# 6화 — Chapter 6 : Echoes behind the roots
Kedamaian di Ontaris tidak datang seperti guruh yang meruntuhkan gunung, melainkan merayap perlahan seperti embun pagi yang menyejukkan.
Tiga minggu telah berlalu sejak getaran mesin bor terakhir buatan Pasukan Pembersih dihancurkan. Hutan Utara yang dulunya dingin, gelap, dan mengancam kini dipenuhi wangi harum tanah basah, pinus segar, dan kelopak bunga liar yang bermekaran di sepanjang aliran sungai yang jernih.
Gubuk kayu baru kami berdiri kokoh di lereng bukit yang menghadap langsung ke danau. Setiap pahatan kayu pada dindingnya, setiap ikatan tali serat pohon pada atapnya, adalah bukti nyata dari keringat yang kami cucurkan tanpa bantuan stat maupun sistem perkakas ajaib. Kami membangunnya kembali murni menggunakan tangan telanjang, kapak besi tua, dan peralatan manual.
Ada kepuasan asing yang menyeruak di dalam dada tiap kali melihat tiang-tiang penyangga itu berdiri tegak, sebuah mahakarya sederhana yang lahir bukan dari kalkulasi angka sistem, melainkan dari kerja keras manusia biasa.
Sore itu, matahari membiaskan cahaya keemasan di atas permukaan air danau yang tenang. Kami berempat berkumpul di pelataran gubuk, menikmati makan malam sederhana di bawah naungan atap kayu yang baru saja selesai kami kerjakan kemarin.
Daeun sibuk menata hasil panen pertama berupa umbi-umbian dan buah manis dari kebun kecil di samping rumah.
Jari-jarinya yang kecil kini belepotan tanah kebun, sebuah pemandangan yang jauh lebih menenteramkan dibanding jemari yang memegang belati berdarah.
Sementara itu, Yeon Chul sibuk mengikat sisa-sisa kayu bakar di sudut halaman dengan seratan tali akar yang kuat.
Aku bersandar pada tiang teras, menyesap cangkir air hangat seraya menatap telapak tanganku sendiri.
Tidak ada lagi jendela sistem yang berkedip, tidak ada lagi deretan angka status atau notifikasi misi mematikan. Hanya ada rasa lelah yang nyata pada otot-ototku, dan kepuasan sederhana setelah seharian bekerja keras.
Namun, transisi menuju kehidupan normal ini tidak sepenuhnya tanpa canggung. Gerakan kami masih sering dibayangi oleh trauma pertarungan bertahun-tahun.
Kulihat Yeon Chul mencoba memotong umbi kukus di atas piring kayunya. Tangannya yang tegap dan biasa memegang gagang pedang besar tampak gemetaran secara tak sadar saat menggenggam pisau dapur kecil.
Otot-otot lengannya menegang tebal, memotong umbi itu terlalu keras hingga pisau kayunya menancap dalam ke permukaan meja. Yeon Chul menghembuskan napas panjang, merengut menatap tangannya sendiri.
"Masih terlalu keras mencengkeram?" tanyaku pelan, menyunggingkan senyum tipis.
Yeon Chul terkekeh sumbang, menyapu rambut pendeknya yang kasar. "Refleks bodoh ini susah hilang, Bong-gu. Tiap kali ada desir angin agak kencang dari semak-semak, jariku secara otomatis mencari gagang pedang yang sudah tak ada di pinggang. Tubuhku seolah menolak percaya bahwa kita tidak sedang diburu."
"Aku juga sama, Kak Yeon Chul," sahut Daeun seraya duduk di bangku kayu di sebelahku.
Gadis muda itu memeluk lututnya, menatap lurus ke arah cakrawala danau. "Tiap kali malam tiba, aku masih sering mengintip dari celah jendela... mencari-cari apakah ada kilatan merah dari mata monster atau pendaran sinyal dari helikopter Dewan Hunter. Rasanya aneh sekali saat menyadari bahwa yang ada di luar sana hanyalah bayangan pepohonan dan suara jangkrik."
"Bong-gu-ya, jangan melamun," panggil Kakek Myeongjin lembut dari balik meja kayu, mengelus janggut putihnya seraya tersenyum.
"Minum airmu sebelum dingin. Anak-anak muda zaman sekarang kalau sedang senggang malah suka melamunkan hal-hal yang tidak jelas."
"Aku tidak melamun, Kakek," balasku seraya mengulas senyim tipis dan melangkah mendekati meja. "Aku hanya sedang berpikir... rasanya aneh melihat tempat ini begitu tenang. Tanpa suara raungan monster atau dentang pedang."
Yeon Chul melemparkan tumpukan kayu bakar ke sudut, lalu berjalan mendekat seraya mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Justru itu yang dinamakan hidup sebagai manusia normal, Bong-gu. Nikmati saja. Ini kehidupan yang kita bayar mahal dengan darah dan keringat kita selama bertahun-tahun."
"Benar kata Kak Yeon Chul!" timpal Daeun riang, menyodorkan piring berisi rebusan sayur segar. "Mulai sekarang tidak ada lagi perang. Kita hanya perlu memikirkan bagaimana cara memperluas kebun sayur dan memperbaiki atap sebelum musim hujan tiba."
Mendengar celotehan mereka, dada ini terasa meluap oleh kehangatan yang tak pernah kualami sebelumnya. Canda tawa sederhana, dentang mangkuk kayu, dan keakraban tanpa beban ini adalah kebebasan murni yang selalu kami impikan di tengah kejaran ajal.
Namun, di balik permukaan danau yang berkilau tenang dan kehangatan yang menyelimuti gubuk baru kami, kedamaian di Ontaris ternyata menyimpan retakan halus yang tak terlihat.
Tanda-tanda aneh itu tidak datang bersama petir menyambar atau gemuruh badai, melainkan muncul tanpa suara, merayap perlahan-lahan merusak ritme alam yang baru saja terbentuk.
Awalnya adalah daun-daun keemasan Pohon Genesis. Mula-mula hanya satu atau dua helai yang layu dan gugur setiap pagi, berganti warna menjadi abu-abu kusam sebelum hancur menyerupai pasir.
Musim gugur memang belum saatnya tiba, tetapi gugurnya daun-daun itu terasa tidak alami, seolah daya hidup yang mengaliri ranting-rantingnya mendadak mengering.
Lalu, hewan-hewan hutan mulai bertingkah janggal. Rusa-rusa bertanduk perak dan burung-burung berkicau yang biasanya berkumpul di sekitar sungai dekat Pohon Genesis kini menghilang. Mereka secara serentak mengungsi ke dataran selatan, menjauhi pusat hutan seakan-akan ada ancaman tak kasat mata yang merayap di bawah tanah.
Namun, hal paling menggelisahkan terjadi padaku setiap kali malam mencapai puncaknya.
Inti Zero di dalam dadaku yang seharusnya bertindak sebagai jantung energi yang tenang bagi Ontaris berdenyut tidak teratur. Ritmenya tidak lagi selaras dengan embun fajar atau tiupan angin. Setiap kali detakan abnormal itu menghantam dinding dadaku, sensasi dingin yang menyengat menjalar hingga ke ujung jari.
Bukan hanya aku yang merasakannya.
Pada minggu keempat, laporan aneh mulai bermunculan dari pemukiman warga di luar hutan.
Mantan Pasukan Pembersih, para prajurit bertopeng besi yang kini telah kehilangan ingatan kekerasan mereka dan belajar bercocok tanam mengalami hal serupa. Mereka terbangun di tengah malam dengan peluh dingin membasahi tubuh, menceritakan mimpi buruk yang sama secara berulang.
Dalam mimpi mereka, mereka tidak melihat Hutan Utara atau pemukiman Ontaris. Mereka melihat reruntuhan gedung-gedung tinggi berkabut asap, rel kereta bawah tanah yang hancur, dan pemandangan kota Seoul yang tertutup kabut hitam.
Hingga pada suatu pagi, salah satu dari mantan Pembersih itu hilang secara misterius dari ladang gandumnya. Sebelum pergi meninggalkan pondoknya, ia sempat meninggalkan guratan tulisan acak di atas meja kayu menggunakan paku berkarat.
“Gerbangnya belum benar-benar tertutup.”
Sore itu, aku berdiri sendirian di celah raksasa Pohon Genesis. Udara di sekitar pohon raksasa terasa agak pekat. Aku melangkah mendekati batang utamanya, lalu perlahan meletakkan telapak tangan kananku ke permukaan kulit kayu yang kasar.
Biasanya, setiap kali menyentuh Pohon Genesis, aku merasakan kehangatan yang mengalir lembut bagaikan pelukan seorang ibu. Namun kali ini, gelombang energi yang menyapa telapak tanganku terasa dingin dan bergetar tidak stabil.
Gubrak... gubrak...
Suara getaran samar bergema dari kedalaman tanah di bawah telapak tanganku. Bukan getaran mekanis bor musuh, melainkan sesuatu yang berbisik dari balik susunan akar paling dalam.
"Bong-gu-ya..."
Jantungku melonjak gila-gilaan. Suara itu... suara bisikan wanita yang sangat lembut, bergetar di dalam benakku. Suara yang sama dengan kenangan samar di dalam ingatanku saat masih kecil.
"Bong-gu-ya... jangan percaya pada siapapun... Sembunyikan Inti Zero... Jangan biarkan mereka menemukan kebenarannya..."
"Ibu?" bisikku panik, mempererat cengkeraman tanganku pada kulit kayu. "Ibu! Apakah itu engkau?"
Namun bisikan itu mendadak terputus. Berganti dengan denyutan tajam di Inti Zero yang membuatku terhuyung mundur beberapa langkah, menekan dada kananku seraya menggeram menahan sakit.
"Bong-gu!"
Sebuah tangan tegap menahan bahuku dari belakang sebelum tubuhku ambruk ke tanah. Aku menoleh dan menemukan Yeon Chul berdiri di sana dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Apa yang terjadi?" tanya Yeon Chul tegas. "Aku melihatmu berdiri mematungi pohon ini selama setengah jam tanpa bergerak sedikit pun. Wajahmu pucat pasi."
Aku menyapu peluh dingin di dahiku, bernapas terengah-engah. "Chul... aku mendengar suara. Suara ibuku... dari balik akar."
Yeon Chul mengerutkan alisnya tebal-tebal, menatapku heran. "Suara ibumu? Bong-gu, orang tuamu sudah gugur bertahun-tahun lalu di fasilitas rahasia Dewan Hunter sebelum Project Genesis disembunyikan. Pikiranmu hanya terlalu lelah karena perubahan energi di tempat ini."
"Bukan hanya itu, Chul," kataku seraya menunjuk ke atas.
Yeon Chul menengadah. Untuk pertama kalinya sejak kami tinggal di tempat ini, pendaran cahaya keemasan yang menyelimuti dedaunan Pohon Genesis pudar.
Sebagai gantinya, urat-urat merah samar merayap melintasi serat-serat kayu batang raksasa itu, bagaikan pembuluh darah yang terkontaminasi oleh racun.
Malam harinya, tanda-tanda itu tidak lagi dapat disembunyikan.
Ketika kegelapan merayapi langit Ontaris, seluruh pemukiman di luar hutan diguncang oleh benturan dahsyat dari dalam tanah.
Bagaikan dentangan lonceng raksasa yang terkubur ratusan meter di bawah bumi, suara DANG! DANG! DANG! bergema berulang kali, meretakkan permukaan tanah dan mengejutkan seluruh warga yang sedang tertidur lelap.
Pohon Genesis memancarkan pendaran cahaya merah pekat yang membumbung tinggi menembus awan malam, menerangi langit Ontaris dengan warna merah darah yang mencekam.
Aku, Yeon Chul, Daeun, dan Kakek Myeongjin berlari kencang menuju celah akar utama. Kakek Myeongjin berlutut di atas retakan tanah yang mengeluarkan uap berbau tembaga. Pria tua itu menyebarkan sedikit bubuk kristal ke dalam celah tanah, menutup matanya rapat-rapt untuk membaca aliran energi bawah tanah.
Ketika Kakek Myeongjin membuka matanya kembali, tangannya yang memegang tongkat kayu bergetar hebat. Wajahnya yang tua tampak jauh lebih pucat daripada saat kami menghadapi Pasukan Pembersih tiga minggu lalu.
"Ini... ini tidak mungkin..." gumam Kakek Myeongjin gemetar.
"Apa yang terjadi, Kakek?" tanya Daeun panik, memeluk lengan pria tua itu.
Kakek Myeongjin menoleh memandangku dengan tatapan horor. "Serangan bor mekanis dari Pasukan Pembersih tiga minggu lalu... racun mana korosif yang mereka salurkan..."
"Bukankah Bong-gu sudah menetralkannya malam itu?" potong Yeon Chul cepat. "Aku melihat sendiri bagaimana cahaya keemasan Bong-gu membersihkan seluruh uap racun korosif dari permukaan tanah!"
"Di permukaan tanah, ya!" seru Kakek Myeongjin dengan suara parau.
"Tapi racun mana buatan Dewan Hunter dirancang dengan sifat molekuler yang memakan energi murni! Saat Bong-gu menghantamkan energinya malam itu, sebagian racun tidak hancur, melainkan terdorong masuk lebih dalam ke dalam jalinan simpul akar paling bawah!"
Kakek Myeongjin menunjuk ke arah pendaran merah di batang pohon. "Racun itu telah mengendap di pusat sistem akar Ontaris selama tiga minggu. Sekarang, racun itu telah bermutasi dan mulai menggerogoti struktur utama ruang ini dari dalam. Jika racun korosif itu mencapai Inti Utama di dasar bumi Ontaris... ruang dimensi ini tidak akan lagi memiliki penyangga."
"Apa dampaknya jika ruang ini kehilangan penyangga, Kakek?" tanyaku dengan suara rendah.
Kakek Myeongjin menatap mataku dalam-dalam. "Ontaris tidak hanya akan hancur fisik, Bong-gu. Tempat ini akan mengalami kegagalan realitas (reality collapse). Ruang ini akan mulai menghapus dirinya sendiri dari garis waktu. Keberadaan, ingatan, dan seluruh sejarah orang-orang yang tinggal di dalamnya... akan lenyap seolah-olah kita tidak pernah ada di dunia mana pun."
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi kami. Hawa dingin malam terasa menusuk hingga ke tulang.
"Tidak..." bisik Daeun dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Kita baru saja membangun rumah baru kita... Kita baru saja terbebas..."
Di tengah kepanikan itu, semak-semak di balik celah hutan bergoyang keras.
"Siapa di sana?!" gertak Yeon Chul seraya mencabut pisau berburu besar dari pinggangnya, pasang kuda-kuda melindungi Daeun dan Kakek Myeongjin.
Seorang pria berjalan keluar dari balik kegelapan malam dengan langkah terseok-seok. Pakaian kain lusuhnya tercabik-cabik, dan tangan kirinya menggenggam erat sebuah pecahan topeng besi berwarna hitam yang retak yang merupakan topeng khas Pasukan Pembersih Dewan Hunter.
Pria itu ambruk berlutut di atas tanah basah beberapa meter di hadapan kami. Ia tidak memegang senjata. Wajahnya yang kurus dan pucat dipenuhi keringat dingin.
"Tolong... jangan bunuh aku..." panggil pria itu dengan suara parau dan batuk darah kecil.
"Dia salah satu mantan Pembersih yang menghilang dari pemukiman kemarin!" seru Daeun mengenali wajah pria itu.
Aku melangkah maju, menahan tangan Yeon Chul agar tidak menyerang. Aku berlutut di depan pria itu. "Kenapa kamu kembali ke sini? Apa yang terjadi padamu?"
Pria itu mendongak, menatapku dengan mata yang memancarkan ketakutan mutlak. Tangannya yang gemetar menyodorkan pecahan topeng besi di genggamannya. Di bagian dalam topeng yang retak itu, terdapat modul cip mekanis yang masih berkedip-kedip melontarkan garis-garis kode merah.
"Programnya... program di dalam topeng ini tidak pernah sepenuhnya mati..." bisik pria itu terbata-bata.
"Malam kemarin... cip ini mengaktifkan sinyal transmisi tersembunyi. Sinyal yang dikirim langsung dari luar dimensi Ontaris..."
"Dari luar?" bentak Yeon Chul. "Dari Dewan Hunter di Bumi?!"
Pria itu mengangguk lemah. "Pasukan Pembersih yang menyerang tempat ini tiga minggu lalu... kami tidak dikirim untuk menghancurkan Pohon Genesis atau merebut Inti Zero dari dadamu, Seo Bong-gu..."
Aku mengerutkan dahi. "Lalu untuk apa mereka memompa racun mana ke bawah tanah?"
"Untuk memancingmu memicu Inti Zero!" jawab pria itu seraya terbatuk keras.
"Pimpinan Dewan Hunter di Bumi tahu bahwa Inti Zero di dadamu membutuhkan reaksi emosional dan pemicu eksternal untuk menyatu sempurna dengan jaringan Ontaris. Mereka menyuntikkan racun itu agar kamu terdesak dan menggunakan kekuatan penuhmu untuk menetralkannya!"
Pria itu mencengkeram lengan bajuku erat-erat, matanya liar. "Mereka tidak ingin membunuhmu, Bong-gu! Mereka butuh kamu tetap hidup! Seseorang di atas sana... pimpinan tertinggi Dewan Hunter... membutuhkan Inti Zero di dalam dadamu tetap aktif dan terhubung dengan jaringan Ontaris!"
"Kenapa?" tanyaku dengan dada yang berdetak kencang. "Untuk apa mereka melakukan semua itu?"
Pria itu menggelengkan kepala ketakutan. "Aku tidak tahu nama pastinya... Tapi cip di topeng ini menerima satu perintah otomatis saat racun mulai menggerogoti akar 'Biarkan ruang Ontaris hancur dari dalam, hingga gerbang utama terbuka dari bawah.' Jika kamu mati atau ruang Ontaris ini runtuh tanpa terkendali... sesuatu yang terkubur di luar dimensi ini akan berhasil masuk."
Kata-kata mantan Pembersih itu menghantam kami bagaikan petir di siang bolong.
Kedamaian yang kami nikmati selama tiga minggu terakhir bukanlah sebuah kemenangan akhir, melainkan perangkap tak kasat mata yang telah dirancang dengan sangat rapi dari jauh.
Kakek Myeongjin mengusap wajahnya yang letih, menatap pendaran merah Pohon Genesis yang semakin pekat.
"Hanya ada satu cara untuk menghentikan penghancuran ini, Bong-gu-ya," ujar Kakek Myeongjin pelan, suaranya sangat berat.
"Katakan padaku, Kakek," balasku mantap.
"Di dasar rongga Pohon Genesis, terdapat simpul pusat yang menghubungkan Inti Zero di dadamu dengan seluruh saraf energi Ontaris," Kakek Myeongjin menjelaskan.
"Kamu harus turun ke dalam celah akar paling bawah, memasuki Nodus Genesis, dan menyerap kembali seluruh racun korosif yang telah mengendap di sana menggunakan Inti Zero-mu."
"Aku akan melakukannya," sahutku tanpa ragu sedikit pun.
"Tunggu, Bong-gu!" potong Kakek Myeongjin cepat, memegang bahuku. "Dengarkan aku dulu! Nodus Genesis bukan sekadar tempat penyimpanan energi. Tempat itu adalah memori organik dari Project Genesis. Tempat di mana orang tuamu menyimpan seluruh rekaman data dan ingatan asli penciptaan ruang ini."
Mata Kakek Myeongjin menatapku penuh keprihatinan. "Jika kamu masuk ke dalam rongga akar terlalu dalam, energi racun dan memori purba itu akan menyatu dengan kesadaranmu. Ingatanmu yang terhapus oleh sistem akan kembali seluruhnya... termasuk kebenaran mengerikan tentang siapa yang sebenarnya mengkhianati orang tuamu dan bagaimana tempat ini diciptakan."
Aku terdiam sejenak. Menyerap racun korosif itu berarti mempertaruhkan nyawaku, dan membuka ingatan masa lalu berarti menghadapi kenyataan yang mungkin akan menghancurkan ketenangan jiwa yang baru saja kurasakan.
"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu pergi."
Suara berat Yeon Chul memecah keheningan. Pria tinggi besar itu melangkah berdiri di antaraku dan celah akar Pohon Genesis.
Wajah tegapnya mengeras, dan mata kanannya menatapku penuh kemarahan yang tertahan.
"Chul..." panggilku pelan.
"Jangan sebut namaku dengan nada pasrah seperti itu, Bong-gu!" bentak Yeon Chul, suara garangnya menggelegar menembus sunyinya hutan.
"Kita baru saja keluar dari neraka sistem! Kita baru saja membangun gubuk kayu kita di tepi danau! Kita baru saja berjanji untuk hidup sebagai manusia biasa, bercocok tanam, dan memancing di sungai!"
Yeon Chul mencengkeram kerah bajuku dengan kedua tangannya yang besar, menatap mataku dengan tatapan emosional yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Bukankah kau yang mengatakan padaku bahwa kita bebas sekarang?!" teriak Yeon Chul, suaranya bergetar menahan gejolak di dadanya. "Bukankah kau yang bilang kita tidak perlu lagi bertaruh nyawa untuk pahlawan buatan atau perintah siapa pun?!"
Aku menatap mata sahabatku itu. Di balik wajah garangnya dan bekas luka pertempuran yang melintang di mukanya, aku melihat ketakutan seorang pria yang tak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.
"Aku memang bebas memilih, Chul," jawabku pelan namun sangat mantap.
"Kalau begitu pilihlah untuk tetap hidup!" seru Yeon Chul, mencengkeram kerahku semakin erat hingga jarinya memutih. "Pilihlah untuk tinggal di sini! Kita bisa mencari cara lain! Kita bisa mengungsi ke batas luar Ontaris!"
"Tidak ada cara lain, Chul!" balasku seraya memegang kedua pergelangan tangan Yeon Chul, perlahan melepaskan cengkeramannya dari kerah bajuku.
"Jika racun itu mencapai inti, Ontaris akan hapus dari keberadaan. Daeun, Kakek Myeongjin, orang-orang di pemukiman... seluruh tempat ini akan lenyap seolah-olah kita tidak pernah ada!"
Aku menatap Yeon Chul lurus ke dalam matanya.
"Kalau aku memilih tetap hidup dengan membiarkan semua orang di sini mati... apa bedanya aku dengan Dewan Hunter yang mengorbankan jutaan manusia demi ego mereka sendiri?"
Yeon Chul terpaku mendengar ucapanku. Tangannya yang memegang kerahku perlahan terkulai lemas di samping tubuhnya. Ia memalingkan wajahnya ke samping, mengetuk gigi-giginya erat seraya napasnya terengah-engah menahan kemarahan dan kesedihan yang mendalam.
"Kau bodoh, Seo Bong-gu..." gumam Yeon Chul seraya mengusap kasar matanya dengan belakang lengan baju. "Kau selalu saja bertindak seperti pahlawan gila..."
Aku mengulas senyum tipis, menepuk bahu tegap pria besar itu. "Aku bukan lagi pahlawan buatan sistem, Chul. Kali ini, aku bertindak sebagai diriku sendiri... untuk melindungi rumah kita."
Daeun berjalan mendekat dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Gadis muda itu memelukku erat-erat.
"Paman... tolong kembali dengan selamat... Janji pada kami bahwa Paman akan kembali untuk makan sup ikan hangat..."
Aku mengelus kepala Daeun dengan lembut, menahan rasa haru yang menggetarkan dadaku. "Aku janji, Daeun-ah. Dan ingat... mulai besok, panggil aku Kakak Bong-gu."
Daeun tertawa di tengah tangisnya, mengangguk cepat.
Kakek Myeongjin menyerahkan sebuah jimat serat kayu kecil ke genggaman tanganku.
"Gunakan ini untuk menjaga fokus kesadaranmu di dalam rongga akar. Jangan biarkan ingatan masa lalu menelan jiwa murnimu, Bong-gu-ya."
Aku melangkah menuju celah raksasa di pangkal akar Pohon Genesis. Uap merah korosif membumbung keluar dari kegelapan lubang bawah tanah itu, menguarkan bau tembaga yang menyengat.
Urat-urat merah di batang pohon berdenyut semakin kencang, seolah-olah seluruh Ontaris sedang merintih kesakitan.
Aku berdiri di tepi jurang akar, menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.
Yeon Chul berdiri membisu dengan tangan bersedekap di dada, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi tekad dan rasa cemas.
Daeun merangkul lengan Kakek Myeongjin, melambaikan tangannya dengan tangis yang tertahan.
"Jaga rumah kita sampai aku kembali," kataku menyunggingkan senyum lebar.
Tanpa menunggu jawaban, aku membalikkan badan dan melompat masuk ke dalam kegelapan rongga akar Pohon Genesis.
Ssssshhhhh!
Dinding-dinding akar raksasa menelanku seketika ke dalam pusaran energi kombinasi merah dan keemasan yang bergolak hebat.
Hawa panas korosif yang luar biasa langsung menghantam permukaan tubuhku, namun Inti Zero di dalam dadaku merespons secara refleks, memancarkan perisai cahaya pelindung transparan yang menahan gesekan racun tersebut.
Aku meluncur semakin jauh menembus kegelapan perut bumi Ontaris. Kegelapan pekat di sekelilingku perlahan-lahan berganti menjadi lautan memori cair yang berkilauan dengan pendaran cahaya aneh.
Gambar-gambar kenangan masa lalu yang terfragmentasi melintas cepat di pelupuk mataku bagaikan pecahan-pecahan kaca yang beterbangan di dalam badai.
Ruangan laboratorium bawah tanah yang steril, dingin, dan dipenuhi instrumen logam...
Suara detak irama mesin pemantau medis yang berulang tanpa henti...
Sosok pria berjas laboratorium putih dengan kacamata retak yang menggenggam tanganku erat saat aku masih berusia sangat kecil...
Dan sosok wanita anggun bertatap lembut yang tersenyum manis di balik dinding tabung kaca cair raksasa...
"Bong-gu-ya..."
Gema suara itu kembali terdengar menembus pusaran energi. Kali ini, itu bukan lagi sekadar bisikan halus seorang wanita, melainkan gema suara berat seorang pria dewasa yang sangat familiar... suara ayahku sendiri.
"Jika kau sudah berhasil mencapai tempat ini dan mendengar rekaman suara kami... berarti kami telah gagal menyembunyikan kebenaran terakhir darimu."
BRUK!
Langkah kakiku mendarat kokoh di atas pijakan kristal akar transparan di pusat Nodus Genesis. Dampak pendaratanku menimbulkan riak cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan bawah tanah yang maha luas ini.
Pemandangan di Nodus Genesis sungguh di luar bayangan manusia. Tempat ini adalah sebuah katedral organik raksasa di dasar bumi. Akar-akar Pohon Genesis membentuk pilar-pilar raksasa yang menopang kubah kristal alami. Di tengah ruangan, melayang sebuah bola cahaya energi raksasa, jantung dari seluruh alam Ontaris.
Namun kondisi jantung itu kini sangat memprihatinkan. Bola cahaya murni itu telah terkontaminasi parah oleh urat-urat racun merah yang membelitnya rapat-rapat bagaikan parasit ganas.
Urat-urat merah itu terus menyuntikkan uap korosif, memicu retakan-retakan kecil pada permukaan kristal inti.
Di dalam inti bola cahaya tersebut, terukir jutaan baris kode pemrograman purba dan rantai mana murni yang tidak pernah ada atau tercatat di dalam dokumen rahasia Dewan Hunter mana pun di dunia luar. Itu adalah bahasa pembuat realitas, sebuah teknologi gabungan antara keajaiban mana murni dan ilmu pengetahuan terlarang.
Aku menarik napas panjang, menata kembali keteguhan hatiku, lalu melangkah mendekati pusat pusaran racun merah tersebut.
Jimat serat kayu pemberian Kakek Myeongjin di genggamanku memancarkan cahaya hangat, menjaga pikiranku agar tetap jernih di tengah gempuran memori yang berkecamuk.
"Ini saatnya..." bisikku pada diri sendiri. Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, membiarkan perisai pelindung Inti Zero terbuka.
Aku memicu aliran daya penuh dari Inti Zero di dadaku, menjadikan tubuhku sendiri sebagai wadah penyedot bagi seluruh racun korosif yang merusak Nodus Genesis.
Zzzzzzt! BOOM!
Sulur-sulur racun berwarna merah tua membalas dengan ganas. Bagaikan ular-ular api yang murka, belasan rantai racun korosif menyambar keluar dari inti, menancap langsung ke dada, bahu, dan kedua tanganku!
"AAAAARGH!"
Jeritan kesakitan pecah dari tenggorokanku, membahana menembus katedral akar raksasa. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung membakar seluruh jaringan pembuluh darahku saat racun korosif yang pekat mulai merayap masuk secara paksa ke dalam dada.
Rasanya seperti darahku digantikan oleh cairan logam mendidih yang membakar jaringan saraf dari dalam. Mataku membelalak, memutih saat energi gelap itu berdesakan masuk menuju Inti Zero.
Namun, di tengah siksaan fisik dan mental yang memutus jalan napas dan mengancam merenggut kesadaranku itu, gema suara ayahku kembali terdengar semakin jernih dan bergelombang di dalam kedalaman kesadaranku.
Suara itu berpadu dengan suara ibuku, melontarkan kalimat terakhir yang meruntuhkan seluruh fondasi pemahamanku tentang tempat ini.
"Ontaris bukan dunia yang kami ciptakan untuk melindungimu dari Dewan Hunter, Bong-gu... Ontaris adalah penjara dimensi yang kami buat untuk menyegel keberadaanmu... karena di dalam Inti Zero milikmu, terkandung benih penghancur yang dicari oleh seluruh penguasa alam semesta."
Cahaya merah dan keemasan meledak hebat di pusat Nodus Genesis, menelan tubuhku sepenuhnya ke dalam pusaran takdir yang baru saja dimulai.