# 5화 — Chapter 5 : Shadows Behind Destiny (2)
Bzzzzzzzt! Krrrrr!
Suara deru puluhan mesin bor yapng berputar bersamaan menciptakan getaran getar frekuensi tinggi yang menghantam bumi. Uap berasap merah kehitaman, energi buatan hasil dari pembakaran mana korosif disalurkan masuk ke dalam lapisan tanah bawah, bertujuan untuk meracuni dan memutus sisa-sisa jaringan akar Pohon Genesis.
Brak! Krak!
Tanah di bawah kaki kami mulai retak dan bergoyang hebat. Celah-celah tanah memuntahkan bau busuk belerang dan uap merah racun.
Di atas kepala kami, daun-daun keemasan Pohon Genesis mulai berguguran secara drastis saat pendaran cahaya di batangnya meredup drastis akibat gangguan energi korosif tersebut.
"Bong-gu!" teriak Kakek Myeongjin panik seraya memegangi akar tempatnya berdiri.
"Mereka mencoba memutus rantai energi ekosistem ini! Jika jaringan akar di bawah tanah terkontaminasi oleh racun mana korosif itu, ruang Ontaris ini akan kehilangan keseimbangan gravitasi dan runtuh masuk ke dalam void (ruang kosong tanpa batas)!"
"Paman!" jerit Daeun seraya menunjuk ke arah celah-celah tanah yang kian membesar. "Pohonnya menyusut!"
Aku berdiri perlahan dari samping Yeon Chul. Kondisi tubuh Yeon Chul sudah stabil, napasnya kini terdengar teratur meski ia masih terlalu lemah untuk berdiri bertarung.
Aku menatap barisan Pembersih yang terus memompa uap merah korosif ke dalam tanah.
Dulu, ketika aku masih menjadi Hunter Nomor Satu di dunia bawah layar sistem, setiap kali menghadapi situasi krisis seperti ini, aku akan langsung membuka jendela keahlian area, menghitung jumlah mana cost, dan mengeksekusi serangan berskala besar yang menghancurkan segala hal di sekitarku tanpa memedulikan kerusakan lingkungan.
Namun sekarang, aku merasakan setiap denyut kehidupan di bawah lapisan tanah ini.
Aku merasakan bagaimana jaringan akar Pohon Genesis berjuang menahan racun, bagaimana cacing dan serangga tanah berlarian ketakutan, dan bagaimana udara sejuk hutan ini dicemari oleh keserakahan manusia yang ingin menguasai apa yang tidak seharusnya mereka miliki.
"Kalian..." suara rendahku bergema pelan, namun mengandung bobot resonansi yang membuat getaran bor mekanis musuh sedikit tertahan.
Aku melangkah maju satu langkah. Udara di sekitar kakiku membiaskan cahaya keemasan yang berputar lambat.
"Kalian merusak dunia tempat orang tuaku mengorbankan nyawa mereka..." lanjutku seraya mengepalkan tangan kananku.
Garis-garis keemasan di lenganku berdenyut semakin terang, menyerap energi dari udara sekitar dan menyatukannya di dalam inti kepalan tanganku.
"Kalian mencoba merampas tempat tinggal orang-orang yang hanya ingin hidup damai..."
Aku menyebarkan persepsiku ke seluruh permukaan tanah hutan. Aku tidak menganggap energi di dalam tubuhku sebagai senjata untuk membunuh, melainkan sebagai media untuk memulihkan dan membersihkan.
"Cukup."
Aku mengangkat tangan kananku tinggi-tinggi ke udara, lalu menghantamkan kepalan tangan yang terbungkus pendaran cahaya keemasan murni itu lurus ke atas permukaan tanah di hadapanku.
BOOOOOOMMMMMMMMM!
Sebuah gelombang kejut keemasan yang luar biasa dahsyat meledak keluar dari titik hantaman tinjuku. Namun, tidak ada lontaran batu atau pecahan tanah yang membahayakan.
Gelombang energi itu merayap di bawah permukaan tanah bagaikan lautan cahaya cair yang mengalir deras. Cahaya keemasan menyapu seluruh celah retakan tanah, menelan dan menetralkan uap merah racun korosif dalam sekejap mata.
Brakkk! Brakkk! Brakkk!
Satu per satu mata bor mekanis milik pasukan Pembersih yang menancap di tanah meledak berkeping-keping akibat kelebihan muatan energi murni.
Percikan api dan debu logam terlempar ke udara. Tekanan balik energi keemasan menjalar naik melalui gagang senjata musuh, menghantam tubuh puluhan Pembersih bertopeng besi dan melempar mereka semua ke udara bagaikan daun-daun kering yang diterpa badai tajam.
Prang! Krak!
Topeng-topeng besi tebal yang menutup wajah mereka retak dan terlepas satu per satu saat tubuh mereka menghantam tanah basah di luar batas lingkaran pohon.
Di balik topeng-topeng besi yang hancur itu, terlihat wajah-wajah pucat manusia biasa, beberapa di antaranya adalah mantan hunter kelas bawah yang tubuhnya telah dimodifikasi secara mekanis dan dicekoki oleh energi mana buatan hingga kehilangan kesadaran diri.
Senjata-senjata bor mereka hancur menjadi abu logam yang tak berguna.
Dalam hitungan detik, seluruh pasukan pengganggu yang tadinya mencekam tumbang tak berdaya di atas tanah hutan, terkapar pingsan dan kehilangan seluruh daya tempur mereka.
Keheningan yang amat sangat mendadak melingkupi seluruh area hutan di bawah naungan Pohon Raksasa.
Asap belerang dan uap merah beracun telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh aroma segar embun pagi dan keharuman manis dari kulit Pohon Genesis. Serat-serat keemasan pada batang pohon menjulang itu berdenyut terang kembali dengan ritme yang lambat, tenang, dan penuh kedamaian.
Daun-daun bercahaya di ranting-ranting tinggi melambai pelan diterpa angin malam yang perlahan berganti menjadi angin fajar.
Aku menarik kepalan tanganku dari atas tanah basah, lalu mengusap peluh di dahiku. Pola-pola garis keemasan di lengan dan dadaku meredup secara bertahap, menyerap kembali masuk ke dalam pembuluh darahku dengan sangat lembut.
Rasa lelah fisik yang wajar kembali menyapa otot-otot tubuhku. Namun kali ini, itu adalah rasa lelah yang memuaskan—rasa lelah dari seorang manusia yang telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi apa yang berharga baginya.
"Paman..." bisik Daeun pelan. Pipi gadis muda itu basah oleh air mata, namun matanya memancarkan sinar kekaguman. "Paman... benar-benar menyelamatkan kita."
Kakek Myeongjin menyandarkan kepalanya ke dinding akar Pohon Genesis, tersenyum dengan raut wajah yang tampak sepuluh tahun lebih muda. "Eksperimen itu... tidak gagal... Jin-woo... Ah-young... Kalian berhasil..."
Aku membalikkan badan dan berjalan perlahan mendekati Yeon Chul yang sedang berusaha duduk bersandar pada akar pohon.
Pria tinggi besar itu menatapku dengan mata kanannya yang tersisa. Wajahnya masih bernoda darah, tetapi ekspresi dingin yang biasanya menyelimuti raut mukanya kini telah mencair sepenuhnya.
"Bagaimana rasanya, Hunter?" tanya Yeon Chul dengan suara parau seraya menyodorkan sebelah tangannya yang penuh bekas luka.
"Bertarung dengan menggunakan tubuhmu sendiri... tanpa bantuan angka-angka palsu itu?"
Aku mengulas senyum tipis. Aku merentangkan tangan, meraih jemari besar Yeon Chul, dan menarik tubuh berototnya berdiri tegak perlahan-lahan.
"Terasa sangat nyata, Chul," jawabku jujur sambil mengembuskan napas lega. "Tidak ada kalkulasi angka, tidak ada indikator persentase nyawa. Cuma ada detak jantung, rasa sakit, dan keinginan untuk tetap bernapas bersama orang-orang di sekitarku."
Yeon Chul terkekeh kecil, sebuah tawa lepas dari dalam dada yang belum pernah kulihat dan kudengar dari mulutnya selama dua bulan kami tinggal bersama. dia menyandarkan kepala belakangnya ke kulit Pohon Genesis yang hangat, menatap menerawang ke balik celah dedaunan keemasan.
"Dunia ini... Ontaris... sekarang benar-benar menjadi tempat tinggal kita," gumam Yeon Chul pelan.
"Tanpa ada lagi pemburu dari masa lalu, tanpa ada lagi bayang-bayang sistem yang mengekang. Selamat datang kembali di alam nyata, Seo Hunter."
Di samping kami, Han Daeun berlutut sambil mengusap air matanya, lalu membantu Kakek Myeongjin berdiri perlahan. Pria tua itu memandangi Pohon Genesis dengan tatapan penuh penghormatan, seolah sedang menyampaikan salam perpisahan yang terlambat kepada dua sahabat lamanya... orang tuaku.
"Subjek Utama... maksudku, Bong-gu-ya," panggil Kakek Myeongjin dengan suara gemetar.
"Inti Zero di dalam dadamu telah menyatu sempurna dengan jaringan ruang Ontaris. Tempat ini tidak akan lagi membutuhkan sistem pembatas atau pasokan Mana Stone buatan. Selama pohon ini bernapas, seluruh tanah, sungai, dan pepohonan di Ontaris akan terus hidup secara alami."
"Lalu bagaimana dengan orang-orang di pasar lokal, Kakek?" tanya Daeun seraya menoleh ke arah pemukiman di luar hutan. "Dan orang-orang bertopeng yang terkapar di luar sana?"
"Pasukan Pembersih itu hanyalah jiwa-jiwa malang yang dikendalikan oleh sisa-sisa program mekanis yang rusak," jawab Kakek Myeongjin tenang.
"Tanpa pasokan racun mana buatan yang menyiksa otak mereka, mereka akan terbangun sebagai manusia biasa. Keterikatan mereka pada masa lalu di Bumi telah terputus total. Tanpa dukungan teknologi Dewan Hunter, mereka bukan lagi ancaman. Kita bisa membawa mereka ke pemukiman, mengajari mereka bercocok tanam dan membangun kehidupan baru."
Mentari pagi di Ontaris perlahan terbit dari balik ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang hangat melintasi bukit-bukit hijau, danau jernih, dan rerimbunan hutan. Warna jingga cerah perlahan mengusir pekatnya malam.
Dari kejauhan, sisa-sisa Pasukan Pembersih yang mulai terbangun merangkak melarikan diri kembali ke arah Perbatasan Luar Hutan Utara tanpa senjata mereka.
Selama tiga hari berikutnya, kami tinggal di sekitar celah Pohon Genesis untuk memulihkan kondisi fisik dan menata kembali sisa-sisa kehidupan kami.
Kakek Myeongjin menggunakan pengetahuannya tentang struktur energi Ontaris untuk menstabilkan kembali simpul-simpul akar bawah tanah yang sempat terganggu.
Daeun dengan tekun merawat luka-luka Yeon Chul menggunakan ramuan herbal lokal yang ia petik di tepi sungai.
"Inti Zero yang ada di dalam tubuhmu sekarang bertindak sebagai jangkar stabilisator untuk seluruh ruang ini, Bong-gu-ya," ujar Kakek Myeongjin pada suatu sore saat kami duduk bersama di atas batu kali dekat aliran air jernih.
"Selama kamu tetap menjaga keharmonisan pikiranmu dan tidak membiarkan rasa dendam menguasai energimu, ruang Ontaris ini akan tetap aman dan tersembunyi dari jangkauan sisa-sisa pimpinan Dewan Hunter."
Aku menatap pantulan bayangan diriku sendiri di permukaan air sungai yang jernih.
Bekas luka di dahiku masih ada. Pakaian yang kukenakan masih berupa pakaian kain sederhana yang agak lusuh. Tidak ada mahkota, tidak ada armor kelas SSS, dan tidak ada gelar 'Hunter Nomor Satu' yang dulu dipuja-puja oleh jutaan manusia di layar televisi.
Namun, saat menatap mataku sendiri di dalam air, aku melihat seorang pria yang utuh. Seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang akhirnya mengerti mengapa orang tuanya memberikan segalanya demi memberinya kesempatan kedua untuk hidup.
"Bong-gu-ya!"
Suara panggilan antusias Yeon Chul membuatku berpaling. Pria tinggi besar itu berjalan mendekat dari arah bukit kecil, membawa dua buah keranjang kayu besar yang terikat di bahunya. Meski bahu kirinya masih dibalut kain perban bersih, langkah kakinya sudah kembali tegap dan mantap bagaikan gunung.
"Apa yang kamu bawa, Chul?" tanyaku seraya berdiri.
Yeon Chul menurunkan salah satu keranjang kayu ke atas rumput. Di dalamnya terlihat beberapa perkakas kayu sederhana yang baru dibuat: kapak pembelah kayu, pahat besi, palu batu, dan gulungan tali serat pohon yang tebal.
"Gubuk lama kita di kebun belakang sudah rata dengan tanah akibat ulah bajingan-bajingan bertopeng itu," kata Yeon Chul acuh tak acuh seraya menunjuk ke arah lereng bukit.
"Musim dingin di Ontaris akan tiba dalam dua bulan ke depan. Kita butuh tempat tinggal baru yang lebih kokoh untuk kita berempat."
"Hei, Bong-gu," panggil Yeon Chul seraya menyenggol bahuku pelan menggunakan sikutnya, kembali memanggilku dengan nama asliku alih-alih gelar 'Hunter'.
"Mulai besok pagi, jadwalmu adalah menebang kayu untuk membangun gubuk baru di tepi danau. Jangan kira karena kamu bisa mengendalikan energi pohon ini lalu kamu bisa bersantai dan duduk malas-malasan membaca buku resep tua."
Daeun yang berjalan di belakang Yeon Chul tertawa geli mendengarnya, sementara Kakek Myeongjin hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepala.
Sebuah tawa tulus dan hangat terbit dari dalam tenggorokanku, sebuah rasa bahagia sederhana yang belum pernah kurasakan selama lima tahun bertarung di dalam dunia dungeon yang hampa.
Aku melangkah maju, membungkukkan badan, dan mengambil kapak kayu itu dari dalam keranjang. Gagang kayunya terasa agak kasar dan berat di genggamanku, namun tekstur nyata itu memberi kepastian bahwa aku benar-benar hidup di sini.
"Tentu saja, Yeon Chul," balasku seraya mengarahkan mata kapak ke arah pohon-pohon pinus di lereng bukit dan menyunggingkan senyum lebar.
"Tapi sebelum itu, buatkan aku mangkuk sup ikan hangat seperti biasa. Kali ini, jangan lupa pakai bumbu umbi-umbian yang kita beli dari pasar kemarin."
Yeon Chul mendengus malas, tetapi ukiran senyum hangat di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Daeun menyunggingkan senyum lebarnya sambil merangkul lengan kakeknya.
Di bawah naungan langit biru Ontaris yang membentang luas tanpa batas, di tepi aliran sungai jernih yang memantulkan pendaran cahaya pagi, dan di bawah perlindungan Pohon Genesis yang berdiri megah, aku akhirnya melangkah memasuki babak baru dalam perjalananku.
Bukan lagi sebagai pahlawan buatan yang dikendalikan oleh sistem, melainkan sebagai seorang manusia seutuhnya yang siap menuliskan takdirnya sendiri dengan kedua tangannya sendiri.
Tiga minggu berlalu sejak guncangan terakhir yang menghantam tanah sekitar Pohon Genesis.
Hutan Utara yang dulunya kerap dibayangi oleh atmosfer dingin penuh kecemasan kini perlahan berubah menjadi wilayah yang hangat.
Bau busuk uap belerang buatan telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh keharuman tanah basah, embun pagi, dan wangi manis kelopak bunga liar yang tumbuh melingkari akar-akar raksasa Pohon Genesis.
Sesuai rencana, gubuk lama kami yang telah menjadi arang di dekat kebun belakang tidak kami bangun kembali di tempat yang sama. Kami memindahkan tapak kediaman kami ke lereng bukit kecil yang menghadap langsung ke danau jernih.
Di sana, tiupan angin sore terasa lebih sejuk dan pemandangan matahari terbenam menyiram seluruh permukaan air dengan warna keemasan yang menenangkan.
"Tarik lebih kencang, Bong-gu!" teriak Yeon Chul dari atas kerangka atap kayu.
Pria tinggi besar itu berdiri kokoh di atas balok kayu pinus yang baru kami pasang kemarin. Bahu kirinya yang dulu terluka parah kini sudah bebas dari balutan perban, menunjukkan otot tegapnya yang kembali mengeras.
Ia mengulurkan tangannya yang besar ke bawah, menunggu tali serat pohon yang sedang kutarik dari permukaan tanah.
"Sabar sedikit, Chul," balasku seraya menahan tumpuan kakiku di atas rumput basah. Aku memegang erat tali tebal yang mengikat sebatang kayu penopang utama. "Aku menggunakan tenaga otot biasa sekarang, bukan lagi stat strength dari sistem!"
"Halah, alasan saja!" gerutu Yeon Chul, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Mantan Hunter Nomor Satu masa kalah hanya untuk menaikkan sebatang kayu atap?"
Aku tertawa pendek. Dengan satu hembusan napas panjang, aku menyentakkan seluruh kekuatanku, menarik tali tersebut hingga balok kayu penopang terangkat naik ke tempatnya.
Yeon Chul menangkapnya dengan sigap, lalu menguncinya menggunakan pasak kayu keras dan pukulan palu batu yang bertubi-tubi.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara ketukan kayu itu bergema merdu di sekeliling danau, menyatu dengan cicitan burung-burung hutan yang terbang beriringan. Tidak ada lagi raungan monster, tidak ada lagi deru mesin bor Pasukan Pembersih, dan tidak ada lagi suara dengung mekanis dari sistem yang mendikte setiap pergerakan kami.
Di bawah naungan pohon rindang tak jauh dari tempat kami bekerja, Kakek Myeongjin tampak sibuk mengukir perkakas meja kayu menggunakan pahat besi sederhana. Rambut putihnya yang dulu kusam kini terlihat lebih segar, dan guratan lelah di wajah tua itu perlahan memudar. Di sampingnya, Daeun sedang memilah-milah daun herbal kering dan umbi-umbian hasil jelajahnya pagi tadi di pinggiran hutan.
"Kakak Yeon Chul! Paman Bong-gu! Istirahat dulu!" panggil Daeun seraya melambaikan tangannya gembira. Ia mengangkat sebuah cerek tanah liat dan empat buah cangkir kayu di atas nampan. "Aku membuat teh rebusan daun mint hutan dan umbi manis!"
"Dengar itu?" bisikku pada Yeon Chul yang baru saja melompat turun dari kerangka atap. Tubuh besarnya mendarat mulus di tanah tanpa menimbulkan suara keras.
"Aku tidak tuli," sahut Yeon Chul seraya menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju kain sederhananya. "Lagipula, perutku sudah menyuarakan protes sejak satu jam yang lalu."
Kami berempat berkumpul di atas batu-batu kali datar yang kami susun melingkar di bawah pohon rindang. Daeun menuangkan cairan teh hangat yang menguarkan aroma segar dan manis.
Saat cangkir kayu itu menyentuh telapak tanganku, aku menatap Daeun yang baru saja menyodorkan sepotong umbi manis. Sebuah keluhan yang sudah lama mengganjal di dadaku akhirnya tak tahan lagi untuk kuungkapkan.
"Daeun-ah, kemarilah sebentar. Ada satu hal yang sudah lama mengganggu pikiranku," ujarku seraya meletakkan cangkir kayu ke atas batu dan menatap gadis muda itu dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
Daeun menghentikan kesibukannya, memiringkan kepala dengan tatapan bingung. "Ada apa, Paman Bong-gu?"
"Nah, itu dia masalahnya," potongku cepat seraya menunjuk dirinya.
"Kenapa kamu selalu memanggil Yeon Chul dengan sebutan 'Kakak', sementara kepadaku kamu selalu memanggil 'Paman'? Umurku baru dua puluh tiga tahun!" Gerutu Seo Hunter.
"Jarak usia kita tidak sejauh itu, Daeun-ah. Jika dilihat dari penampilan pun, Yeon Chul yang perawakannya lebih tinggi besar dan berwajah galak justru lebih pantas dipanggil paman. Panggilanmu itu membuatku merasa seperti veteran tua yang sudah siap pensiun!"
Daeun tertawa kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan seraya matanya menyipit jenaka.
"Tapi Paman Bong-gu... tatapan matamu itu selalu terlihat seperti orang tua yang sudah melewati ribuan beban hidup," sahut Daeun santai dengan nada menggodaku.
"Lagipula, sejak awal Kak Yeon Chul selalu menyuruhku memanggilnya begitu. Kalau Paman keberatan, baiklah... mulai besok aku akan mencoba memanggilmu Kakak Bong-gu, meski rasanya sedikit canggung di lidahku."
Yeon Chul yang sedang mengasah kapak di sudut halaman mendengus keras, berusaha menahan tawa yang hampir meledak dari dadanya.
Tanpa mengalihkan pandangan dari batu asah, pria tegap itu bergumam penuh kemenangan, "Terasa menyakitkan, kan? Terima saja kenyataan itu, Bong-gu. Kharisma seorang kakak tidak bisa didapatkan hanya karena usiamu lebih muda. Lagipula, wibawamu memang lebih cocok jadi pamannya."
Kakek Myeongjin yang duduk bersandarkan akar pohon hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh pelan, mengelus janggut putihnya dengan tatapan penuh kehangatan.
"Sudahlah, Bong-gu-ya," timpal Kakek Myeongjin dengan suara lembutnya.
"Panggilan 'Paman' dari Daeun itu justru bentuk rasa hormat dan rasa amannya kepadamu. Di matanya, kamu adalah sosok pelindung yang dewasa bagi keluarga kecil kita ini."
Aku hanya bisa menghela napas pasrah mendengar pengeroyokan verbal dari mereka bertiga, meski di dalam hati, kehangatan sederhana dari keakraban ini membuatku tak sanggup menyembunyikan senyuman.
"Bagaimana perkembangan di area pemukiman luar hutan, Kakek?" tanyaku mengalihkan pembicaraan seraya menyesap teh hangatku...
"Bagaimana perkembangan di area pemukiman luar hutan, Kakek?" tanyaku seraya menyesap teh hangat itu perlahan.
Kakek Myeongjin meletakkan pahat kayunya dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Ia mengembuskan napas perlahan, menatap lurus ke arah aliran sungai yang bermuara ke danau.
"Sangat baik, Bong-gu-ya," jawab Kakek Myeongjin lembut.
"Mantan Pasukan Pembersih yang ditinggalkan oleh Dewan Hunter... kini benar-benar telah menjadi manusia biasa. Tanpa racun mana buatan dan chip pengendali yang merusak syaraf mereka, ingatan kekerasan mereka perlahan memudar. Warga di pasar lokal menerima mereka dengan baik setelah tahu mereka juga korban dari sistem tersebut."
"Apakah mereka sudah bisa bercocok tanam?" tanya Yeon Chul seraya mengunyah sepotong umbi manis rebus.
"Ya," Kakek Myeongjin mengangguk pelan. "Mereka mulai membuka lahan gandum dan sayur di dataran selatan. Beberapa di antaranya bahkan membantu memperbaiki jembatan kayu yang rusak di dekat sungai perbatasan. Mereka tidak lagi memiliki senjata, tidak lagi memiliki armor bertopeng besi, tetapi mereka memiliki harapan baru."
Aku mendengarkan penjelasan itu dengan rasa lega yang membuncah di dalam dada. Dulu, Dewan Hunter mengajarkan kami bahwa setiap hal di dunia ini adalah angka, combat power, exp, drop item, dan kalkulasi kerugian.
Manusia di luar lingkup hunter dianggap hanya sebagai variabel pendukung atau korban yang tak terhindarkan. Namun di Ontaris, tanpa ada jendela sistem yang menilai kehidupan berdasarkan level, setiap individu belajar untuk saling membutuhkan kembali.
Sore harinya, ketika pekerjaan pembangunan gubuk telah selesai untuk hari itu, aku berjalan sendirian menyusuri tepi sungai menuju celah tempat Pohon Genesis berdiri.
Pohon raksasa itu tampak begitu megah. Akar-akarnya yang tebal menghujam dalam ke balik bumi Ontaris, sementara daun-daun keemasannya membiaskan pendaran cahaya lembut yang menenangkan.
Di dalam dadaku, Inti Zero berdenyut secara beriringan dengan irama napas pohon tersebut. Tidak ada lagi rasa sesak, tidak ada lagi sensasi terbakar seperti saat energi buatan mengalir di dalam pembuluh darahku.
Aku berlutut di antara celah akar, meletakkan telapak tangan kananku ke atas permukaan kulit kayu Pohon Genesis yang hangat.
"Terima kasih..." bisikku pelan. "Ibu... Ayah... Terima kasih telah memberikan dunia ini untuk kami."
Angin sore bertiup lembut, merontokkan beberapa lembar daun keemasan yang jatuh perlahan melayang di atas bahuku. Sensasi hangat menyelimuti kesadaranku, seolah-olah sebuah pelukan tak kasat mata sedang menyapa jiwaku dari dalam kedalaman Inti Zero.
"Kau masih suka bicara sendiri dengan pohon?"
Suara berat yang familiar itu mengejutkanku pelan. Aku menoleh dan melihat Yeon Chul berdiri beberapa langkah di belakangku. Pria itu menyandarkan bahunya pada sebuah batu besar, memegang dua buah joran pancing kayu sederhana di tangan kanannya.
"Cuma mengucapkan terima kasih," balasku seraya berdiri dan mengibaskan debu rumput dari celanaku. "Ada apa, Chul?"
Yeon Chul melempar salah satu joran pancing kayu itu ke arahku. Aku menangkapnya dengan refleks yang cepat dan mulus.
"Matahari belum sepenuhnya tenggelam," kata Yeon Chul seraya memiringkan kepalanya ke arah aliran sungai yang tenang. "Daeun minta ikan segar untuk makan malam. Dan kali ini, jangan coba-coba menggunakan manipulasi energi Inti Zero-mu untuk mengejutkan ikan di dalam air. Kita memancing secara adil."
Aku terkekeh geli melihat sorot mata pria besar itu. "Siapa juga yang mau membuang-buang energi Inti Zero cuma untuk menangkap ikan gurami sungai?"
Kami berdua berjalan menuju tebing batu kecil yang menyorok ke aliran air sungai yang jernih. Kami duduk berdampingan di atas batu dingin, melempar umpan cacing tanah yang terikat pada mata kail buatan tangan kami sendiri ke dalam air.
Permukaan air sungai berkilau keemasan memantulkan warna langit sore yang berubah jingga keunguan.
Di dalam air yang bening, terlihat beberapa ekor ikan berenang bebas di antara celah batu dan lumut hijau.
"Hei, Bong-gu," panggil Yeon Chul pelan setelah beberapa menit keheningan melingkupi kami. Matanya tetap tertuju pada pelampung kayu kecil yang mengapung di air.
"Ya?"
"Kadang-kadang..." Yeon Chul jeda sejenak, mengelus bekas luka di sekitar mata kanannya yang mengering. "...aku masih bermimpi tentang masa-masa di dunia dulu. Tentang dentuman meriam, teriakan orang-orang di dalam dungeon, dan bau amis darah monster yang menempel di baju zirahku."
Aku menyimak ucapan Yeon Chul tanpa menyela.
"Di dalam mimpi itu," lanjut Yeon Chul dengan suara rendah, "aku selalu merasa dikejar oleh jendela sistem yang menuntutku untuk terus bertarung, terus menaikkan level, sampai tubuhku hancur. Tapi saat aku terbangun..."
Yeon Chul menoleh memandangku, "...aku melihat atap kayu gubuk kita, menghirup bau tanah, dan mendengarkan suaramu yang menggerutu karena harus membelah kayu bakar. Di situ aku sadar... mimpi buruk itu sudah selesai."
Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke arah riak air sungai.
"Mimpi buruk itu memang sudah selesai, Chul," kataku mantap. "Sistem itu diciptakan oleh orang-orang yang takut akan kematian dan ketidakpastian. Mereka mengukur keberadaan manusia hanya lewat angka dan persentase. Tapi di sini, hidup kita tidak ditentukan oleh level atau gelar S-Class. Hidup kita diukur dari apa yang kita bangun dan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain setiap harinya."
Yeon Chul mengangguk pelan, menyetujui perkataanku. Tiba-tiba, pelampung kayu miliknya tertarik deras masuk ke dalam air.
"Ha! Dapat!" seru Yeon Chul seraya menarik joran kayunya dengan kuat.
Seeekor ikan sungai berukuran cukup besar menggeliat di udara sebelum mendarat dengan kecipak air di atas batu tempat kami duduk. Yeon Chul tertawa puas, menepuk dada tegapnya dengan bangga.
"Lihat itu? Tanpa sistem pun, keahlian memancingku masih kelas atas!" kelakar Yeon Chul seraya melepaskan mata kail dari mulut ikan tersebut dan memasukkannya ke dalam keranjang anyaman bambu.
"Itu cuma keberuntungan pemula," balasku terkekeh, meski beberapa detik kemudian pelampung kayuku sendiri ikut terseret ke dalam air.
Malam hari tiba di ruang Ontaris dengan ketenangan yang luar biasa. Langit malam di dunia ini tidak dipenuhi oleh polusi asap atau pancaran lampu neon perkotaan, melainkan dihiasi oleh ribuan bintang yang bersinar terang bagaikan debu berlian yang ditaburkan di atas kain beludru hitam.
Di depan kerangka gubuk baru kami yang setengah jadi, sebuah api unggun kecil menyala hangat. Udara malam yang dingin terasa sejuk saat diterpa oleh kehangatan lidah api yang menari-nari.
Di atas bara api, beberapa ekor ikan hasil tangkapan kami sore tadi dipanggang hingga kulitnya berwarna keemasan dan menguarkan aroma gurih yang menggugah selera.
Daeun dengan penuh semangat mengoleskan bumbu ramuan umbi-umbian lokal yang memberikan cita rasa manis dan pedas alami.
"Nah, ini dia!" seru Daeun riang seraya membagikan tusukan ikan panggang hangat kepada kami semua. "Ikan panggang spesial buatan Hutan Utara!"
Kakek Myeongjin menerima bagiannya dengan senyuman hangat. "Terima kasih, Daeun-ah. Aroma masakanmu selalu mengingatkan Kakek pada masakan rumah dulu."
Aku menggigit daging ikan panggang tersebut. Lembut, gurih, dan hangat melintasi tenggorokanku. Rasanya jauh lebih nikmat daripada stamina potion atau ransum buatan yang dulu biasa kutelan secara terburu-buru di tengah pertempuran dungeon.
"Bagaimana, Bong-gu?" tanya Yeon Chul seraya mengunyah bagian fisiknya sendiri. "Lebih enak dari sup ikan buatanku?"
"Jangan dibanding-bandingkan!" jawabku tertawa. "Masakan Daeun jelas pemenangnya."
"Hei!" Yeon Chul berpura-pura bersungut-sungut, membuat Daeun dan Kakek Myeongjin tertawa terbahak-bahak. Suara tawa kami melayang tinggi di udara malam, menyatu dengan derik jangkrik dan bisikan angin hutan.
Setelah makan malam selesai, Daeun dan Kakek Myeongjin lebih dulu masuk ke dalam tenda kain sementara yang kami dirikan di dekat gubuk untuk beristirahat. Kelesuan dari aktivitas seharian membuat mereka tertidur lelap dengan cepat.
Aku dan Yeon Chul masih duduk di dekat sisa-sisa bara api unggun yang berkedip pelan. Aku menyandarkan punggungku pada balok kayu, menatap bintang-bintang di langit malam.
"Bong-gu," panggil Yeon Chul pelan. Pria itu sedang mengasah mata kapak kayu baru kami menggunakan batu asah halus.
"Hm?"
"Setelah gubuk ini selesai... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Yeon Chul. Sorot matanya memantulkan bayangan bara api.
"Maksudku... kita punya seluruh waktu di dunia ini sekarang. Tidak ada quest, tidak ada batas waktu, tidak ada ancaman. Terkadang rasanya agak membingungkan ketika kamu mendadak bebas memilih apa saja."
Aku merenungkan pertanyaan Yeon Chul sejenak. Pertanyaan itu sangat wajar bagi orang-orang seperti kami, orang-orang yang selama bertahun-tahun hidupnya dicetak hanya untuk satu tujuan, bertahan hidup dan membunuh monster demi perintah sistem.
"Kita akan belajar," jawabku lembut seraya menatap hamparan bukit di kejauhan.
"Belajar?" Yeon Chul menghentikan gerakan batu asahnya.
"Ya. Kita belajar cara bercocok tanam yang benar dari warga pemukiman. Kita belajar mengenal jenis-jenis tanaman herbal baru di Ontaris dari Kakek Myeongjin. Kita bisa mengajari Daeun cara membaca peta alam, atau mungkin... kita bisa menjelajahi bagian selatan Ontaris yang belum pernah dikunjungi siapapun."
Aku memandang Yeon Chul dan menyunggingkan senyum tulus.
"Kita tidak perlu terburu-buru, Chul. Kita punya banyak musim semi, musim panas, dan musim dingin di hadapan kita." Jedaku.
"Kebebasan itu bukan berarti kita harus langsung memiliki tujuan besar. Kebebasan berarti kita berhak menikmati setiap detik tanpa merasa takut akan esok hari."
Yeon Chul diam mendengarkan. Perlahan, ketegangan pada otot bahunya mencair. Ia mengangguk-angguk kecil, menyetujui kata-kataku, lalu melanjutkan kegiatannya mengasah kapak.
"Bercocok tanam, ya?" gumam Yeon Chul seraya terkekeh pelan. "Mantan Hunter kelas SSS dan mantan komandan garda depan... menjadi petani kentang di lereng bukit. Kalau Dewan Hunter masih ada, mereka pasti akan menganggap kita sudah gila."
"Biarkan saja," balasku seraya memejamkan mata, menikmati kehangatan bara api di kulit wajahku.
"Menjadi orang gila yang bahagia jauh lebih baik daripada menjadi pahlawan berdarah-darah yang mati di dalam celah sistem."
Bulan demi bulan berlalu di dunia Ontaris tanpa terasa. Musim gugur yang membawa warna keemasan pada pepohonan hutan perlahan bergeser, menyambut datangnya musim dingin pertama kami di tanah baru ini.
Gubuk kayu kami yang terletak di lereng bukit kini telah berdiri dengan megah dan kokoh. Dinding-dinding kayunya yang tebal dilapisi oleh tanah liat khusus yang mampu menahan hembusan angin dingin, sementara atapnya dirancang cukup curam agar tumpukan salju dapat meluncur turun dengan mudah.
Di tengah gubuk, sebuah perapian batu besar yang dibangun oleh Yeon Chul menguarkan kehangatan yang tak pernah padam.
Pagi itu, salju pertama turun menutupi permukaan bumi Ontaris. Lapisan putih yang lembut dan bersih menyelimuti pucuk-pucuk pohon pinus, padang rumput, danau, hingga celah-celah akar Pohon Genesis.
Aku melangkah keluar dari pintu gubuk kayu kami, mengembuskan napas yang langsung membentuk uap putih di udara dingin.
Aku mengenakan mantel tebal yang dibuat dari serat pohon dan bulu domba lokal hasil perdagangan barter kami dengan pemukiman pasar dua minggu lalu.
Di depan halaman gubuk, Yeon Chul sedang membelah kayu bakar dengan kapak kayunya. Setiap kali mata kapak itu menghantam kayu pinus kering, bunyi tak! yang nyaring memecah keheningan fajar bermandi salju.
"Pagi, Bong-gu," sapa Yeon Chul tanpa menghentikan ayunan tangannya. Uap napas tersembur dari hidungnya saat ia membelah dua sepotong kayu besar.
"Pagi, Chul," balasku seraya berjalan mendekati tumpukan kayu bakar. Aku mengambil beberapa potong kayu yang telah terbelah rapi untuk dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan dekat perapian.
"Saljunya cukup tebal hari ini."
"Ya, tapi perapian kita berfungsi sangat baik,"
kata Yeon Chul bangga seraya menyapu salju tipis yang menempel di bahunya. "Kakek Myeongjin dan Daeun masih tidur lelap di dekat perapian. Kehangatan rumah ini jauh lebih nyaman daripada gubuk lama kita dulu."
Aku memandang ke arah danau di bawah bukit. Permukaan air danau kini membeku menjadi lapisan es tipis yang memantulkan sinar matahari pagi yang baru terbit di ufuk timur.
Pohon Genesis yang berdiri di seberang sungai tampak begitu agung di tengah hamparan putih salju. Serat-serat keemasan pada batangnya tetap berdenyut terang, memancarkan energi hangat yang menjaga agar tanah di sekitarnya tidak sepenuhnya membeku mati.
Aku melangkahkan kaki perlahan mendekati tepi bukit, melihat ke arah pemukiman warga di luar batas hutan.
Dari kejauhan, asap tipis membumbung tinggi dari cerobong-cerobong rumah warga pemukiman. Mereka telah bersiap menyambut musim dingin dengan lumbung makanan yang terisi penuh.
Tidak ada kepanikan, tidak ada seruan darurat pertahanan gate, hanya ada rutinitas kehidupan manusia yang berjalan alami.
Di dalam dadaku, Inti Zero berdetak lembut dan penuh kedamaian. Tidak ada lagi pesan peringatan merah dari sistem yang berkedip di pandanganku. Tidak ada lagi garis waktu cooldown keahlian.
Yang ada hanyalah dinginnya angin salju yang menyentuh pipiku, aroma kayu bakar yang terbakar di perapian, dan suara tawa Daeun yang baru saja terbangun di dalam gubuk dan mulai menyapa Kakek Myeongjin.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara musim dingin Ontaris yang sangat murni dan segar, lalu mengembuskannya perlahan.
Aku mengulas sebuah senyuman lebar, senyuman dari seorang pemuda bernama Seo Bong-gu, berusia dua puluh tiga tahun, yang telah sepenuhnya meninggalkan masa lalunya sebagai senjata bernyawa.
Di bawah langit Ontaris yang membentang luas tanpa batas, aku tahu bahwa kisah perjalananku bukan lagi tentang bertarung untuk bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana menikmati setiap detik kesempatan hidup yang telah diberikan dengan penuh rasa syukur.
Aku membalikkan badan dan berjalan kembali menuju pintu gubuk kami yang hangat, di mana bau sup umbi panas telah mulai menguar menyambut fajar yang kian terang.