# 7화 — Chapter 7 : Crimson Awakening
Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti api yang membakar kulit, melainkan seperti paku-paku dingin buatan laboratorium yang ditancapkan satu per satu ke dalam susunan saraf pusatku.
Racun mana korosif dari Pasukan Pembersih merayap kental melalui pembuluh darah di dadaku, membelah garis-garis energi keemasan Inti Zero dan mengubahnya menjadi guratan ungu kehitaman yang menjerit kesakitan.
Tubuhku tergantung melayang di tengah katedral Nodus Genesis, terikat oleh belasan rantai racun merah yang menyedot kesadaranku hingga ke titik terendah.
Namun, di dalam rongga tengkorakku yang serasa hendak pecah, gema suara ayah dan ibuku tidak melenyap. Suara itu justru semakin padat, bergema dari jutaan benang memori organik yang terpilin di dalam kristal akar Pohon Genesis.
“Bong-gu-ya…” Suara ayahku, Dr. Seo, bergema melintasi lorong waktu, diiringi dentang instrumen medis dan desis tekanan gas steril dari masa lalu.
“Jika kau berhasil mencapai rongga akar ini, berarti rekaman terakhir kami telah terbuka. Maafkan kami karena harus merahasiakan ini semua darimu sejak awal.”
“Kami tidak pernah ingin kau menjadi pahlawan Dewan Hunter, Nak…” Suara ibuku menyertai, begitu lembut, penuh dengan kehangatan maternal yang menggetarkan seluruh jiwaku.
“Kami tidak pernah ingin kau bertaruh nyawa di bawah ketiak sistem status, garis angka, atau misi mematikan yang dirancang oleh orang-orang serakah di luar sana.”
“Ontaris... adalah mahakarya terakhir kami untukmu, Bong-gu,” sambung suara Ayah, suaranya bergetar menahan keharuan yang mendalam.
“Kami merancang dimensi ini murni sebagai sebuah suaka, sebuah dunia baru yang utuh, damai, dan primitif. Dunia tanpa teknologi, tanpa jendela sistem status yang mengekang, tanpa tingkatan Hunter, dan tanpa mesin pertempuran. Sebuah tempat di mana manusia bisa kembali memulai segalanya dari nol, bekerja dengan tangan telanjang, dan bernapas sebagai manusia sejati.”
Air mata hangat menetes dari sudut mataku yang terpejam, bercampur dengan lelehan kristal murni Nodus Genesis.
“Kami menyegel keberadaanmu di dalam Ontaris agar kau bisa hidup bahagia bersama orang-orang yang mencintaimu,” bisik suara Ibuku.
“Namun, Dewan Hunter mengetahui keberadaan Project Genesis sebelum kami sempat menyempurnakannya. Pimpinan Dewan tidak peduli pada kedamaian yang kami impikan." Bisik Ibu dengan kecewa.
"Mereka ingin merebut Ontaris dan memodifikasinya menjadi ‘Pabrik Pertumbuhan Mana’ sebuah dimensi pembiakan monster tanpa batas untuk memanen kristal energi demi kepentingan kekuasaan dan industri militer mereka di Bumi.”
“Karena itulah, di detik-detik terakhir sebelum laboratorium kami dihancurkan,” paut Ayah dengan nada penuh ketegasan, “kami menyatukan seluruh kunci otorisasi Ontaris secara eksklusif ke dalam Inti Zero di dadamu. Ontaris tidak bisa dikuasai, dimodifikasi, atau diakses secara penuh tanpa keberadaanmu."
"Ontaris adalah milikmu, Bong-gu. Dan itulah alasan mengapa Dewan Hunter terus memburumu... Mereka tidak hanya menginginkan kekuatanmu, tetapi mereka membutuhkan dirimu sebagai 'Kunci Utama' untuk mengambil alih surga yang kami ciptakan untukmu.” Ucap Ayah dengan tegas.
Sensasi hangat yang luar biasa mendadak merayapi dadaku, membalut rasa sakit dari racun korosif. Pengorbanan orang tuaku bukanlah tentang perang universal, melainkan bentuk cinta paling murni dari seorang ayah dan ibu yang hanya ingin anaknya hidup tenteram jauh dari jangkauan manusia-manusia jahat.
Namun, di tengah momen haru yang meruntuhkan pertahanan batinku itu... sebuah getaran asing, bukan dari akar Pohon Genesis, melainkan getaran mekanis frekuensi tinggi menghantam kubah kristal Nodus Genesis dari arah atas.
KRAKKK!
Jimat serat kayu pemberian Kakek Myeongjin yang kupeluk di genggaman tanganku mendadak pecah.
Serat-serat kayunya terbakar menjadi abu hitam, namun sebelum abu itu sirna, sebuah gelombang kesadaran darurat terpancar keluar, memancarkan bayangan samar (proyeksi spiritual) dari apa yang sedang terjadi di permukaan tanah tepat di depan gubuk kayu kami.
Penglihatanku membias tajam. Gambar kenangan masa lalu terputus seketika, berganti dengan pemandangan mengerikan di pelataran danau.
Pria bekas Pasukan Pembersih yang tadi datang merangkak dan memohon pertolongan—pria yang mengaku terbebas dari cuci otak cip topeng besi dan menangis darah—kini tidak lagi berlutut dengan wajah ketakutan.
Ia berdiri tegak di tengah kegelapan malam, menyunggingkan senyuman gila yang luar biasa kejam.
Di tangan kirinya yang semula dikira lumpuh, tertancap sebuah pemancar sinyal gelombang pendek buatan Dewan Hunter yang menyala merah terang. Dan di sekelilingnya, dari balik kegelapan rimba Pinus yang tadi tampak sunyi, bermunculan belasan siluet prajurit lapis baja berat bersenjatakan tombak penutup mana dan jaring penekan saraf.
"Kalian para veteran tua memang sangat mudah dikelabui oleh rasa kemanusiaan sampah," kekeh pria itu. Suaranya tidak lagi parau, melainkan dingin, tajam, dan penuh kemenangan.
"Sedikit akting memohon, sedikit cerita palsu tentang ancaman dari luar dimensi, dan pahlawan gila kalian langsung melompat masuk ke dalam lubang kematian tanpa berpikir panjang!"
"Kau...!" Yeon Chul meraung, memegang pisau berburunya seraya melangkah maju. Namun, tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih dari luka lama membentur jaring energi listrik yang mendadak ditembakkan dari balik semak-semak.
ZZZZZZT!
"AAARGH!" Yeon Chul ambruk berlutut, menggeram menahan sengatan ribuan volt arus penekan mana yang langsung mengunci persendian otot-otot tegapnya.
"Kak Yeon Chul!" jerit Daeun histeris. Gadis itu mencoba berlari membantu, namun seorang prajurit bersenjata berat mencengkeram rambutnya dari belakang dan membanting tubuh kecilnya ke tanah basah.
Kakek Myeongjin mengangkat tongkat kayunya, mencoba memicu mantra perlindungan bumi terakhir, tetapi pria pengkhianat itu melangkah cepat dan menghantamkan sepatu boot besinya tepat ke dada pria tua itu.
BUK!
Kakek Myeongjin terlempar beberapa meter, memuntahkan darah segar di atas kelopak bunga liar yang baru saja mekar di tepi halaman. Tongkat kayunya patah menjadi dua bagian.
"Kerja bagus, Agen 04," sebuah suara bariton yang sangat kukenal bergema dari modul komunikasi di bahu sang pengkhianat.
"Pastikan ketiga sandera itu terikat dengan rantai supresor tingkat empat. Begitu Seo Bong-gu sibuk menetralkan racun di bawah tanah dan kehabisan energinya, kita akan seret dia keluar bersama seluruh hak akses dimensi Ontaris ini."
"Diterima, Komandan," sahut pria pengkhianat itu sambil menapakkan kakinya di atas punggung Yeon Chul yang terus berjuang menembus jaring listrik.
"Anak pahlawan itu sedang sibuk bertarung melawan jebakan di dalam tanah. Dia tidak akan pernah sempat kembali ke atas tepat waktu."
"TIDAK...!"
Jeritan murka membakar tenggorokanku di dasar Nodus Genesis.
Proyeksi jimat kayu itu lenyap, menyisakan kegelapan yang pekat dan keputusasaan yang meluap-luap. Merekalah jebakannya! Pria itu bukan korban yang bertobat... dia adalah umpan yang dikirim untuk memancingku turun ke dalam rongga akar, memisahkanku dari Yeon Chul, Daeun, dan Kakek Myeongjin!
Dewan Hunter sengaja menyebarkan racun korosif ke dalam akar Pohon Genesis bukan untuk menghancurkan Ontaris sepenuhnya, melainkan untuk memicu kepanikanku!
Mereka tahu aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan surga kecil ini, sehingga aku akan melompat ke bawah dan membiarkan orang-orang yang kulindungi di atas tanah tanpa pertahanan.
Mereka memanfaatkan kasih sayangku untuk melumpuhkan kami semua!
"Aku harus... kembali ke atas!" raungku seraya memaksakan otot-otot lenganku membengkokkan rantai-rantai racun merah yang menancap di dadaku.
Namun, racun korosif di Nodus Genesis belum sepenuhnya terserap. Bola cahaya inti Ontaris masih berguncang hebat, retakan-retakannya memuntahkan cairan mana hitam yang terus mengikis dinding realitas.
Jika aku meninggalkan Nodus Genesis sekarang tanpa menyerap racun ini, seluruh alam dimensi buatan orang tuaku akan hancur dalam hitungan menit, menghapus keberadaan kami semua.
Tetapi jika aku tetap tinggal di sini untuk menyerap seluruh racun sampai selesai, Yeon Chul, Daeun, dan Kakek Myeongjin akan dibantai atau dijadikan budak oleh Dewan Hunter di permukaan!
“Bong-gu-ya…” Suara lembut ibuku kembali memanggil dari kedalaman benang memori.
“Ontaris diciptakan untuk kebahagiaanmu... Jangan biarkan tempat ini menjadi kuburan bagi orang-orang yang kau cintai. Dengarkan detak Inti Zero-mu... Kau adalah pemilik tunggal dunia ini!”
"Aku tidak butuh surga jika aku harus berdiri sendirian di dalamnya!" jeritku seraya memuntahkan darah keperakan dari mulutku.
"Aku tidak peduli pada racun ini, aku tidak peduli pada aturan sistem... RUMAHKU ADALAH MEREKA!"
BOOOOOOM!
Irama detak Inti Zero di dadaku tidak lagi memancarkan denyutan keemasan yang tenang. Garis-garis energi di kulitku meledak menjadi kombinasi warna merah darah dan emas pekat.
Sebuah bentuk resonansi tak stabil yang dihasilkan dari penggabungan racun korosif yang belum selesai diserap dengan amarah murni seorang manusia.
Aku tidak menetralkan racun itu dengan cara biasa... AKU MEMAKSANYA MASUK DAN MENYATU DENGAN SANGKAR DADAKU!
Menggunakan otoritas mutlakku atas Ontaris, aku memerintahkan seluruh jaringan akar untuk menyalurkan sisa racun korosif langsung ke dalam Inti Zero-ku.
"Khgghhh...!"
Penglihatanku memerah total. Rasa sakitnya begitu dahsyat hingga jaringan saraf di lengan kanan dan dadaku berubah warna menjadi legam, berserat seperti akar pohon yang terbakar.
Tanpa memedulikan kristal inti yang masih retak atau memori orang tuaku yang belum selesai terungkap, aku mengepalkan tangan kanan yang kini dipenuhi aura korosif merah-keemasan.
Aku menengadah menatap ribuan meter lapisan tanah dan akar raksasa yang memisahkanku dari permukaan.
"BUKA JALANNYA!"
Dengan satu benturan dahsyat dari gabungan daya Inti Zero dan otoritas pemilik dimensi, aku menghantamkan tinjuku lurus ke atas, menghancurkan langit-langit katedral Nodus Genesis!
BLAAAAAAST!
Pilar cahaya merah-keemasan meluncur tegak lurus menembus perut bumi Ontaris. Batu-jematu raksasa, jalinan akar purba, dan lapisan kristal hancur berkeping-keping diiringi suara ledakan supersonik yang mengguncang seluruh Hutan Utara.
Di permukaan tanah, udara malam yang tenang mendadak pecah oleh dentuman yang menyerupai runtuhnya gunung es.
Pria pengkhianat yang sedang tertawa seraya memijak kepala Yeon Chul mendadak terhenti. Peringatan bahaya di dalam modul topeng besinya berbunyi nyaring dengan nada histeris:
WARN! HIGH ENERGY DENSITY DETECTED FROM UNDERGROUND! MAGNITUDE: UNMEASURABLE!
"A-Apa yang terjadi?!" bentak pria pengkhianat itu seraya melompat mundur.
Prajurit Pembersih di sekelilingnya bergerak panik, mengarahkan meriam penekan mana ke arah celah raksasa Pohon Genesis.
Tanah di sekitar danau merekah luas. Air danau surut secara mendadak saat celah-celah retakan baru menyedot ribuan ton air ke dalam perut bumi.
Dan dari tengah-tengah celah Pohon Genesis yang terbakar, sebuah bayangan meluncur keluar dengan kecepatan yang tak mampu ditangkap oleh mata telanjang.
BOOM!
Dampak pendaratan bayangan itu menciptakan gelombang kejut mendatar yang menyapu bersih pepohonan Pinus dalam radius lima puluh meter.
Tenda-tenda taktis dan kendaraan penyedot mana milik Pasukan Pembersih terlempar ke udara bagaikan mainan kertas sebelum hancur dihantam angin keras.
Kabut debu dan asap uap merah menyebar pekat.
Ketika angin malam perlahan menyapu debu tanah, sosok yang berdiri di pusat kawah ledakan membuat seluruh prajurit Pasukan Pembersih melangkah mundur secara refleks dengan tubuh gemetar hebat.
Aku berdiri di sana.
Baju kain sederhanaku telah koyak-moyak. Sebelah dadaku hingga ke lengan kanan kini dilapisi oleh urat-urat berkilau berwarna ungu kehitaman yang memancarkan uap korosif berbau tembaga pekat, sementara sebelah kiriku masih memancarkan pendaran cahaya keemasan murni.
Mata kananku memancarkan pendaran merah membara tanpa manik mata, sedangkan mata kiriku memancarkan pendaran cahaya biru menyala yang tajam dan murni.
Bentuk fisikku adalah wujud destruktif dari penyatuan prematur antara Inti Zero dan Racun Korosif Dewan Hunter... sebuah wujud yang lahir dari pemaksaan otoritas dimensi.
"S-Seo Bong-gu...?" gumam Yeon Chul dari balik jaring listrik, matanya membelalak tak percaya melihat wujudku yang mengerikan.
"Bagaimana bisa... cepat lari, Seo Bong-gu!"
Daeun terperangah dengan bibir bergetar, memegang dadanya yang sesak. "Kak... Bong-gu...?"
Aku tidak menghiraukan dan tidak menjawab. Setiap helaan napasku memuntahkan uap merah yang melelehkan rumput di bawah telapak kakiku.
Tatapan mata merah-keemasanku terkunci penuh pada pria pengkhianat yang berdiri gemetar lima meter di hadapanku.
"T-Tembak! TEMBAK DIA SEKARANG!" jerit pria pengkhianat itu dengan suara melengking penuh kepanikan liar. "Gunakan Peluru Supresor Tingkat Enam! Hancurkan Jantungnya!"
Dua belas prajurit Pasukan Pembersih secara serentak menarik pelatuk meriam berat di bahu mereka. Puluhan proyektil logam khusus penembus mana meluncur deras, membelah udara malam dengan raungan melengking, mengincar setiap titik vital di tubuhku.
Namun, aku tidak menyilangkan tangan untuk bertahan. Aku bahkan tidak berkedip.
Sebagai pemilik mutlak Ontaris, hukum fisika di tempat ini adalah kehendakku. Ketika proyektil-proyektil itu berjarak beberapa sentimeter dari kulitku, aku hanya mengangkat tangan kananku yang berserat racun ke udara dan mengepalkannya rapat-rapat.
SWRRRRSH!
Domain gravitasi lokal di sekelilingku mendadak berbalik arah. Peluru-peluru logam berat itu berhenti seketika di udara, terperangkap dalam pusaran uap korosif merah, sebelum akhirnya melunak, meleleh, dan berubah menjadi tetesan cairan logam panas yang runtuh tak berdaya ke atas tanah basah.
"M-Membengkokkan materi tanpa mantra...?" ratap salah satu prajurit, senjatanya terlepas dari genggamannya karena ketakutan yang mutlak.
"Dia... dia bukan sekadar Hunter lagi... Dia adalah Pencipta di dalam ruangan ini!"
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku melangkah maju.
Langkah kakiku sangat pelan, namun setiap kali tumitku menyentuh tanah, gelombang kejut merah-keemasan menyebar mendatar, menghancurkan sirkuit sisa-sisa meriam musuh hingga meledak satu per satu.
"Jangan mendekat!" jerit pria pengkhianat itu seraya mencabut belati beracun dari pinggangnya dan berlari menerjang ke arahku secara kalap. "Kau seharusnya terikat di bawah akar! Tempat ini milik Dewan Hunter!"
Ia mengayunkan belatinya lurus ke arah tenggorokanku dengan seluruh kekuatan fisiknya.
CRACK!
Aku tidak menghindar. Aku membiarkan mata belati besi itu menghantam tenggorokanku.
Namun bukannya menembus kulitku, bilah belati tempaan khusus itu justru hancur berkeping-keping menjadi abu logam saat menyentuh pendaran racun korosif yang melapisi leherku.
Sebelum pria itu sempat menarik tangannya kembali, tangan kiri keemasanku telah melesat maju, mencengkeram rahang bawah dan lehernya dengan cengkeraman baja yang mematikan.
Aku mengangkat tubuh pria itu tinggi-tinggi ke udara hanya dengan satu tangan.
"A-Agh... khhh... am-punn..." pria itu menggelepar liar di udara, jemarinya mencoba mencakar tanganku, tetapi pendaran aura di kulitku membakar habis ujung-ujung jarinya hingga menghitam.
Aku menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi oleh ketakutan akan kematian.
Suaraku saat berbicara tidak lagi bernada tunggal, melainkan bergema ganda, perpaduan antara suaraku sendiri dan gema purba dari Ontaris:
"Kau menyentuh keluargaku..." bisikku dingin, begitu pelan namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "...dan kau mengotori rumah yang kami bangun dengan darah dan air mata."
"Bong-gu, JANGAN!"
Suara parau Kakek Myeongjin terdengar dari sudut halaman. Pria tua itu memegangi dadanya yang memar, menatapku dengan mata yang memancarkan keprihatinan yang teramat dalam.
"Jangan biarkan dorongan racun dan dendam itu menguasai jiwamu!" teriak Kakek Myeongjin, suaranya gemetar menahan batuk.
"Orang tuamu menciptakan tempat ini dengan kasih sayang murni! Jika kau membunuhnya dengan kebencian seperti ini, kau hanya akan mengotori warisan terakhir ayah dan ibumu!"
Cengkeraman tanganku pada rahang pria pengkhianat itu terhenti sejenak.
Pria pengkhianat itu terkulai lemah di genggamanku, matanya mendelik memohon belas kasihan di tengah derita napasnya yang terputus-putus.
Aku menoleh perlahan ke arah Kakek Myeongjin, lalu beralih menatap Daeun yang menangis ketakutan. Bukan karena Pasukan Pembersih, melainkan karena melihat wujud destruktifku yang menyeramkan. Dan akhirnya, mataku tertuju pada Yeon Chul yang masih terikat jaring listrik.
Yeon Chul tidak menatapku dengan rasa takut.
Meskipun wajahnya tertutup darah dan dadanya terikat jaring supresor, mata hijau tajamnya itu tetap menatapku lurus-lurus dengan kedalaman kepercayaan yang tak tergoyahkan.
"Lakukan apa yang harus kau lakukan, Bong-gu..." kata Yeon Chul parau, mengulas senyuman tipis bercak darah di sudut bibirnya.
"Tapi ingat siapa dirimu. Kau bukan Seo Hunter, bukan senjata Dewan Hunter... Kau adalah Seo Bong-gu dari Hutan Utara."
Ucapannya menghantam inti dadaku bagaikan guyuran air es yang melenyapkan api murka liar.
Urat-urat ungu kehitaman di dadaku berdenyut pelan, meredam aura destruktif yang hampir saja menelan kesadaranku sepenuhnya.
Pendaran merah di mata kananku perlahan-lahan surut, mengembalikan warna biru jernih pupil mataku.
Aku menghembuskan napas panjang, memuntahkan sisa uap racun terakhir ke udara.
Dengan satu gerakan keras namun terukur, aku menghempaskan tubuh pria pengkhianat itu menghantam tanah basah hingga pingsan seketika, menghancurkan sirkuit komunikasi modul bahunya agar transmisi ke Dewan Hunter terputus total.
Sisa prajurit Pasukan Pembersih yang menyaksikan hal itu langsung menjatuhkan senjata mereka ke tanah.
Mereka berlutut ketakutan, mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi tanpa berani menatap wajahku lagi.
Ssssshhh...
Aku mengibaskan tangan kananku.
Gelombang energi merah-keemasan meluncur mendatar, memotong dan membakar habis jaring listrik supresor yang mengikat tubuh Yeon Chul tanpa mencederai kulitnya sedikit pun.
Yeon Chul terbebas. Pria tegap itu menghentakkan napas lega, lalu berjalan tertatih-tatih mendekatiku.
Tanpa memedulikan racun korosif yang masih menempel di kulit lenganku, ia memegang bahu kiriku dengan erat.
"Selamat kembali, pahlawan gila," gumam Yeon Chul sambil menepuk bahuku dengan bangga.
Daeun berlari mendekat, melempar tubuh kecilnya memeluk pinggangku erat-erat tanpa peduli pada pakaianku yang kotor dan terbakar. "Kak Bong-gu... hiks... aku tahu Kakak pasti kembali..."
Aku merangkul Daeun lembut dengan tangan kiriku, menepuk-nepuk punggungnya yang gemetar. "Maafkan aku... Aku membuat kalian takut."
Kakek Myeongjin berjalan mendekat dengan bantuan tongkat patahnya. Wajah tua itu dipenuhi duka mendalam saat menatap batang Pohon Genesis di belakang kami.
"Masalah kita belum selesai, Bong-gu-ya..." bisik Kakek Myeongjin pelan.
Aku menoleh membelakangi pelataran gubuk dan menatap ke arah Pohon Genesis.
Pemandangan di sana sungguh mengenaskan.
Meskipun aku telah memaksa racun korosif menyatu ke dalam tubuhku, rongga bawah tanah yang kuhancurkan saat melesat naik tadi telah memicu retakan sistemik pada struktur dimensi Ontaris.
Pohon Genesis tidak lagi memancarkan cahaya merah darah, namun pendaran keemasannya kini redup dan berkedip-kedip bagaikan lilin yang hampir padam ditiup angin malam.
Dedaunan rimbunnya gugur secara massal, menutupi permukaan danau dengan ribuan helai daun yang berubah menjadi abu abu-abu kusam.
"Akses dimensi ini memang terkunci rapat padamu, Bong-gu," ujar Kakek Myeongjin prihatin.
"Namun dengan memaksakan penyatuan racun dan merusak simpul Nodus Genesis... kau telah membuat fondasi ruang Ontaris ini bocor secara perlahan."
"Berapa lama tempat ini bisa bertahan, Kakek?" tanya Yeon Chul tegas seraya mengusap darah di pipinya.
Kakek Myeongjin menghembuskan napas berat. "Paling lama... tiga bulan. Setelah itu, jika Inti Utama tidak distabilkan dari perangkat eksternal milik Dewan Hunter di dunia luar, dinding dimensi Ontaris akan runtuh total dan menghapus tempat ini dari garis waktu."
Pernyataan Kakek Myeongjin menjatuhkan keheningan yang sangat berat di antara kami berempat.
Gubuk kayu sederhana yang baru saja kami selesaikan kemarin, kebun sayur kecil tempat Daeun menanam umbi-umbian, dan danau tenang tempat kami menikmati sore... semuanya kini berada di bawah hitungan mundur kehancuran.
Dewan Hunter tidak akan membiarkan Ontaris menjadi suaka damai. Jika mereka tidak bisa memilikinya, mereka akan terus mencoba merusaknya dari luar.
"Kakek..." kataku pelan, melangkah mendekati salah satu prajurit Pasukan Pembersih yang berlutut gemetar di atas tanah basah.
"Bagaimana mungkin Dewan Hunter bisa terus-menerus mengirimkan pasukan ke dalam dimensi ini? Bukankah orang tuaku telah mengunci seluruh akses gerbang?"
Yeon Chul mendekati prajurit pembersih dan menarik paksa rambutnya untuk menghadap pada kami. Prajurit yang kutatap mendongak dengan wajah pucat pasi. Ia menyapu darah di bibirnya dan tertawa hampa, sebuah tawa keputusasaan murni.
"Kunci gerbang resmi memang ada padamu, Seo Bong-gu..." bisik prajurit itu terbata-bata.
"Tapi Dewan Hunter tidak butuh kunci resmi... Mereka tidak peduli pada keselamatan stabilitas dimensi."
Prajurit itu menunjuk ke arah pecahan topeng besi di tanah.
"Tiga bulan lalu... Dewan Hunter mengumumkan kematian resmi 'Hunter Nomor 1, Seo Hunter' di seluruh media massa Bumi. Mereka menyiarkan siaran duka nasional, menggelar pemakaman megah tanpa jasad, dan memanipulasi masyarakat dunia agar percaya bahwa kau telah gugur secara terhormat saat menahan retakan Gate Tingkat S di perbatasan Seoul."
Aku terpaku. Kematianku... diskenariokan?
"Kenapa mereka melakukan itu?" sela Yeon Chul dengan gertakan gigi yang keras. "Untuk apa berpura-pura Bong-gu sudah mati?!"
"Untuk menutup mata publik!" jawab prajurit itu dengan suara melengking panik.
"Masyarakat Bumi mengira Seo Bong-gu telah tiada sebagai pahlawan! Padahal di balik layar, pimpinan Dewan Hunter menerima lonjakan sinyal energi abnormal dari eksperimen tua Project Genesis." Tutur prajurit itu.
Saat mereka sadar kau masih hidup dan bersembunyi di dalam dimensi rahasia Ontaris bersama Inti Zero... mereka menjadi gila oleh keserakahan!"
Prajurit itu menundukkan kepalanya, tubuhnya terguncang hebat oleh tangisan yang tertekan.
"Mereka tahu gerbang alami Ontaris tidak bisa dibuka dari luar tanpa kehendakmu. Maka dari itu... Dewan Hunter menggunakan teknologi pelubang mana terlarang. Mereka menciptakan Gate Ilegal, sebuah celah paksa yang merobek dinding dimensi ini secara kasar menggunakan pemicu reaktor mana murni!"
Mata Kakek Myeongjin membelalak horor.
"Melobangi dimensi secara paksa?! Itu tindakan bunuh diri! Risiko penyimpangan gravitasi dan radiasi mana di celah ilegal itu bisa menghancurkan tubuh siapa pun yang melintasinya!"
"MEMANG!" jerit prajurit Pembersih itu seraya memegang dadanya yang tertutup zirah besi.
"Kami... Pasukan Pembersih ini... KAMI BUKAN PRAJURIT PILIHAN! Kami semua adalah Korban Eksperimen! Kami adalah Hunter kelas rendah, mantan tahanan, dan warga sipil berdosa yang diculik dan ditaruh di dalam daftar Pasukan Pembersih oleh Dewan Hunter!"
Daeun menutupi mulutnya, menatap prajurit itu dengan mata membelalak tak percaya.
"Mereka melemparkan ribuan orang seperti kami ke dalam Gate Ilegal itu secara paksa!" lanjut prajurit itu seraya mencopot topeng besinya, memperlihatkan separuh wajahnya yang telah hancur terbakar oleh radiasi celah dimensi.
"Dari seratus orang yang dilemparkan melewati celah paksa, delapan puluh di antaranya hancur menjadi bubuk daging di dalam pusaran gravitasi! Hanya kami... hanya kami yang selamat dengan tubuh cacat ini yang diberi cip penekan ingatan dan diperintahkan untuk menjadi umpan racun di Ontaris!"
Kebenaran mengerikan itu menghantam kami bagaikan godam raksasa.
Pasukan Pembersih yang selama ini kami anggap sebagai monster bertopeng besi buatan Dewan Hunter... ternyata hanyalah kumpulan manusia malang yang dijadikan tumbal.
Dewan Hunter melemparkan nyawa manusia ke dalam gilingan Gate Ilegal hanya untuk mengirimkan racun korosif demi memancingku keluar dari rongga akar.
Masyarakat di Bumi berduka atas kematian pahlawan mereka, sementara pimpinan Dewan Hunter berkeliaran di kegelapan, mengorbankan ratusan warga sipil untuk merobek suaka buatan orang tuaku.
"Setan-setan itu..." gumam Yeon Chul dengan urat leher yang menegang tebal, jemarinya meremas gagang pisau berburunya hingga memutih.
"Mereka membohongi seluruh dunia... dan mengorbankan orang-orang tak bersalah hanya untuk memburu kita di sini?!"
"Artinya..." aku memecahkan keheningan, menatap telapak tangan kananku yang masih dipenuhi serat ungu korosif.
"...kita tidak bisa terus bersembunyi di dalam sangkar ini. Jika kita tetap tinggal di sini, Dewan Hunter akan terus membakar puluhan Gate Ilegal, mengorbankan ribuan manusia lagi, dan memompa racun hingga Ontaris runtuh sepenuhnya."
Yeon Chul menatapku, mata hijaunya memancarkan kesadaran baru yang pahit namun tak terelakkan. "Kita harus kembali ke luar? Ke dunia penuh kebohongan dan mesin pertempuran itu?"
"Bukan sekadar kembali," sahutku mantap, membalikkan badan menghadapi mereka bertiga.
"Dewan Hunter dan Pimpinan Tertinggi mereka tidak akan pernah berhenti mengejar kita selama mereka tahu Ontaris adalah kunci menuju kekuasaan tanpa batas. Mereka telah mengumumkan kematianku kepada dunia... Maka, aku akan kembali ke Seoul sebagai 'pahlawan yang bangkit dari kubur' untuk menghancurkan panggung kebohongan mereka."
Aku mengepalkan jemariku, merasakan gabungan daya murni keemasan dan kekuatan korosif yang kini berdenyut harmonis di bawah kendali kehendak bebas fisikku.
"Jika mereka menginginkan perang..." kataku dengan nada dingin yang sarat akan tekad membara,
"...maka aku sendiri yang akan mendatangi markas utama Dewan Hunter di Seoul, menghancurkan seluruh reaktor Gate Ilegal milik mereka, dan membebaskan dunia dari ilusi buatan para penguasa serakah itu."
"Aku ikut," potong Yeon Chul tanpa ragu sedikit pun.
Pria besar itu menarik pisau berburu besinya dari tanah, menyapu kotoran yang menempel di bilahnya, lalu menyimpungnya kembali ke sarang kulit di pinggangnya.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri saat keluar dari laboratorium dua belas tahun lalu... aku tidak akan pernah membiarkan sekrup buatan Dewan Hunter menyentuh tubuhmu lagi."
"Aku juga ikut!" seru Daeun gigih, menyapu air matanya dengan lengan baju. "Aku bukan anak kecil lagi yang hanya bisa bersembunyi di balik akar. Aku bisa membantu merawat luka dan memandu jalur lewat keahlian melacak angin!"
Kakek Myeongjin mengulas senyum tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keteguhan hati kami bertiga.
"Kalian benar-benar kelompok anak muda paling keras kepala yang pernah kutemui sepanjang hidupku."
Pria tua itu memungut sisa pecahan tongkat kayunya, lalu menatap lurus ke arah cakrawala timur tempat fajar pertama mulai menyingsing tipis di balik pegunungan Ontaris.
"Tapi sebelum kita melangkah kembali ke neraka Seoul," kata Kakek Myeongjin pelan, "ada satu hal lagi yang harus kau ketahui, Bong-gu-ya."
Aku menoleh menatap Kakek Myeongjin. "Apa itu, Kakek?"
"Pria yang merancang skenario 'kematian palsumu' tiga bulan lalu... pria yang memimpin proyek perobekan Gate Ilegal dan memerintahkan penyuntikan racun ini..."
Kakek Myeongjin menatap mataku dalam-dalam. "...dia bernama Dr. Kang Seung-hyuk."
Jantungku berdegup kencang. Nama itu... nama pria paruh baya bermantel kelabu yang dahulu menyabotase laboratorium orang tuaku.
"Kakek tahu siapa dia?" tanyaku penuh selidik.
Kakek Myeongjin menarik napas panjang, matanya dipenuhi kabut duka masa lalu.
"Dr. Kang Seung-hyuk bukanlah orang luar yang sekadar mengincar teknologi orang tuamu, Bong-gu-ya..." bisik Kakek Myeongjin dengan suara yang hampir tak terdengar.
"...Dr. Kang adalah paman kandungmu sendiri. Adik kandung dari ibumu."
Brak!
Kata-kata Kakek Myeongjin menghantam benakku jauh lebih keras daripada ledakan Nodus Genesis.
Pria yang mengumumkan kematian palsuku di televisi Bumi... pria yang merekayasa Gate Ilegal dan mengorbankan ratusan Hunter kelas rendah... dan pria yang mencoba merebut Ontaris untuk dijual kepada Dewan Hunter... adalah saudara kandung dari wanita yang melahirkanku.
Seseorang dari keluargaku sendiri yang tega mengorbankan kebahagiaan adiknya demi ambisi kekuasaan di dunia nyata.
"Dialah yang membocorkan keberadaan Project Genesis kepada Dewan Hunter," lanjut Kakek Myeongjin berat.
"Dan dialah yang memegang perangkat pemancar utama di Seoul yang bisa menstabilkan atau meruntuhkan gerbang Ontaris secara permanen dari luar."
Keheningan kembali menyelimuti pelataran gubuk kayu kami di bawah paparan sinar fajar pertama yang berwarna keemasan pucat.
Dedaunan Pohon Genesis yang gugur perlahan melayang jatuh di sekeliling kami, membisikkan akhir dari masa kedamaian singkat di Ontaris dan menandai dimulainya awal dari pertempuran sesungguhnya.
Sebuah perjalanan kembali menuju peradaban manusia yang hancur demi mempertahankan surga buatan orang tuaku dan menuntut keadilan atas seluruh kebohongan Dewan Hunter.
Aku memejamkan mata sejenak, menyerap kehangatan sinar fajar yang menyentuh wajahku untuk terakhir kalinya dalam ketenangan.
Ketika aku membuka mataku kembali, tidak ada lagi keraguan, ketakutan, atau bayang-bayang kebingungan di dalamnya.
"Siapkan perbekalan kita," kataku pelan namun bergema penuh wibawa.
"Kita berangkat menuju Gerbang Utama Seoul sebelum matahari terbenam."