sempat membalas atau mengajukan pertanyaan lanjutan, sebuah suara langkah kaki yang berat dan mantap menapak kasar di atas hamparan bebatuan sungai dari arah belakang kami.
"Sudah kubilang jangan terlalu jauh berkeliaran, Bong-gu." Suara bariton yang dingin dan berat itu membuat kami berdua spontan menoleh. Yeon Chul berdiri di sana. Sosoknya yang tinggi besar terbungkus jubah dan tudung cokelat tebal yang berkibar perlahan ditimpa angin sore. Mata hijaunya yang berkilau di balik kegelapan tudung menatap lurus ke arah Han Daeun. Dari tubuhnya, memancar aura tekanan yang sangat pekat, hawa membunuh berdingin salju yang biasa dimiliki oleh hunter kelas atas saat berhadapan dengan monster berbahaya di kedalaman dungeon.
Daeun refleks berdiri dari batu kali dan mengambil beberapa langkah mundur di belakang bahuku. Tangannya gemetar kecil. "Kak... Kakak Yeon Chul..." gumamnya gagap.
"Pulanglah ke tokomu, Daeun," ujar Yeon Chul tanpa mengalihkan pandangan hijaunya yang tajam. "Kakekmu sedang mencarimu di sekitar area pasar. Dan mulai besok, jangan pernah menyeberangi jembatan sungai ini lagi tanpa keperluannya yang jelas." "Tapi Kak, aku hanya—" "Pulang," potong Yeon Chul, kali ini dengan nada penekanan mutlak yang tidak menerima bantahan.
Daeun menatapku sebentar dengan tatapan penuh tanda tanya yang belum terjawab. Aku hanya memberikan anggukan kecil padanya, memberi isyarat agar ia menuruti perintah Yeon Chul demi keamanannya. Dengan sedikit cemberut dan langkah bersungut-sungut, Daeun akhirnya membalikkan badan, melintasi jembatan kayu tua yang menghubungkan wilayah pemukiman pasar dengan tempat tinggal kami.
Setelah punggung Daeun benar-benar menghilang di balik kerimbunan pepohonan pemukiman, keheningan kembali melanda. Aku berdiri dan berbalik menghadap pria tinggi di depanku.
"Kenapa kamu harus bersikap sekeras itu padanya, Chul?" tanyaku sambil bersedakap. "Dia cuma anak perempuan yang khawatir dengan kondisi kakeknya."
Yeon Chul tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, menyodorkan sebuah cangkir kayu berisi teh herbal hangat yang asapnya masih mengepul. Ia lalu duduk di atas batu besar yang sebelumnya diduduki Daeun.
"Anak itu terlalu banyak ingin tahu," kata Yeon Chul setelah menyesap tehnya perlahan. "Rasa ingin tahu di tempat ini adalah hal paling berbahaya yang bisa membunuh seseorang dengan cepat. Kamu tidak tahu apa yang ada di balik batas wilayah ini, Hunter.” Yeon Chul memanggil dirinya Hunter kembali setelah Han Daeun menghilang, mungkin Yeon Chul juga berusaha untuk menyembunyikan identitasku pada orang asing.
Aku menerima cangkir teh itu dan ikut duduk tak jauh darinya. "Lalu bagaimana denganku? Apakah aku juga tidak boleh tahu?" tanyaku menantang. "Kakek Daeun mengenalku. Dia menyebut istilah Project Genesis dan memanggilku Subjek Utama. Chul... katakan yang sebenarnya. Kamu sudah dua bulan lebih berada di tempat ini. Apa yang sebenarnya kamu ketahui tentang tempat ini dan hutan di belakang gubuk kita?"
Yeon Chul terdiam lama. Ia memandangi cangkir teh di tangannya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Sinar keemasan matahari sore perlahan menghilang, berganti dengan warna ungu kemerahan yang temaram saat malam mulai merayap naik.
"Tempat ini bukan planet lain, Seo Hunter," ucap Yeon Chul tiba-tiba.
Pernyataan itu membuat tanganku yang memegang cangkir mendadak kaku. Aku menoleh cepat padanya. "Apa maksudmu?"
"Kamu ingat saat gate terakhir meledak di Seoul?" tanya Yeon Chul, matanya menatap lurus ke kegelapan hutan di seberang sungai. "Langit menjadi terdistorsi, warna hitam menelan segalanya, dan sistem kita mendadak menampilkan pesan error sebelum lenyap. Semua orang mengira itu adalah kehancuran. Tapi fakta sebenarnya... ledakan itu bukan berasal dari monster dungeon."
Yeon Chul menghela napas panjang. Hembusan napasnya terasa berat, memecah kesunyian malam yang kian dingin.
"Orang tuamu, ilmuwan terkemuka yang memimpin riset energi mana di Korea, tidak pernah meneliti cara menutup gate," lanjut Yeon Chul dengan suara lirih. "Mereka sedang meneliti cara mengekstraksi inti dimensi. Project Genesis adalah proyek rekonstruksi ruang. Tempat kita berdiri saat ini... Ontaris... adalah ruang buatan yang diciptakan dari kegagalan eksperimen tersebut. Dunia ini adalah 'draf kasar' sebelum dunia kita yang sebenarnya terbentuk."
Kepalaku mendadak berdenyut hebat, seolah ada godam raksasa yang menghantam pelipisku. Rasa mual dan sesak napas yang sangat parah menyerang tubuhku. Bayangan masa lalu yang terlupakan mendadak berputar dalam benakku bagaikan gulungan film tua.
*Kilas Balik: Seoul, 12 Tahun Yang Lalu.*
Suara dengungan mesin laboratorium berteknologi tinggi menggema di seluruh ruangan steril berdinding kaca.
"Bong-gu, jangan menyentuh tabung reaksi itu!" tegur suara seorang pria paruh baya berkacamata yang mengenakan jas lab putih.
Seo Bong-gu kecil yang baru berusia 11 tahun menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh kristal berwarna ungu kebiruan di dalam tabung kaca tertutup. Di samping pria itu, seorang wanita berwajah anggun tersenyum hangat dan mengelus rambut Bong-gu muda.
"Sabar ya, Sayang. Ayah dan Ibu sedang berusaha membuat alat yang bisa melindungi kita semua dari bahaya monster di luar sana," ucap ibunya lembut. "Tapi Ibu, kenapa kristal ini bersinar seperti punya pola bernapas?" tanya Bong-gu kecil penasaran.
Ayahnya menghentikan ketikannya pada papan ketik hologram. Ia menoleh pada anaknya dengan tatapan serius namun penuh kasih sayang. "Karena ini bukan sekadar batu, Bong-gu. Ini adalah fondasi ruang. Jika suatu hari nanti sistem yang dibuat manusia hancur, batu ini yang akan mengembalikan segalanya ke bentuk asal. Tapi ingat... batu ini hanya akan merespons seseorang yang memiliki kecocokan gelombang 'Zero Mana'.
"Bong-gu kecil memiringkan kepalanya bingung. "Siapa yang punya gelombang itu, Ayah?"Ayahnya tersenyum tipis, berlutut memegang kedua bahu Bong-gu.
"Kamu, Bong-gu. Kamu adalah satu-satunya keberhasilan kami."
*Kembali ke Masa Kini: Gubuk Ontaris*
"Seo Bong-gu! Tarik napas... buang!" Guncangan keras di bahuku menarik kesadaranku kembali secara mendadak. Aku terengah-engah, memegangi dadaku yang naik turun tidak teratur. Keringat dingin membasahi dahi dan leherku. Saat aku membukakan mata, aku sudah berada di dalam gubuk. Yeon Chul berdiri di samping tempat tidurku dengan wajah cemas yang jarang ia perlihatkan. Cahaya obor di dinding berkobar redup, memantulkan bayangan jingga di ruangan kayu itu.
"Kamu pingsan lagi di tepi sungai," kata Yeon Chul sambil menyodorkan segelas air putih. Ia sudah melepaskan tudungnya, memperlihatkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan dan bekas luka robek di atas alis kirinya.
Aku menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, meminum airnya hingga habis. "Aku... aku mengingatnya, Chul," ucapku lirih.
Yeon Chul membeku di tempatnya. "Mengingat apa?"
"Orang tuaku... Project Genesis... dan kenapa Mana Stone itu meresponsku saat aku menyentuhnya," jawabku menatap lurus ke matanya. "Orang tuaku tidak mati karena kesalahan dungeon break biasa. Proyek mereka disabotase. Seseorang sengaja memicu ledakan agar inti dimensi itu runtuh dan menciptakan ruang terdistorsi ini. Dan kamu..." Aku menunjuk Yeon Chul dengan jari yang gemetar. "Kamu bukan sekadar hunter biasa yang terseret ke sini kan, Chul?"
Yeon Chul mengepalkan tangannya. Ia membuang muka, menatap ke arah jendela gubuk yang memperlihatkan kegelapan hutan malam. "Namaku Yeon Chul," ucapnya pelan. "Mantan ketua tim pengawal laboratorium Project Genesis. Tugas utamaku sebelum dunia ini hancur adalah meyakinkan bahwa Subjek Utama, Seo Bong-gu, tetap selamat, apa pun yang terjadi."
Kenyataan itu menghantamku bagai petir di siang bolong. Semua puzzle yang membingungkanku selama dua bulan terakhir mendadak terpasang rapi. Kenapa Yeon Chul menemukanku di hutan, kenapa dia merawat bekas lukaku, kenapa dia bersikap seolah mengenalku padahal aku lupa, dan kenapa dia begitu protektif terhadap segala gerak-gerikku.
"Jadi... semua perhatianmu selama ini... semua sikap baikmu..." Suaraku bergetar menahan amarah dan kekecewaan yang campur aduk. "Hanya bagian dari tugasmu? Bukan karena kamu memanggap diriku sebagai teman?"
Yeon Chul berbalik menghadapku. Tatapan matanya yang biasanya datar kini memancarkan gejolak emosi yang mendalam. "Kalau aku hanya menganggap ini tugas, aku sudah membunuhmu sejak hari pertama untuk mengambil 'Inti Zero' yang tertanam di tubuhmu dan pulang ke Bumi sendirian, Hunter!" bentaknya keras.
Ruangan gubuk seketika menjadi hening total. Napas Yeon Chul terengah-engah setelah meluapkan amarahnya. Ia membuang napas kasar, lalu mengusap wajahnya lelah.
"Aku bertahan di tempat asing ini selama berbulan-bulan, mencari bahan makanan, membarter Mana Stone, dan menjaga batas tempat ini agar orang-orang luar tidak menemukanimu... karena aku ingin kamu hidup sebagai manusia biasa," ucap Yeon Chul dengan nada suara yang melunak dan sarat duka. "Kamu sudah cukup menderita di Bumi sebagai Seo Hunter, alat tempur negara yang dipaksa bertarung tanpa rasa takut. Di sini, tanpa sistem, kamu bisa tersenyum, kamu bisa menangis, kamu bisa makan sup ikan buatanku dan hidup tenang. Apakah salah kalau aku ingin mempertahankan kedamaian itu?"
Aku tertegun.
Kata-katanya menembus benteng pertahanan batinku. Lidahku terasa kaku untuk menyanggah. Kenangan seminggu terakhir saat kami memanen buah persik, tertawa di teras gubuk, dan menikmati ketenangan malam tanpa gangguan monster berkelebat di benakku. Dia benar. Di dunia tanpa sistem ini, untuk pertama kalinya aku merasakan makna menjadi manusia seutuhnya.
Namun, sebelum aku sempat membalas perkataan Yeon Chul, sebuah suara gesekan keras memecah malam dari luar gubuk.
Kresekkk! Kresekkk!
Suara itu bukan sekadar gesekan angin pada dedaunan. Itu adalah suara langkah kaki berayun dalam jumlah banyak yang bergerak cepat melintasi pagar pembatas kebun belakang.
Yeon Chul seketika bergerak refleks. Rasa rileksnya hilang dalam sekejap, digantikan oleh naluri tempur seorang pengawal berpengalaman. Ia meniup obor di dinding hingga ruangan menjadi gelap gulita, lalu menyeburkan sabit melingkar raksasanya dari balik lemari.
"Tetap di belakangku," bisik Yeon Chul dingin. "Ada apa?" bisikku ikut merendahkan tubuh di samping tempat tidur. "Mereka datang," jawab Yeon Chul pendek. "Orang-orang bertopeng pembawa bor dari perbatasan Hutan Utara. Mereka berhasil melacak jejak energi Mana Stone yang kita aktifkan secara tidak sengaja lusa lalu."
Melalui celah ventilasi kayu gubuk, aku mengintip ke luar. Di bawah sorotan sinar bulan sabit yang redup, terlihat sekitar delapan sosok tinggi besar berbalut pakaian kulit tebal dan topeng besi tak berwajah. Di tangan mereka, terikat senjata berat berbentuk bor mekanis manual dan obor minyak berwarna hijau menyala. Mereka berjalan mengepung area gubuk dengan gerakan yang teratur dan tenang, seperti gerakan tentara bayaran profesional.
"Mereka tidak berbicara bahasa kita mau pun bahasa lokal pasar," bisik Yeon Chul. "Mereka adalah 'Pembersih'—sisa-sisa eksperimen gagal yang kehilangan akal sehat dan hanya bergerak mencari keberadaan Inti Mana."
"Kita tidak punya jendela sistem, Chul," kataku mengingatkan. "Tidak ada buff stat, tidak ada potion, dan kekuatan fisik kita terbatas seperti manusia biasa!"
Yeon Chul melirikku dari balik kegelapan, bibirnya tertarik membentuk ukiran senyum tipis yang garang. "Siapa bilang kita butuh sistem untuk membunuh musuh? Ambil pisau genggammu, Seo Hunter. Mari kita lihat apakah keahlian beladiri manualmu masih berguna."
Brakkk!
Pintu depan gubuk hancur berkeping-keping dihantam oleh bor mekanis salah satu musuh. Ceceran kayu berterbangan di dalam ruangan. Sosok bertopeng besi pertama melangkah masuk membawa obor hijau, menciptakan bayangan mengerikan di dinding gubuk.
Tanpa menunggu sepatah kata pun, Yeon Chul melompat maju. Sabit melingkarnya menyambar ke udara dalam kegelapan, merobek leher musuh pertama sebelum ia sempat mengayunkan bornya. Darah hitam tersembur menempel di dinding kayu.
Dua musuh lainnya langsung merangsek masuk bersamaan dari lubang pintu yang hancur. Bor di tangan mereka berputar cepat memercikkan bunga api.
Aku tidak tinggal diam. Memanfaatkan tubuhku yang lebih ringkas, aku merayap rendah di lantai gubuk dan menusukkan pisau genggamku tepat ke celah sendi lutut musuh di sebelah kiri. Pria bertopeng itu mengerang keras dalam bahasa asing yang tak kupahami, tubuh besarnya limbung jatuh berlutut. Menggunakan momentum itu, aku meloncat naik ke punggungnya dan memotong tali pengikat topeng besinya, lalu menancapkan pisauku ke leher belakangnya hingga ia terkulai tak bernyawa.
"Bagus, Hunter!" teriak Yeon Chul sambil memutar sabitnya untuk menangkis sabetan besi musuh ketiga. Dentangan logam membentur keras menggema di dalam gubuk yang sempit.
Namun, jumlah musuh di luar terlalu banyak. Lima sosok bertopeng lainnya mulai melemparkan obor minyak hijau ke atas atap jerami gubuk kami! Dalam hitungan detik, api hijau yang panas membara mulai membakar atap, membawa asap tebal yang memenuhi ruangan.
Asap hijau pekat dari obor minyak musuh merayap cepat, memenuhi setiap sudut langit-langit gubuk kayu kami. Baunya seperti belerang terbakar bercampur zat kimia menyengat yang langsung membuat saluran napasku terbakar.
"Uhuk! Uhuk!"
Aku bertelut di lantai kayu, menekan baju bagian luarku ke hidung untuk menyaring udara. Tanpa adanya buff passive daya tahan tubuh dari sistem hunter, paru-paruku bereaksi sama rapuhnya seperti manusia normal pada umumnya. Mataku memerah dan terus mengeluarkan air mata, mengaburkan pandanganku.
"Seo Hunter, jangan hirup asapnya terlalu dalam!" teriak Yeon Chul.
Di depanku, Yeon Chul bertarung bagaikan monster liar. Meski ia juga tak memiliki sihir, pengalaman bertahun-tahun sebagai pengawal elit membimbing setiap pergerakannya. Ia memanfaatkan sudut meja kayu tebal untuk menangkis sabetan bor mekanis musuh kedua. Brakkk! Meja itu hancur terbelah dua, namun Yeon Chul sudah lebih dulu memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum untuk membenamkan mata sabit melingkarnya tepat di bawah rahang musuh.
Darah hitam kental menyembur keluar, memercik ke wajah Yeon Chul.
Namun, dari arah luar pintu yang jebol, dua musuh bertopeng besi lainnya merangsek masuk bersamaan. Salah satu dari mereka mengayunkan bor berputar itu ke arah bahu kiri Yeon Chul yang sedang terbuka.
"Yeon Chul! Awas!" jeritku.
Aku menolak rasa sakit di kakiku, mendorong tubuhku meluncur di atas lantai gubuk yang berjelaga. Aku meraih pasak kayu tajam sisa tiang yang hancur, lalu menancapkannya sekuat tenaga ke pergelangan tangan musuh tersebut.
Jleb!
Pria bertopeng besi itu mengerang keras, tumpuan bornya meleset dan hanya mengenai dinding gubuk, menghancurkan papan kayu hingga berlubang besar. Angin malam yang dingin berhembus masuk dari lubang baru itu, sedikit mengurai asap hijau yang menghimpit kami.
"Kita tidak bisa bertahan lebih lama di dalam!" seru Yeon Chul sambil menarik kera bajuku agar aku berdiri. "Atapnya mulai runtuh!"
Brak! Bzzzz!
Bara api hijau menetes dari jerami atap yang mulai rubuh. Yeon Chul menendang dada musuh yang tertancap pasak kayu hingga pria itu terlempar ke luar gubuk. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Yeon Chul menyeretku berlari menerobos pintu belakang, melompati pagar kayu pembatas kebun tempat kami biasa memanen sayuran.
Tepat saat kaki kami menginjak tanah basah Hutan Belakang, suara gemuruh hebat terdengar dari belakang. Gubuk kayu tempat kami tinggal selama dua bulan terakhir roboh total, dilalap api hijau menyeramkan yang membumbung tinggi ke langit malam. Tempat tinggal yang memberi kami kedamaian sementara itu kini rata dengan tanah.
Kami melompat melewati pagar kayu pembatas saat atap gubuk tempat tinggal kami runtuh dihantam api hijau. Gelapnya malam dan pekatnya kabut hutan langsung menyelimuti pandangan kami. Suara teriakan dan langkah kaki segerombolan musuh bertopeng terdengar kian memburu dari belakang.
"Chul! Ke mana kita berlari?" tanyaku terengah-engah sambil menahan sakit di dadaku yang kian mendesak.
Yeon Chul tidak menjawab. Ia menarik tanganku berlari menembus semak belukar yang berduri, melintasi terowongan rahasia pohon besar yang dulu pernah kami lewati. Langkah besarnya membawa kami kian jauh ke dalam jantung Hutan Belakang.
"Jalan terus! Jangan menoleh ke belakang!" perintah Yeon Chul dengan suara terengah-engah.
Gelapnya malam di Hutan Belakang sangat pekat. Ranting-ranting pohon yang berduri merobek kain bajuku dan menggores kulit lenganku, menyisakan perih yang nyata. Di bawah pakan kaki kami, daun-daun busuk dan lumpur basah membuat pelarian ini terasa sangat berat. Rasa lelah yang teramat sangat menyiksa fisikku, tanpa stat stamina ratusan poin, jantungku rasanya ingin meledak keluar dari rongga dada.
"Chul... bahumu!" panggilku di sela napas yang memburu.
Aku melihat darah merah segar menyerap di kain jubah cokelat Yeon Chul bagian bahu kiri. Tampaknya sabetan bor musuh tadi sempat menggores dagingnya sebelum aku menancapkan pasak kayu.
"Cuma goresan kecil," jawab Yeon Chul dingin, walau raut wajahnya menegang menahan nyeri. "Fokus pada langkahmu. Pasukan 'Pembersih' itu melacak bau mana stone dan gelombang energi dari tubuhmu. Mereka memiliki alat pelacak manual di bor mereka. Kalau kita melambat, kita akan dikepung di tengah kegelapan ini."
Dari arah belakang kami, suara lonceng besi dan dentangan mesin bor berputar kembali menggema di antara pepohonan.
Kresekkk! Kresekkk! Langkah kaki segerombolan musuh bertopeng terdengar kian memburu, menyebar membentuk formasi setengah lingkaran untuk mengurung kami.
"Mereka terlalu cepat!" batukku sambil terus memaksakan kakiku melangkah.
Yeon Chul mendadak memotong jalur berlari kami, membelokkan arah menuju celah sempit di antara dua batu karang raksasa yang tertutup lumut tebal. "Lewat sini! Ini jalur terowongan akar yang pernah kulewati!"
Kami merayap masuk ke dalam celah sempit itu. Udara di dalam celah batu terasa jauh lebih lembap dan berbau aroma tanah alami yang sangat kuat. Saat kami berhasil menerobos keluar dari celah karang tersebut, kabut tebal berwarna keperakan menyambut kami, membuat pemandangan di sekitar mendadak berubah drastis.
Suara langkah kaki musuh bertopeng di belakang kami perlahan terdengar samar, seolah terhalang oleh dinding tak kasat mata.
"Apakah kita... berhasil meloloskan diri?" tanyaku sambil bersandar pada batang pohon besar demi menopang tubuhku yang gemetar. "Belum," kata Yeon Chul sambil memegangi bahunya yang berdarah. Matanya menatap lurus ke depan menerobos pekatnya kabut keperakan. "Kabut ini adalah benteng pertahanan alami Ontaris. Dan kita sudah sampai di tempat yang paling ditakuti oleh orang-orang pasar."
Perlahan tapi pasti, kabut keperakan itu tersingkap ditiup angin malam. Langkah kami terhenti di pinggir sebuah area lapang raksasa di tengah hutan.
Mataku membelalak tak percaya pada pemandangan spektakuler sekaligus mengerikan yang tersaji di hadapanku.
Di tengah area lapang itu, berdiri sebuah pohon raksasa yang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari pohon di depan gubuk kami. Seluruh akar dan batangnya yang tebal memancarkan pola-pola garis bersinar keemasan yang bernapas lembut, pola mana alami yang persis sama dengan kristal di laboratorium orang tuaku!
Dan di bawah naungan pohon raksasa bercahaya itu, berdiri seorang pria tua berkacamata tebal yang mengenakan jubah usang. Di sampingnya, Han Daeun berdiri dengan wajah pucat penuh ketakutan.
Pria tua itu mendongak, menatapku melalui kacamata tebalnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Akhirnya... kamu kembali, Subjek Utama..." ucap kakek Daeun dengan suara bergetar.
"Selamat datang di Inti Genesis..."
Di balik kegelapan hutan di belakang kami, kabut tebal merayap naik, membungkus kami dalam teka-teki raksasa yang baru saja dimulai. .