# 4화 — Chapter 4 : Shadows Behind Destiny (1)
Di tengah area lapang itu, berdiri sebuah pohon raksasa dengan ukuran yang amat luar biasa. Batangnya begitu lebar hingga mungkin membutuhkan lima puluh orang dewasa untuk melingkarinya. Dedaunannya bukan berwarna hijau, melainkan memancarkan pendaran cahaya keemasan redup yang menerangi seluruh area sekitar.
Yang paling membendung napasku adalah serat-serat pada kulit pohonnya terdapat garis-garis bersinar yang berdenyut pelan dalam ritme yang teratur, persis seperti pola aliran pembuluh darah atau sistem saraf manusia!
"Pola Mana Alami..." gumamku lirih. "Ini... pola yang sama dengan kristal eksperimen orang tuaku di Seoul..."
"Bukan cuma sama," sahut sebuah suara wanita yang bergetar ketakutan dari balik salah satu akar raksasa pohon tersebut.
Seorang gadis berambut pendek gelombang keluar dari kegelapan akar sambil menuntun seorang pria tua, itu Han Daeun.
Bajunya kotor terkena tanah dan matanya yang berwarna merah dipenuhi air mata cemas.
"Daeun-ah? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku terkejut.
"Paman! Kak Yeon Chul!" Daeun berlari kecil mendekati kami, wajahnya pucat pasi.
"Setelah Kak Yeon Chul mengusirku dari sungai sore tadi, aku kembali ke toko. Tapi kakek mendadak histeris! Dia memecahkan semua barang dagangan, menggumamkan bahwa 'Waktu Subjek Utama telah habis' dan langsung berlari menerobos jembatan menuju hutan ini! Aku mengejarnya sampai ke tempat ini... dan kami terjebak!"
Di samping Daeun, pria tua berkacamata tebal itu berdiri dengan tubuh gemetar. Jubah lusuhnya kotor oleh lumpur.
Matanya yang semula tampak kusam dan pikun kini menatap lurus tepat ke arah wajahku dengan pandangan yang sangat jernih dan emosional.
Pria tua itu melangkah perlahan mendekatiku. Jemarinya yang kurus dan penuh keriput terangkat, menyentuh pundakku dengan getaran yang tak tertahankan.
"Seo... Seo Bong-gu?" suara pria tua itu parau, terputus-putus oleh napasnya yang berat. "Anak dari Dr. Seo Jin-woo dan Dr. Kang Ah-young?".
Aku membeku.
Nama kedua orang tuaku diucapkan dengan begitu jelas oleh bibir pria tua ini.
"Kakek... kakek kenal dengan orang tuaku?"
Pria tua itu tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat akan duka dan penyesalan mendalam. Air mata mengalir melewati garis-garis keriput di pipinya.
"Kenal?" bisik pria tua itu. "Akulah Han Myeongjin... kepala teknisi sistem yang menyetujui tombol aktivasi Project Genesis dua belas tahun lalu di laboratorium pusat Seoul. Akulah orang yang bertanggung jawab atas kehancuran hidupmu dan terciptanya dunia terdistorsi bernama Ontaris ini..."
Kakek Daeun memicu keheningan yang mencekam di bawah naungan pohon raksasa bersinar itu. Bahkan Yeon Chul pun tampak terkejut, memegang gagang sabitnya lebih erat.
"Apa yang kakek katakan?" Daeun menatap kakeknya tidak percaya. "Kakek bilang kakek cuma pensiunan guru fisika di Korea!"
"Maafkan Kakek, Daeun-ah... Kakek harus menyembunyikan identitas ini demi melindungimu dari kejaran organisasi pemburu Inti Mana," kata Kakek Daeun sambil mengusap air matanya.
Ia lalu kembali menatapku tajam.
"Bong-gu... kamu harus mendengarkanku. Tempat tempat kita berdiri saat ini bukan sekadar dunia buatan biasa. Pohon Raksasa di hadapan kita ini adalah 'Jantung Genesis' mesin penopang yang menjaga agar ruang Ontaris tidak runtuh ditelan kegelapan dimensi luar."
Aku melangkah mendekati batang pohon bersinar itu, merasakan kehangatan samar yang memancar dari akarnya.
"Lalu... apa hubungannya denganku? Kenapa kakek memanggilku Subjek Utama?"
"Karena di dalam tubuhmu tertanam 'Inti Zero'," jawab Kakek Daeun tegas.
"Saat laboratorium Seoul meledak dua belas tahun lalu, ayah dan ibumu menyuntikkan seluruh ekstraksi gelombang mana murni ke dalam inti jantungmu untuk menyelamatkan nyawamu. Kamu adalah kunci hidup dari pohon ini. Jika kamu mati atau intimu diambil oleh para 'Pembersih', maka dunia Ontaris akan hancur lebur, dan semua manusia yang terdampar di sini akan musnah tanpa sisa!"
Boommm!
Belum sempat aku memproses seluruh pengungkapan fantastis itu, sebuah dentuman keras mengguncang tanah di sekitar kami. Batang pohon raksasa bergetar hebat, memercikkan bunga api keemasan ke udara.
Di tepi lapisan kabut keperakan, delapan sosok bertopeng besi yang mengejar kami tadi telah berhasil menembus benteng kabut.
Bor mekanis di tangan mereka berputar cepat dengan frekuensi suara yang sangat bising, memancarkan cahaya merah darah.
"Mereka berhasil menembus batas!" teriak Yeon Chul sambil melangkah ke depan membentengi kami bertiga.
"Tidak... bukan cuma delapan orang," gumam Daeun dengan wajah pucat sambil menunjuk ke arah kegelapan hutan di belakang para musuh.
Dari balik kabut yang mulai terkoyak, puluhan pasang mata merah menyala dari balik topeng besi muncul satu per satu.
Pasukan 'Pembersih' dalam jumlah besar telah mengepung area Pohon Raksasa dari segala penjuru.
Aku mengepalkan kedua tanganku, membuang jauh-jauh rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhku. Aku menoleh ke arah Yeon Chul yang mengangguk pelan padaku, lalu menatap Daeun dan Kakeknya yang berlindung di dekat akar pohon.
Tanpa sistem, tanpa stat buff, dan tanpa sihir pemulih, aku harus bertarung dengan seluruh kemampuan manusiaku demi melindungi jawaban atas masa laluku yang baru saja terbuka.
"Daeun, jaga kakekmu di belakang akar." seruku sambil menarik pisau genggam dari pinggangku.
"Chul... mari kita selesaikan ini!"
Musuh bertopeng pertama melompat menerjang dengan bor berputar menuju arah kami, memecah malam dalam pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib dunia Ontaris.
Udara di sekitar celah akar Pohon Raksasa terasa sedingin es yang membeku di tengah malam.
Bau belerang menyengat yang menguar dari obor-obor minyak hijau milik musuh bertabrakan dengan aroma keemasan mana yang menguap tipis dari kulit pohon tua di belakang kami.
Di depan kami, puluhan pasang mata merah memantulkan pendaran kejam dari balik topeng besi tebal. Suara deru dentangan mesin bor mekanis yang berputar nyaring memecah keheningan malam, menyuarakan nada kematian yang bergetar hingga ke dalam rongga dada.
"Daeun! Tarik kakekmu masuk lebih dalam ke celah akar!" teriakku tanpa berani berpaling sedikit pun dari barisan depan musuh.
Daeun mengangguk cepat meski wajahnya pucat pasi. Dengan jemari yang bergetar hebat, gadis itu menarik lengan Kakek Myeongjin yang masih nampak linglung dan terus menggumamkan penyesalan tak bertepi.
Daeun merangkul bahu ringkih pria tua itu, menyembunyikannya di balik lekukan akar raksasa yang mengeras bagai dinding benteng alami.
"Hunter," panggil Yeon Chul. Suaranya terdengar datar dan tenang, tetapi genggaman tangannya pada gagang sabit melingkar mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Darah merah segar masih merembes pelan dari bahu kirinya yang terkoyak—sisa luka dari bentrokan pertama tadi—membasahi serat jubah cokelatnya yang sudah compang-camping.
"Pembersih yang mengepung kita setidaknya ada tiga puluh orang," lanjut Yeon Chul seraya memiringkan kepalanya sedikit untuk mengukur jarak.
"Tanpa bantuan buff stat agility atau stamina recharge dari sistem seperti biasa, kita tidak akan bertahan dalam pertarungan jarak dekat secara terbuka lebih dari sepuluh menit."
"Aku tahu," jawabku seraya menyesuaikan pijakan kakiku di atas tanah yang basah dan licin oleh embun malam.
"Tapi fokus mereka cuma satu: 'Inti Zero' di dalam tubuhku. Selama aku berdiri di garda depan, perhatian mereka tidak akan terbagi ke Daeun dan kakeknya."
"Strategi yang bodoh," dengus Yeon Chul tipis. Namun, ukiran senyum garang yang sangat tipis terbit di sudut bibirnya. "Tapi persis seperti karakter Seo Hunter idiot yang kukenal."
Ssst--Brakkk!
Tanpa ada aba-aba verbal, dua sosok Pembersih berbadan tegap menerjang serentak dari sisi kiri.
Bor mekanis di tangan mereka meluncur lurus mengincar dada kami dengan putaran gila. Gerakan mereka terukur, presisi, dan sangat efisien. Karakteristik khas dari prajurit tempur tanpa emosi yang telah diprogram hanya untuk mengeksekusi target.
Dalam kondisi normal beberapa bulan lalu, mataku akan langsung dihiasi dengan jalur garis merah prediksi serangan dari jendela sistem. Sistem akan memberi petunjuk ke mana aku harus melompat, berapa milidetik rentang waktuku untuk membalas, dan berapa poin daya tahan yang tersisa.
Namun malam ini, pandanganku bersih. Kosong. Aku murni mengandalkan refleks naluri, memori otot yang terbentuk dari ribuan pertempuran, dan persepsi visual manusia biasa.
Aku merendahkan pinggulku secara drastis, membiarkan mata bor besi berputar itu melintas hanya sepermilimeter di atas kepalaku. Angin gesekan dari putaran bor terasa menyengat dan panas di kulit pipiku.
Menggunakan tumpuan lutut kanan yang menjejak tanah, aku mendorong seluruh bobot tubuhku ke depan, lalu menghantamkan siku kiriku tepat ke arah benteng tenggorokan musuh pertama.
Krak!
Pria bertopeng itu tersedak keras, tumpuan kakinya hilang seketika. Sebelum ia sempat memulihkan posisi berdiri, aku menancapkan pisau genggamku ke celah zirah kulit di bawah ketiaknya.
"Satu!" teriakku seraya memutar pisau itu sembilan puluh derajat dan menariknya keluar dengan hentakan kuat.
Darah hitam kental menyembur, membasahi lengan bajuku. Musuh pertama roboh menghantam tanah.
Di saat yang bersamaan, Yeon Chul bertindak bagaikan badai bergerak. Sabit melingkarnya menyambar membentuk alur lengkung yang indah, mematahkan tuas mekanis bor musuh kedua sebelum senjata berbahaya itu sempat berputar penuh.
Dengan satu gerakan memutar tubuh yang sangat cepat, Yeon Chul memanfaatkan momentum berat badannya untuk memotong bagian belakang leher musuh tersebut.
Kepala bertopeng besi itu terlempar beberapa meter ke udara sebelum menghantam tanah dengan dentuman keras.
Namun, keberhasilan singkat itu sama sekali tidak memberi kami ruang untuk bernapas. Pihak lawan tidak memiliki rasa takut atau keraguan.
Serbuan gelombang kedua langsung merengsek masuk, enam musuh bertopeng bergerak membendung ruang gerak kami di depan area akar.
"Argh!" Yeon Chul meringis tertahan saat salah satu musuh berhasil menyabetkan pisau belati beracun ke paha kirinya. Langkah kakinya limbung sejenak, membuat pertahanan di sisi lambungnya terbuka lebar.
"Chul!" Seorang Pembersih memanfaatkan celah fatal itu dan mengayunkan bor berputarnya lurus mengincar tulang rusuk Yeon Chul. Tanpa sempat berpikir panjang, aku melemparkan pisau genggam yang tersisa di tangan kananku lurus ke arah wajah musuh tersebut.
Jleb!
Pisau genggamku menancap tepat di celah celah mata topeng besi musuh. Pria itu melolong kesakitan, refleks melepas bor mekanis di tangannya. Senjata itu jatuh dan menghantam tanah basah, berputar liar memercikkan lumpur dan batu-batu kecil ke segala arah.
Yeon Chul tidak menyia-siakan kesempatan emas itu. Ia menghantamkan tumit kakinya ke dada musuh yang terdistraksi hingga terdengar suara tulang rusuk yang patah berkeping-keping.
"Jangan terdistraksi dariku, Hunter!" bentak Yeon Chul sambil terengah-engah. Keringat bercampur darah menetes dari dahinya, membasahi matanya yang tajam.
"Napasmu sudah sangat kacau!"
Ucapannya benar. Paru-paruku terasa bagaikan terbakar oleh hawa panas. Efek dari ketiadaan energi mana yang biasanya menyembuhkan rasa lelah secara instan kini benar-benar terasa menyiksa.
Setiap helaan napasku terasa amat berat dan dangkal. Otot-otot betis dan pahaku bergetar hebat akibat akumulasi asam laktat yang menumpuk.
Ini adalah keterbatasan fisik manusia biasa. Keterbatasan yang selama lima tahun belakangan selalu kusembunyikan dan ku kikis di balik layar statistik sistem hunter kelas atas.
"Jumlah mereka tidak berkurang sama sekali..." gumamku sambil memungut belati panjang milik musuh yang tewas di dekat kakiku.
Di sekeliling kami, barisan Pembersih kian menyempit. Lebih dari dua puluh sosok bertopeng kini melangkah maju perlahan, membentuk formasi setengah lingkaran yang rapat.
Obor hijau di tangan kiri mereka menciptakan bayangan-bayangan panjang menyeramkan di atas tanah, sementara dentangan bor mekanis di tangan kanan mereka menyuarakan tekanan psikologis yang intens.
"Subjek Utama!" teriak Kakek Myeongjin tiba-tiba dari balik celah akar raksasa. Pria tua itu berusaha merangkak keluar meski Daeun memegang erat jubahnya.
"Jangan lawan mereka dengan kekuatan fisik murni! Tubuhmu tidak dirancang untuk bertarung secara konvensional tanpa sistem!"
Aku menoleh sekilas, menyapu darah yang mengalir di dahiku dengan punggung tangan. "Lalu aku harus bagaimana, Kakek?! Aku tidak punya antarmuka untuk mengeluarkan keahlian!"
"Sistem buatan laboratorium kami dulu hanyalah alat penahan!" seru Kakek Myeongjin, menunjuk ke arah serat-serat bercahaya yang meliuk di batang Pohon Raksasa.
"Sistem itu diciptakan untuk membatasi dan menstabilkan kapasitas mana agar otak manusia tidak pecah! Tanpa sistem, kamu harus menyambungkan aliran energi itu secara manual menggunakan kesadaran pikiranmu!"
"Bagaimana caranya?!"
"Sentuh kulit Pohon Genesis!" teriak Kakek Myeongjin nyaring. "Leburkan detak jantungmu dengan ritme getaran pohon itu!"
"Cepat lakukan, Hunter!" potong Yeon Chul seraya melompat membentengi jalan menuju pohon. Sabit patahnya berputar menangkis dua sabetan tajam musuh sekaligus.
"Aku yang akan menahan mereka di sini! Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuhmu!"
"Tapi Chul, kondisimu--"
"LAKUKAN SEKARANG!" raung Yeon Chul dengan suara bariton yang menggema ke seluruh pelosok hutan. "Jangan biarkan pengorbanan orang tuamu dan usahaku membawamu ke tempat ini sia-sia!"
Suara raungan Yeon Chul membelah malam, memicu sisa adrenalin di dalam tubuhku. Aku membalikkan badan, mengabaikan denyut nyeri di betis dan paha yang kian memburuk.
Setiap langkah kaki yang menghentak tanah basah terasa bagaikan tancapan paku panas ke dalam sendi-sendiku.
Pohon Raksasa [Pohon Genesis] menjulang di hadapanku seperti raksasa purba yang terbangun dari tidur ribuan tahun.
Urat-urat bersinar keemasan di kulit batangnya yang membatu berdenyut semakin cepat, memancarkan gelombang hangat yang menyapu kelembapan malam.
"Paman, cepat!" jerit Daeun dari balik ceruk akar. Wajahnya yang bernoda lumpur dan darah terlihat sangat cemas. Matanya melirik bergantian antara punggungku dan Yeon Chul yang kini dikepung oleh empat Pembersih sekaligus.
Aku melompat melompati akar tebal yang meliuk di permukaan tanah. Tepat saat tubuhku mendarat di celah pangkal pohon, bau harum seperti resin manis dan ozon menyeruak masuk ke indra penciumanku.
Di belakangku, dentangan logam dan teriakan kesakitan menyuarakan pertempuran yang kian tidak seimbang.
Sabit Yeon Chul menangkis dua serangan bor mekanis bersamaan, menghasilkan percikan api yang menerangi kegelapan hutan. Namun, jumlah musuh terlalu dominan. Tubuh tingginya mulai goyah saat serangan demi serangan mendarat di pakaian dan kulitnya.
"Fokuskan pikiranmu!" teriak Kakek Myeongjin.
Pria tua itu menyandarkan badannya ke dinding akar, memegangi dada kirinya yang bersinar redup.
"Jangan coba mengontrol energinya seperti kamu mengontrol skill sistem! Jangan paksa mana itu tunduk! Biarkan organ tubuhmu mengingat bagaimana cara bernapas bersama inti pohon ini!"
Aku menarik napas panjang, membuang belati panjang yang tersisa di tangan kananku. Senjata besi itu jatuh berdentang di atas batu. Aku mengangkat kedua telapak tanganku yang berlumuran darah dan lumpur.
Saat jemariku berjarak hanya beberapa milimeter dari permukaan batang Pohon Genesis, udara di sekitarku mendadak bergetar hebat.
Rasa hangat yang sangat kuat menusuk kulit telapak tanganku, bagaikan mendekatkan tangan ke api unggun di tengah cuaca membeku.
Plak!
Aku menempelkan kedua telapak tanganku lurus ke atas permukaan kulit pohon yang kasar.
Dunia sekitar seketika menjadi bisu.
Suara teriakan Yeon Chul, deru bor mekanis, lengkingan angin malam, dan tangisan Daeun mendadak lenyap total. Sensasi gravitasi yang menopang tubuhku menghilang, membuatku merasa seolah-olah terjatuh ke dalam samudera tanpa dasar yang hangat dan pekat.
Bukan kegelapan yang menyambutku, melainkan kilatan cahaya putih netral yang menyilaukan.
Deg... Deg... Deg...
Sebuah detak jantung yang sangat besar menggema di dalam kepala. Itu bukan detak jantungku sendiri. Suaranya lambat, berat, dan dipenuhi oleh resonansi keharmonisan alamiah yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Lalu, arus informasi merangsek masuk ke dalam sistem kesadaranku.
Bukan berupa jendela antarmuka transparan berwarna biru atau teks peringatan merah dari sistem hunter. Informasi ini datang berupa potongan-potongan memori, perasaan, emosi, dan gambar-gambar visual yang terdistorsi. .
Eksperimen Nol: Proyek Restorasi... Lokasi: Fasilitas Penelitian Bawah Tanah Kompleks Seoul, Sektor 4... Status Subjek: Seo Bong-gu (Umur: 11 tahun)...
Pandanganku berpindah secara paksa. Aku tidak lagi berada di hutan Ontaris. Aku berdiri sebagai pengamat tak kasat mata di dalam sebuah ruangan laboratorium serba putih yang dipenuhi oleh pipa-pipa kaca besar, monitor gelombang otak, dan aroma cairan antiseptik yang pekat.
Di tengah ruangan, berdiri sesosok pria berjas laboratorium putih dengan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya terlihat sangat lelah, dengan garis-garis keriput dini di sekitar matanya dan rambut hitam yang acak-acakan.
Ayah, Dr. Seo Jin-woo.
Di sampingnya, seorang wanita dengan rambut terikat rapi sedang menatap layar monitor dengan jemari yang menari cepat di atas papan ketik.
Wanita itu memegang sebuah tabung reaksi berdinding tebal yang berisi cairan ungu keemasan yang berputar lambat bagai galaksi kecil.
Ibu, Dr. Kang Ah-young.
"Jin-woo, tekanan batas luar barrier sudah anjlok sampai angka dua belas persen," suara Ibu terdengar gemetar, namun nadanya tetap penuh dengan keteguhan yang sangat kukenal.
Di luar dinding kaca kedap suara laboratorium, getaran hebat membuat debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit. Siren bahaya menyala bergantian, memancarkan warna merah menyengat.
"Pasukan Penjaga Dewan Hunter sudah mundur. Mereka meninggalkan sektor ini."
Ayah berhenti mengetik. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sebuah kapsul inkubator transparan di sudut ruangan.
Di dalam kapsul itu, sesosok anak laki-laki kecil [diriku saat berusia sebelas tahun] terbaring pingsan dengan berbagai kabel elektroda menempel di dada dan kepalanya.
"Dewan Hunter tidak pernah peduli dengan pemulihan dunia ini, Ah-young," kata Ayah dengan suara rendah dan serak. "Mereka hanya menginginkan kristal 'Zero Mana' ini dikristalisasi menjadi inti senjata untuk menaklukkan gate tingkat S. Mereka ingin memonopoli energi yang bisa menghancurkan sekaligus menciptakan kehidupan."
Ibu berjalan mendekati kapsul inkubator tempatku terbaring. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca dingin kapsul itu. Matanya berkaca-kaca, memantulkan pendaran cairan ungu keemasan dari tabung di tangan kirinya.
"Tapi jika kita menyuntikkan Inti Zero ini ke dalam jaringan saraf Bong-gu tanpa lewat penstabil sistem buatan..." Ibu menelan ludah, suaranya tercekat.
"Anak ini akan mengalami kegagalan fungsi organ. Otaknya tidak akan sanggup menahan arus mana murni tanpa batasan kuantitatif."
Ayah berjalan melangkah ke samping Ibu, merangkul bahu wanita itu dengan erat.
"Sistem antarmuka yang kita rancang bersama Myeongjin... kita akan menginstalnya sebagai pengunci. Sistem itu akan bertindak sebagai keran pembatas. Sistem akan mengubah energi murni ini menjadi angka-angka stat, level, dan keahlian... agar otak Bong-gu berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia fisiknya."
"Dan jika sistem itu hancur suatu hari nanti?" tanya Ibu, menatap lurus ke dalam mata Ayah.
Ayah menatap wajah kecilku di dalam kapsul dengan tatapan penuh kasih sayang yang begitu mendalam hingga dadaku di alam nyata terasa sesak.
"Jika hari itu tiba," bisik Ayah lembut, "itu artinya Bong-gu sudah berada di tempat di mana sistem tidak lagi dibutuhkan. Itu artinya anak kita telah menemukan ruang yang aman untuk menjadi dirinya sendiri... bukan sebagai 'Hunter Nomor Satu', melainkan sebagai manusia murni."
Ayah melangkah ke konsol utama. Tangannya yang gemetar menekan serangkaian tombol perintah darurat.
Layar monitor berubah warna menjadi hijau murni. Tabung reaksi berisi cairan ungu keemasan di tangan Ibu mulai terhubung dengan saluran infus otomatis yang melilit lengan kapsulku.
"Maafkan Ayah dan Ibu, Bong-gu-ya..." bisik Ibu saat cairan itu perlahan mengalir memasuki pembuluh darah kecil di lenganku.
"Kami mengunci memorimu tentang hari ini agar kamu bisa tumbuh tanpa rasa takut. Kami menciptakan dunia game palsu ini untuk melindungimu..."
Booooom!
Dinding belakang laboratorium meledak dahsyat. Kilatan api dan bongkahan beton beterbangan ke segala arah.
Bayangan prajurit-prajurit bertopeng besi [bentuk awal dari pasukan Pembersih] merangsek masuk melalui asap tebal dengan senjata-senjata mekanis terangkat.
"Jalankan Protokol Transfer Ontaris sekarang, Jin-woo!" teriak Ibu seraya berdiri membentengi kapsulku dengan tubuhnya sendiri.
Ayah menghantamkan telapak tangannya ke tombol merah berukuran besar di tengah konsol.
Cahaya menyilaukan menelan seluruh pandanganku. Memori itu terputus hebat.
Gasp!
Aku menarik napas panjang secara mendadak, bagaikan seorang tenggelam yang baru saja berhasil menyembul ke permukaan air. Kesadaranku tersentak kembali ke alam nyata di bawah naungan Pohon Genesis.
Cahaya putih menyilaukan berganti dengan pendaran keemasan hangat yang kini mengalir lancar dari permukaan kulit pohon, merayap naik melalui kedua telapak tanganku, melilit lengan, hingga menjangkau ke dalam rongga dada.
Di dalam dadaku, jantungku berdetak dengan ritme yang persis sama dengan denyutan Pohon Genesis.
Rasa terbakar di paru-paruku lenyap. Rasa pegal, nyeri Asam Laktat, dan rasa lelah yang menggerogoti otot-otot kaki dan lenganku menguap seketika, berganti dengan sensasi kesegaran murni yang mengalir deras di dalam pembuluh darah.
Ini bukan peningkatan angka stat stamina dari sistem. Ini bukan efek penyembuhan dari potion atau sihir pemulih.
Ini adalah pemulihan murni, sebuah aliran energi seluler yang menyelaraskan kembali setiap molekul di dalam tubuhku dengan ruang di sekitarku.
Garis-garis keemasan halus mulai terbentuk di atas kulit lenganku, meliuk-liuk indah bagaikan ukiran tanaman purba yang bercahaya redup.
"Ah..." aku menatap kedua tanganku sendiri.
Di dalam kepalaku, suara bisikan sistem yang biasanya dingin dan mekanis [Sistem diaktifkan], [Poin Stat ditambahkan], [Keahlian siap digunakan], sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah keheningan yang tenang dan kebebasan mutlak.
"Hunter!" Rintihan parau Yeon Chul menghancurkan fokus keheninganku.
Aku memutar tubuhku dengan cepat.
Pemandangan di hadapanku bagaikan mimpi buruk. Pertarungan di garda depan telah mencapai titik kritis yang amat mengerikan.
Yeon Chul bersujud di atas tanah basah, berlutut dengan satu kaki yang gemetar hebat. Sabit raksasa kesayangannya telah patah menjadi dua bagian, potongan bilahnya yang tajam menancap di tanah tak jauh dari posisinya.
Jubah cokelatnya hancur terobek, memperlihatkan lima luka tusukan dalam di dada dan perutnya yang terus memuntahkan darah segar.
Meski begitu, dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, pria tinggi besar itu masih menggenggam patahan gagang sabitnya, merentangkan tangannya lebar-lebar untuk membentengi ceruk akar tempat Daeun dan Kakek Myeongjin bersembunyi.
"Langkah...mu... terhenti di sini... bangsat..." gumam Yeon Chul parau. Matanya yang sebelah kiri membengkak parah dan tertutup darah kental, tetapi mata kanannya masih memancarkan intensitas serigala terluka yang menolak untuk menyerah.
Di hadapannya, tiga Pembersih bertopeng besi berdiri dengan mata bor berputar yang meraung keras. Salah satu dari mereka seorang pria berbadan paling tegap dengan zirah besi berlapis hitam mengangkat bor mekanisnya tinggi-tinggi di atas kepala Yeon Chul.
"Subjek pendukung sudah tidak berguna," kata pemimpin Pembersih itu dengan suara serak yang keluar dari pengubah suara mekanis di topengnya. "Eksekusi."
Mata bor besi itu meluncur turun lurus mengincar tengkorak Yeon Chul.
"TIDAK!" jerit Daeun sambil menutup matanya erat-erat.
Dalam rentang waktu kurang dari sepersekian detik, pikiranku tidak lagi menghitung estimasi jarak atau cooldown skill. Tubuhku bergerak murni atas dorongan kehendak bebas.
Krak!
Tanah basah di bawah tumpuan kakiku retak hebat saat aku melontarkan tubuhku ke depan. Gerakanku tidak lagi terikat oleh batasan speed stat manusia biasa.
Udara di sekitarku tergesek drastis, memancarkan pita cahaya keemasan pendek yang mengekor di belakang langkahku.
Brakkkkk!
Sebelum mata bor berputar itu menyentuh sehelai pun rambut Yeon Chul, telapak tangan bertelanjangku sudah meluncur lurus menghantam tepat di bagian tengah dada Pembersih berlapis zirah hitam itu.
Bukan hanya kekuatan dorongan fisik yang menghantam musuh. Sebuah gelombang kejut keemasan berbentuk lingkaran mendadak meledak keluar dari titik kontak telapak tanganku!
Krak-krak-krak!
Zirah besi tebal berdada ganda yang dikenakan komandan Pembersih itu melengkung dan hancur berkeping-keping bagaikan cangkang telur yang dipukul palu.
Gelombang tekanan udara memancar kuat, menciptakan dentuman seperti ledakan meriam di tengah kegelapan hutan.
Tubuh tegap komandan itu terlempar ke udara, meluncur melintasi jarak belasan meter sebelum menghantam beberapa batang pohon pinus hingga patah dan akhirnya tumbang tak bergerak di atas tanah.
Dua Pembersih di sampingnya terperanjat hebat. Mereka melangkah mundur secara refleks, mengangkat bor mekanis mereka dengan tangan yang mendadak gemetar. Aku mendarat dengan mulus di tanah basah persis di depan Yeon Chul.
Lutut kananku sedikit ditekuk, sementara tangan kananku masih memancarkan pendaran keemasan halus yang perlahan meredup.
"Hah... Hah..." Yeon Chul mendongakkan kepalanya dengan susah payah. Mata kanannya menatap punggungku, lalu beralih menatap garis-garis keemasan bersinar yang melilit sepanjang kulit tanganku.
Sebuah ukiran senyum tipis, lelah, namun penuh kepuasan muncul di bibirnya yang berdarah.
"Cepat sekali... idiot..." bisik Yeon Chul seraya batuk kecil, memuntahkan ceceran darah ke tanah.
"Kamu... hampir membuatku... mati ketakutan..."
Aku berbalik pelan, lalu berlutut di samping tubuh Yeon Chul yang bersimbah darah.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Chul," kataku pelan.
Aku meletakkan telapak tangan kiriku lurus di atas dada Yeon Chul yang terkoyak parah.
Mengikuti intuitif murni yang mengalir dari memoriku tentang cara kerja energi Pohon Genesis, aku memfokuskan pikiranku pada niat untuk menyembuhkan dan merestrukturisasi jaringan tubuh yang rusak.
Cahaya keemasan lembut mengalir keluar dari telapak tanganku, merayap masuk ke dalam luka-luka terbuka di dada dan perut Yeon Chul.
Ssssst...
Suara desisan halus terdengar saat pembuluh darah Yeon Chul yang terputus mulai menyambung kembali di bawah pengaruh energi murni tersebut.
Pendarahan hebat yang memenuhi pakaian cokelatnya berhenti seketika. Daging-daging yang terkoyak meliuk pelan, merapat dan membentuk jaringan kulit baru yang kemerahan.
"Nggkh...!" Yeon Chul merintih pendek saat rasa hangat yang sangat pekat menjangkau organ dalam tubuhnya, mengusir rasa dingin mematikan yang sempat menjalar di dadanya.
Daeun dan Kakek Myeongjin merangkak keluar dari ceruk akar dengan mata terbelalak lebar. Mereka menyaksikan proses penyembuhan ajaib itu tanpa sanggup bersuara.
"Tanpa mantra... tanpa kata kunci keahlian..." gumam Kakek Myeongjin dengan air mata yang menetes mengaliri pipinya yang keriput.
"Dia menyalurkan Genesis Mana secara langsung melalui manipulasi kesadaran... Sama seperti yang diimpikan oleh Jin-woo..."
Pembersih yang tersisa kini berjumlah sekitar dua puluh lima orang, menarik barisan mereka mundur beberapa langkah. Alat pemindai mekanis yang menempel di pergelangan tangan mereka berdengung keras dengan nada frekuensi tinggi yang melengking kencang, menandakan lonjakan energi yang tak terukur di dalam area pertempuran.
"Parameter target berubah!" seru salah satu musuh dengan nada panik yang tak sanggup ia sembunyikan lagi. "Sistem pembatas telah lenyap sepenuhnya! Energi target mencapai tingkat pemutusan struktur!"
"Aktifkan bor penetrasi jaringan bawah tanah!" teriak musuh lainnya yang mencoba mengambil alih komando. "Putus sambungan akar pohon sekarang! Hancurkan fondasi ruang ini!"
Sisa-sisa pasukan Pembersih segera mengubah taktik mereka. Mereka tidak lagi mencoba menyerangku secara langsung. Sebaliknya, mereka berlutut dan menancapkan mata bor mekanis mereka lurus ke dalam tanah basah di sekitar lingkaran Pohon Raksasa.
(Bersambung....)