# 8화 — Chapter 8 : Beyond the Gate
Fajar pertama di Ontaris biasanya menghadirkan gradasi warna merah muda yang melingkupi cakrawala, disusul kehangatan lembut sinar matahari yang menyusup di antara celah dedaunan Pinus Hutan Utara.
Namun pagi ini, langit Ontaris tampak mengeruh. Warna keemasan pucat yang merebak di atas pegunungan tertutup oleh lapisan abu tipis sisa-sisa kristal Nodus Genesis dan dedaunan Pohon Genesis yang terbakar akibat gejolak racun korosif.
Bau tembaga dan sulfur yang tajam masih mengendap pekat di atas pelataran danau yang kini surut hampir separuhnya. Di sekeliling kami, keheningan yang tersisa terasa begitu asing dan mencekam.
Aku berlutut di tepi kawah pendaratan, menatap telapak tangan kananku.
Urat-urat berwarna ungu kehitaman itu tidak lagi berdenyut secara ganas seperti saat aku menghantamkan tinjuku ke udara beberapa jam lalu.
Mereka telah mengendap di bawah jaringan kulitku, membentuk jalinan garis-garis gelap yang mengalir sejajar dengan garis energi Inti Zero.
Setiap kali aku menghembuskan napas, uap tipis berwarna keperakan bercampur violet keluar perlahan dari sudut bibirku.
Di sebelah kiriku, pupil mata biruku, warna alami yang diwariskan dari garis keturunan ibuku kini memancarkan pendaran cahaya yang tajam dan konstan. Cahaya itu bukan lagi sekadar pendaran biasa, melainkan representasi dari kehendak penuh atas struktur realitas Ontaris.
Sedangkan mata kananku yang kehilangan manik mata tetap memancarkan pendaran merah membara, simbol dari racun korosif Dewan Hunter yang berhasil kujinakkan dan aku paksa menyatu dalam sangkar dadaku.
"Kau memikirkan pamanmu?"
Suara langkah kaki berat mendekat. Yeon Chul berdiri di sampingku, membawa dua kantong kulit besar berisikan perbekalan kering dan wadah air dari tembaga.
Pria tegap itu telah membersihkan bercak darah di wajahnya, meski luka memar kebiruan di rahang dan lehernya akibat jaring listrik supresor masih terlihat amat jelas.
Aku menengadah, menatap laki-laki tegap itu yang mungkin orang lain tidak akan menyadari bahwa umurnya beberapa bulan lebih muda dariku.
"Aku memikirkan bagaimana seseorang yang berbagi darah yang sama dengan ibuku bisa memiliki hati yang begitu dingin. Ibuku berbicara tentang Ontaris sebagai tempat suaka, sebuah dunia tanpa kebohongan dan perang. Dan pria itu... Dr. Kang Seung-hyuk... justru memanfaat[kannya sebagai komoditas industri militer."
Yeon Chul menghembuskan napas panjang, berlutut di sampingku seraya meletakkan kantong perbekalan ke atas tanah basah.
"Manusia yang telah mencicipi rasa manis dari Otoritas dan Kekuasaan di dunia luar tidak akan pernah puas, Bong-gu. Bagi orang-orang seperti pamanmu atau Dewan Hunter, tempat indah seperti Ontaris ini hanyalah sebuah peta potensi ekonomi yang belum dipanen. Mereka tidak melihat tanah, pohon, atau angin... mereka hanya melihat angka dan garis batas kepemilikan."
"Tapi tempat ini adalah warisan terakhir orang tuaku, Yeon Chul," bisikku pelan. Jari-jariku mencengkeram tanah basah yang telah tertutupi abu daun Genesis. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengubah tanah ini menjadi pabrik pembantaian."
"Karena itulah kita akan kembali ke luar," sahut Yeon Chul tegas. tangannya yang besar menepuk bahuku, memberikan dorongan kekuatan murni.
"Tapi kita tidak bisa melompat ke dalam mulut serigala tanpa persiapan. Jika apa yang dikatakan prajurit Pembersih itu benar, celah Gate Ilegal yang diciptakan Dewan Hunter adalah zona penyimpangan gravitasi yang mematikan. Kita butuh cara untuk menembusnya tanpa hancur menjadi bubuk daging."
Aku mengangguk perlahan. Ucapannya benar. Kemarahan dan amarah tidak akan mampu melindungiku dan orang-orangku dari gesekan radiasi mana di dalam celah dimensi yang tak stabil.
Di tepi halaman gubuk yang hancur, Kakek Myeongjin dan Daeun sedang sibuk mengurus para tawanan.
Tujuh prajurit Pasukan Pembersih yang tersisa duduk berbanjar di atas tanah, tangan mereka terikat rapat menggunakan tali serat akar purba yang telah dimantrai oleh Kakek Myeongjin.
Wajah-wajah mereka yang tanpa topeng besi memperlihatkan penderitaan yang mengerikan. Sebagian besar dari mereka memiliki parut luka bakar radiasi di leher dan pipi, bukti nyata dari kekejaman proses pelintasan Gate Ilegal.
Mereka bukan lagi prajurit elit yang ganas, melainkan manusia-manusia malang yang telah kehilangan arah dan semangat hidup.
"Minumlah ini," ujar Daeun lembut seraya menyodorkan mangkuk kayu berisikan rebusan akar herbal kepada salah satu prajurit yang terus gemetar menahan demam radiasi.
Prajurit itu mendongak dengan mata sayu, menatap gadis kecil di hadapannya dengan tatapan tak percaya.
"K-Kenapa... kenapa kau memberi kami pengobatan? Kami datang untuk menangkap kalian... kami membawa racun untuk merusak tanah kalian..."
Daeun menyapu peluh di dahi prajurit itu dengan kain bersih. "Kalian adalah korban, sama seperti kami. Kak Bong-gu mengajarkan bahwa kebencian hanya akan membuat racun di dalam dada kita makin menyebar. Minumlah, ini akan meredakan sensasi terbakar di pembuluh darahmu."
Prajurit itu memejamkan mata rapat-rapat, air mata menetes melewati pipinya yang penuh parut luka, sebelum akhirnya menyeruput cairan herbal itu dengan gemetar.
Kakek Myeongjin berjalan mendekatiku dan Yeon Chul. Pria tua itu berjalan lebih lambat dari biasanya, pendaran mana di sekeliling tubuhnya tampak redup akibat benturan sepatu boot besi sang pengkhianat di dadanya tadi malam.
Namun, matanya tetap memancarkan kearifan purba yang tak tergoyahkan.
"Bong-gu-ya," panggil Kakek Myeongjin pelan.
"Aku telah memeriksa struktur jaringan akar Pohon Genesis yang tersisa di bawah danau."
"Bagaimana kondisinya, Kakek?" tanyaku seraya berdiri menghadapnya.
"Penyatuan racun yang kau lakukan secara paksa memang berhasil menyelamatkan Nodus Genesis dari ledakan seketika," jelas Kakek Myeongjin seraya menunjukkan sisa batang tongkat kayunya yang patah.
"Namun, tindakan itu meninggalkan luka terbuka pada fondasi ruang Ontaris. Celah raksasa yang kau ciptakan saat meluncur naik ke permukaan telah mempercepat kebocoran matriks mana."
Kakek Myeongjin berlutut dan menggambar sebuah pola lingkaran melingkar di atas tanah menggunakan ranting pohon.
"Ontaris beroperasi bagaikan sebuah bejana tertutup," lanjutnya. "Di dalam bejana ini, Inti Zero berdetak memompa kehidupan ke seluruh jaringan tanah dan udara. Namun sekarang, ada sebuah lubang besar di bagian atas bejana yaitu titik lokasi Gate Ilegal yang dibuka oleh Dr. Kang Seung-hyuk di atas perbatasan Hutan Utara."
Yeon Chul memperhatikan gambar itu dengan kening berkerut. "Jadi, setiap detik yang berlalu, mana murni dari Ontaris terus menyembur keluar menuju dunia luar?"
"Tepat," paut Kakek Myeongjin.
"Dan sebaliknya, radiasi mana kasar dan polusi industri dari dunia luar merembes masuk ke dalam dimensi ini. Jika proses kontaminasi silang ini berlanjut selama tiga bulan, hukum realitas Ontaris akan runtuh total."
"Hewan-hewan suaka akan bermutasi menjadi monster ganas, tanaman akan membusuk, dan atmosfer tempat ini akan menjadi beracun bagi manusia."
"Artinya, waktu kita sangat terbatas," ujarku.
"Kita harus menutup reaktor pemancar Gate Ilegal itu dari markas utama Dewan Hunter di Seoul sebelum tiga bulan berlalu."
"Bukan hanya menutupnya, Bong-gu," potong Kakek Myeongjin seraya menatap mataku dalam-dalam.
"Kau harus membalikkan arus reaksinya dari luar untuk menyegel kembali inti dimensi ini secara permanen. Dan untuk melakukan hal itu, kau membutuhkan seluruh kunci otorisasi yang ada di dalam Inti Zero-mu... serta pemancar frekuensi utama yang dipegang oleh pamanmu, Dr. Kang."
"Bagaimana cara kita menembus Gate Ilegal itu tanpa hancur di dalamnya?" tanya Yeon Chul.
"Prajurit itu bilang, delapan puluh dari seratus orang mati terpecah menjadi debu saat menyeberang."
Kakek Myeongjin menoleh ke arah prajurit Pembersih yang duduk berbanjar. "Mereka hancur karena mereka melintasi celah dimensi menggunakan raga manusia biasa yang dipaksa menahan gesekan gravitasi. Namun kalian berbeda."
Kakek Myeongjin merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu ukir tua yang dilapisi oleh segel kain kuning kusam.
Ketika ia membuka kotak tersebut, aroma harum kayu cendana purba berkombinasi dengan pendaran cahaya keperakan merebak ke udara.
Di dalam kotak itu terbaring tiga buah kapsul kristal bening berbentuk elips, masing-masing berukuran sebesar ibu jari dewasa. Di dalam kapsul tersebut, terdapat cairan kental berwarna keemasan yang melayang-layang bagaikan merkuri cair.
"Apa ini, Kakek?" tanya Daeun yang baru saja bergabung di dekat kami.
"Ini adalah Essence of Anchoring, Sari Penstabil Realitas," jawab Kakek Myeongjin.
"Orang tuamu meninggalkan tiga kapsul ini kepadaku dua belas tahun lalu, sebelum mereka menyegelmu di dalam Ontaris. Mereka tahu, suatu hari nanti, jika keadaan terburuk terjadi dan kau harus melangkah keluar dari tempat ini, kau akan membutuhkan penstabil molekuler untuk melindungi raga orang-orangmu dari distorsi gerbang dimensi."
Kakek Myeongjin menyerahkan dua kapsul kepada Yeon Chul dan Daeun, lalu menatapku.
"Bong-gu, tubuhmu telah menyatu dengan Inti Zero dan Racun Korosif, otoritas dimensimu akan melindungi struktur molekulmu secara alami dari benturan gravitasi. Namun Yeon Chul dan Daeun membutuhkan kapsul ini. Begitu kalian mengonsumsinya, cairan penstabil ini akan melapisi jaringan organ dalam dan susunan saraf kalian dengan dinding pelindung mana sementara selama enam puluh menit."
Yeon Chul menerima kapsul itu, memandangnya dengan tatapan penuh kepastian. "Enam puluh menit... cukup waktu bagi kita untuk menembus celah dan mendarat di sisi lain."
"Tapi ingat," peringat Kakek Myeongjin dengan suara berat,
"Sari Penstabil ini hanya melindungi kalian dari gesekan gravitasi di dalam lorong dimensi. Begitu kalian menjejakkan kaki di perbatasan Seoul, kalian akan langsung berhadapan dengan radiasi mana dunia luar, sistem pemindai otomatis Dewan Hunter, dan pasukan penjaga reaktor." Lanjut kakek Myeongjin.
"Kalian tidak akan mendarat di tempat yang aman... kalian akan mendarat tepat di dalam kompleks fasilitas militer rahasia Dewan Hunter."
Matahari mulai bergerak melintasi puncaknya. Bayang-bayang pepohonan Pinus memanjang ke arah timur. Waktu persiapan kami hampir usai.
Selama beberapa jam berikutnya, kami melakukan persiapan akhir dengan ketelitian tinggi. Yeon Chul memeriksa seluruh perlengkapan fisiknya.
Pria tegap itu tidak lagi mengenakan zirah besi tebal buatan Dewan Hunter yang dulu dipakainya saat masih menjadi eksperimen laboratorium. Sebaliknya, ia memilih mengenakan pakaian berburu dari kulit binatang yang tebal, dilapisi oleh serat kayu tahan gesekan yang telah dimantrai oleh Kakek Myeongjin.
Di pinggangnya, selain pisau berburu kesayangannya, ia menyelipkan dua bilah belati tempaan dari logam kristal Nodus Genesis yang kuciptakan menggunakan sisa-sisa energi Inti Zero.
Daeun membawa sebuah tas selempang kulit kecil yang berisikan ekstrak herbal penawar racun, jarum perak untuk pertolongan pertama, dan beberapa pemancar sinyal angin yang terbuat dari bulu burung suaka.
Gadis itu tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ketakutan di matanya telah berganti menjadi keteguhan hati yang memancar jernih.
Sementara itu, aku berdiri di pelataran gubuk kayu yang telah hancur, memandang ke arah danau dan pegunungan di kejauhan.
Rumah kecil ini... gubuk yang baru saja kami dirikan dengan cucuran keringat beberapa hari lalu... kini tinggal kenangan yang tertutup debu abu. Kebun sayur Daeun yang baru tumbuh tunas-tunas hijau telah terinjak-injak oleh sepatu boot besi pasukan musuh.
Aku melangkah mendekati Pohon Genesis raksasa. Batangnya yang besar kini terasa dingin saat kusentuh dengan telapak tangan kiriku.
Aku memejamkan mata, merasakan getaran halus dari benang-benang memori orang tuaku yang masih tersimpan di dalam jaringan kayu purba ini.
'Bong-gu-ya... hiduplah dengan bahagia...'
Bisikan lembut ibuku kembali bergema pelan di ujung kesadaranku.
"Aku akan kembali, Ibu... Ayah..." bisikku pelan. "Aku akan melindungi rumah yang telah kalian bangun untukku. Dan aku akan membalas setiap tetes penderitaan yang telah mereka timpakan pada kita."
SWRRRRSH!
Ketika aku menarik tanganku dari batang pohon, garis-garis energi di dadaku berdenyut harmoni. Urat-urat ungu korosif di lengan kananku memancarkan pendaran redup, seolah merespons janji yang baru saja kuucapkan.
"Bong-gu," panggil Kakek Myeongjin dari tepi pelataran.
Aku berbalik dan berjalan menghampiri mereka. Kakek Myeongjin berdiri bersama para tawanan Pasukan Pembersih yang kini telah terbebas dari rantai racun. Pria tua itu telah memutuskan untuk tetap tinggal di Ontaris.
"Kakek benar-benar tidak ingin ikut bersama kami?" tanyaku penuh keprihatinan. "Jika Dewan Hunter mengirimkan pasukan susulan melalui Gate Ilegal..."
"Tempat tua ini membutuhkan seorang penjaga, Bong-gu-ya," potong Kakek Myeongjin dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah berkerutnya.
"Aku telah menghabiskan separuh hidupku menjaga rahasia Project Genesis. Jika aku ikut ke Seoul, siapa yang akan merawat jaringan akar Pohon Genesis yang terluka ini? Siapa yang akan membimbing jiwa-jiwa malang ini untuk kembali menjadi manusia sejati?"
Kakek Myeongjin menunjuk ke arah tujuh prajurit Pembersih di belakangnya. Prajurit-prajurit itu menundukkan kepala mereka dengan penuh rasa hormat.
"Kami akan tinggal di sini bersama Tetua Myeongjin," ujar salah satu prajurit dengan suara mantap.
"Kami akan membantu memulihkan kebun dan menjaga rongga akar Pohon Genesis dari kebocoran radiasi. Kami telah lelah menjadi alat pembunuh Dewan Hunter. Di sini... di tanah ini... kami ingin membayar dosa-dosa masa lalu kami."
Aku menatap mereka satu per satu, lalu mengangguk perlahan. "Terima kasih. Jaga tempat ini... jaga rumah kami."
Kakek Myeongjin melangkah mendekat, memegang kedua pundakku dengan tangannya yang gemetar namun hangat.
"Pergilah, Bong-gu. Temukan pamanmu. Hancurkan panggung kebohongan yang telah mereka bangun di atas namamu. Dan ingatlah... kekuatan sejatimu bukan terletak pada Inti Zero atau racun korosif di dadamu, melainkan pada kehendak bebasmu untuk melindungi orang-orang yang kau cintai."
"Aku mengerti, Kakek," sahutku penuh rasa hormat.
Kami bertiga, aku, Yeon Chul, dan Daeun... mulai melangkah meninggalkan pelataran danau menuju ke arah utara.
Perjalanan menuju titik lokasi Gate Ilegal memakan waktu dua jam menembus kedalaman Hutan Pinus Utara. Semakin jauh kami melangkah ke arah utara, vegetasi hutan yang tadinya lebat dan hijau mulai mengalami perubahan yang mengerikan.
Dedaunan pohon Pinus yang kami lalui berubah warna menjadi hitam kelam dan rapuh seperti kaca tipis. Tanah basah berganti menjadi rekahan-rekahan kering yang memuntahkan uap busuk berbau ozon dan bahan bakar sintetis.
Suara cicitan burung suaka dan hembusan angin alami perlahan-lahan lenyap, digantikan oleh dengungan frekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga.
"Dengungan ini..." gumam Daeun seraya memegangi kedua telinganya dengan wajah meringis. "Ini bukan suara alam... Ini suara mesin!"
"Efek pemicu reaktor mana dari luar," sahut Yeon Chul seraya menggenggam erat gagang pisau berburunya.
"Mereka telah memompa daya listrik berkekuatan megawatt untuk menjaga celah retakan itu tetap terbuka dari Seoul."
Aku menengadah menatap langit di atas kami.
Di atas puncak bukit batu yang membatasi Ujung Utara Ontaris, atmosfer realitas tampak robek secara mengerikan.
Sebuah retakan raksasa sepanjang lima puluh meter melayang kaku di udara. Bentuknya menyerupai mata luka yang terbuka lebar, bergerigi, dan dikelilingi oleh pusaran petir ungu serta asap hitam yang berputar ganas.
Dari dalam retakan itu, ter pancar gelombang tekanan gravitasi yang membengkokkan pepohonan di sekitarnya hingga patah menjadi dua.
Itulah Gate Ilegal, pintu masuk tak diundang yang diciptakan oleh ambisi gila Dr. Kang Seung-hyuk.
"Indah sekali buatan manusia-manusia modern itu," sindir Yeon Chul dingin seraya menatap pusaran petir ungu di atas bukit.
"Mereka merobek surga hanya untuk membuang sampah teknologi mereka ke dalam sini."
"Lihat di bawah celah itu!" seru Daeun seraya menunjuk ke dasar bukit batu.
Di bawah retakan Gate Ilegal, terlihat sisa-sisa bangkai kendaraan tempur dan peralatan mekanis milik Pasukan Pembersih yang hancur berkeping-keping.
Puing-puing besi, tabung racun yang pecah, dan potongan armor bertumpuk bagaikan kuburan logam di atas tanah Ontaris.
Terlihat jelas betapa ganasnya gesekan gravitasi saat benda-benda tersebut dilemparkan melewati celah paksa dari dunia luar.
Kami bertiga berhenti di kaki bukit batu, lima puluh meter di bawah pusaran Gate Ilegal.
Uap angin korosif dari pusaran gerbang berhembus keras, mengibarkan rambut hitamku dan mantel kulit Yeon Chul.
Pendaran cahaya biru di mata kiriku menyala semakin terang saat mendeteksi benturan frekuensi asing yang mencoba menolak keberadaan kami.
Yeon Chul dan Daeun merogoh kapsul Essence of Anchoring dari dalam kantong mereka. Tanpa ragu sedikit pun, keduanya memasukkan kapsul kristal tersebut ke dalam mulut dan menelannya bulat-bulat.
SWRRRRSH!
Seketika itu juga, pendaran cahaya keemasan murni melingkupi tubuh Yeon Chul dan Daeun. Garis-garis pelindung pendaran mana bening membungkus kulit, pakaian, dan susunan saraf mereka, membentuk lapisan perisai pelindung molekuler yang kasat mata.
"Bagaimana rasanya?" tanyaku menatap mereka berdua.
"Seperti menelan cairan es cair yang membekukan seluruh organ dalamku," jawab Yeon Chul seraya menghembuskan napas yang memancarkan uap dingin keperakan.
"Tapi rasa sakit memar di dadaku mendadak hilang sepenuhnya."
"Aku merasa... tubuhku menjadi sangat ringan," tambah Daeun, matanya berbinar menatap lengan tangannya yang memancarkan pendaran cahaya keemasan tipis.
Aku melangkah ke depan mereka berdua, menengadah menatap langsung ke pusat pusaran petir Gate Ilegal.
Racun korosif di lengan kananku bergetar hebat, beresonansi dengan radiasi mana yang terpancar dari dalam retakan.
Di saat yang sama, Inti Zero di dadaku berdetak kencang, memancarkan gelombang otoritas yang mulai memaksa pusaran petir ungu di atas kami untuk melambat dan meredam gesekan gravitasinya.
"Dengarkan aku," kataku seraya menoleh menatap Yeon Chul dan Daeun.
"Begitu kita melompat masuk ke dalam pusaran ini, kalian akan merasakan guncangan gravitasi yang luar biasa. Penglihatan kalian mungkin akan gelap dan pendengaran kalian akan berdenging keras. Jangan pernah melepaskan genggaman tangan kalian denganku!"
Aku mengulurkan kedua tanganku. Tangan kiri keemasanku menggenggam erat jemari Daeun, sementara tangan kananku yang berserat racun korosif mencengkeram pergelangan tangan Yeon Chul dengan cengkeraman baja yang tak tergoyahkan.
"Kita akan menembus panggung kebohongan mereka bersama-sama," bisikku penuh tekad.
Yeon Chul mengulas senyuman tipis bercak darah di sudut bibirnya, mengangguk mantap.
"Pimpin jalannya, Seo Hunter. Kita tunjukkan pada Dewan Hunter apa yang terjadi saat mereka membangunkan pahlawan yang salah."
Daeun menggenggam jemariku lebih erat, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu kiriku. "Aku siap, Kak."
Aku membalikkan badan menghadap retakan dimensi di atas bukit batu.
Dengan satu hentakan kaki yang dahsyat ke atas tanah basah, gelombang kejut merah-keemasan meledak di bawah telapak kakiku, melempar tubuh kami bertiga meluncur deras ke atas lurus menuju perut pusaran petir ungu Gate Ilegal.
BLAAAAAAST!
Dunia di sekeliling kami mendadak hancur menjadi pusaran garis-garis cahaya yang tak beraturan.
Suara raungan angin supersonik, dentang logam yang terpecah, dan bisikan ribuan sinyal frekuensi mekanis menghantam kesadaranku secara bersamaan.
Struktur realitas Ontaris yang hijau dan damai lenyap seketika dalam sekejap mata, berganti dengan lorong kegelapan abadi yang dipenuhi oleh kilatan radiasi murni dan gesekan gravitasi yang mencoba merobek molekul raga kami.
Sari Penstabil Realitas di tubuh Yeon Chul dan Daeun memancarkan pendaran keemasan yang hebat, menahan gesekan molekuler yang menghantam tubuh mereka.
Sementara itu, Inti Zero di dadaku memancarkan pendaran cahaya biru dan merah membara yang membentuk perisai domain mutlak di sekeliling kami bertiga.
Aku memejamkan mata kananku, membiarkan mata kiriku yang berwarna biru menyala menembus kegelapan lorong dimensi.
Di ujung lorong yang tak bertepi itu, sebuah titik cahaya putih keperakan bercampur dengan pendaran lampu neon merah mulai terlihat membesar.
Sinyal-sinyal mekanis berfrekuensi tinggi berdengung semakin keras, membawa aroma minyak mesin, asap industri, dan dinginnya udara beton buatan manusia.
Dunia luar... Seoul... panggung kebohongan Dewan Hunter... kini berada tepat di hadapan kami.
Aku mempererat cengkeraman tanganku pada Yeon Chul dan Daeun, membiarkan aura Inti Zero dan Racun Korosif menyatu sempurna di dalam dadaku.
Masa bersembunyi di dalam suaka telah berakhir. Perang untuk merebut kembali hak atas surga buatan orang tuaku baru saja dimulai.
Cahaya putih keperakan yang berbaur dengan pendaran neon merah itu meledak di depan mataku. Kecepatan pelintasan kami melampaui apa pun yang pernah dirasakan raga manusia biasa.
Sensasi berada di dalam celah Gate Ilegal bagaikan ditarik secara paksa melalui lorong sempit yang dinding-dindingnya terbuat dari cermin pecah dan kilatan listrik statis.
Gaya sentrifugal dan tarikan gravitasi tak beraturan berupaya memisah jalinan jemariku dari Daeun dan Yeon Chul. Namun, pelindung keemasan dari Essence of Anchoring yang membungkus raga mereka bekerja selayaknya jangkar molekuler yang kokoh.
Pendaran aura Inti Zero dan Racun Korosif di dadaku meraung, menolak setiap distorsi ruang yang mencoba mencabik-cabik raga kami.
WHUUUUSH!
Sensasi hampa udara mendadak lenyap, berganti dengan tekanan atmosfer yang amat berat dan pekat. Udara dingin yang merasuk ke dalam paru-paruku tidak lagi beraroma humus pinus atau kesegaran danau Ontaris.
Udara ini berbau hangus, beraroma minyak pelumas mesin panas, gas buangan industri, dan campuran zat kimia sintetis yang menyengat hidung.
THUD! BANG!
Kami bertiga terhempas keras ke atas permukaan keras yang terbuat dari plat baja bergerigi. Gelombang kejut dari pendaran pendaratan kami memicu percikan api statis di atas lantai logam.
PING!
Tiba-tiba, sebuah suara berdenting nyaring, suara mekanis yang sudah beberapa bulan tidak kudengar sejak terlempar ke Ontaris terngiang tepat di dalam sudut kesadaranku.
Di hadapan pandangan mata kiriku, garis-garis neon berwarna biru kehijauan terbelah, membentuk Jendela Layar Melayang (System Interface) yang melayang kaku di udara.
Layar semi-transparan yang dulu selalu mengatur status, level, dan kemampuan para Hunter di dunia luar itu kini menyala kembali secara otomatis.
[SYSTEM NOTICE: RE-ENTERING SECTOR 01 - SEOUL REALITY] Status : Core Operator Identified (SEO HUNTER). Current Local Date : SEPTEMBER 30, 20xx. Time Elapsed in Earth Prime : 5 YEARS, 2 MONTHS.
Mataku terbelalak lebar.
Tanganku gemetar hebat saat membaca baris tanggal yang tertera di layar sistem.
LIMA TAHUN?!
"B-Bagaimana... bagaimana bisa?!" bisikku seraya menatap layar transparan itu dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
"Kita... kita berada di Ontaris baru tiga bulan lebih! Bagaimanakah waktu di tempat ini berjalan?!"
Yeon Chul yang baru saja bangkit berdiri mendadak mematung. Layar sistem milik pemuda berusia 22 tahun itu memuntahkan informasi kalender yang sama, menunjukkan durasi hilang yang sama persis denganku.
5 Tahun. Wajah tegap yang biasanya dingin itu seketika memucat, matanya bergetar hebat menatap angka tahun yang terpampang di udara.
"Lima tahun..." desis Yeon Chul dengan suara serak.
"Bagi kita di Ontaris, itu hanya hitungan bulan... Tapi di Bumi... dunia sudah berjalan lima tahun sejak ledakan Dungeon yang Seo Bong-gu tangani!"
Namun, guncangan terberat menghantam Daeun. Di hadapan gadis berusia 19 tahun itu, layar sistemnya menyala dengan pendaran merah berkedip kencang, menampilkan durasi yang sedikit berbeda.
[SYSTEM NOTICE: RE-ENTERING SECTOR 01 - SEOUL REALITY] Status : Missing Person File #0492 (HAN DAEUN). Time Elapsed in Earth Prime : 6 YEARS, 7 MONTHS.
"E-Enam tahun lebih...?"
Daeun terduduk lemas di atas lantai baja, kedua tangannya mencengkeram dadanya yang naik-turun secara tidak teratur. Air mata merebak cepat di pelupuk matanya.
Karena Daeun dan Kakek Myeongjin terlempar ke Ontaris sekitar satu bulan lebih awal dibanding kami, distorsi waktu Bumi melompat lebih jauh bagi mereka.
Bagi Daeun, ia merasa baru beberapa bulan berada di Ontaris. Namun di Bumi... ia telah dinyatakan hilang selama enam tahun lebih!
Di catatan sistem dunia nyata, sosok Han Daeun yang terlempar di usia 18 tahun kini terdaftar sebagai wanita yang seharusnya berusia mendekati 25 tahun.
"Ibu... Ayah..." bisik Daeun lirih, suaranya terputus-putus oleh rasa takut yang mendalam.
"Aku hanya berada di Ontaris beberapa bulan... tapi di rumah... enam tahun lebih sudah berlalu?! Apakah... apakah mereka masih mencariku?!"
"Daeun-ah!" Yeon Chul berlutut di samping Daeun, mengguncang pelan bahu gadis itu.
Melihat Daeun yang hampir tenggelam dalam kepanikan, aku menahan gejolak di dadaku sendiri. Aku melangkah mendekati Daeun, merendahkan tubuhku, dan menggenggam kedua tangannya yang dingin.
"Daeun, dengarkan aku," kataku seraya menatap lurus ke dalam matanya dengan pendaran biru Inti Zero yang hangat.
"Dunia luar memang telah berjalan lima tahun sejak ledakan Dungeon itu. Tapi kita masih berdiri di sini, bernapas dan membawa kebenaran. Jangan biarkan perbedaan waktu ini merobek keteguhan hatimu. Orang tuamu... kita akan menemukan mereka setelah kita menuntaskan semua ini!"
Daeun menatap mataku, menghirup napas panjang secara perlahan seraya menyapu air matanya dengan punggung tangan.
Guncangan emosi di matanya secara perlahan mereda, berganti menjadi kedewasaan yang kembali terpasang kokoh.
"Maafkan aku, Kak..." bisik Daeun seraya berdiri tegak.
"Aku sempat kehilangan kendali. Tapi aku tidak akan goyah lagi. Lima tahun atau sepuluh tahun... mereka yang menyebabkan ledakan Dungeon itu harus membayar hilangnya waktu kita!"
Aku menyipitkan mata, membaca sisa data di layar sistem. Pikiran tegangku kini terfokus pada satu nama.
"Paman Dr. Kang..." gumamku dingin. "Jika kita dianggap tewas selama lima tahun... paman pasti sudah menguasai seluruh hak paten penelitian almarhum ayahku dan memonopoli namaku di Dewan Hunter sepenuhnya."
Sejak orang tuaku tewas dalam pembantaian laboratorium saat aku berusia 11 tahun, Dr. Kang Seung-hyuk adalah satu-satunya sosok paman yang kupikir merawatku. Namun, baru di Ontaris aku menyadari kebenarannya—paman bukanlah penyelamat.
Dia memanfaatkan statusku yang yatim piatu, mengendalikan pergerakanku secara diam-diam sebagai Hunter, dan memanipulasi seluruh aset keluarga Seo untuk ambisi pribadinya.
Dan ledakan Dungeon lima tahun lalu... jelas merupakan bagian dari rencananya untuk melenyapkanku setelah aku mulai sulit dikendalikan.
Yeon Chul menatapku dari samping. Ada kilat kepedihan dan kesetiaan yang teramat dalam di mata pria itu. Sebuah rahasia besar tentang masa lalu yang hanya ia simpan sendiri tanpa pernah kuketahui.
Yeon Chul tahu betul betapa aku telah dimanfaatkan sejak kecil, dan ia telah bersumpah untuk membalaskan semuanya.
"Dia bukan lagi pamanmu, Bong-gu," kata Yeon Chul dengan suara dalam dan mantap.
"Dia adalah dalang yang merenggut segalanya darimu. Dan sekarang, saatnya kita merebut kembali apa yang menjadi hakmu."
BEEP! BEEP! BEEP! WARNING! UNSEALED ENTITIES DETECTED IN SECTOR 4!
Sirine darurat hangar menyalak keras. Di sekeliling platform baja, pintu-pintu geser hidrolik terbuka, memuntahkan puluhan Pasukan Guard berzirah exosuit perak Dewan Hunter, pasukan bentukan Dr. Kang.
"Sistem ini mencatat kita telah mati lima tahun lalu," kataku seraya melangkah maju. Mata kiriku menyala murni, sementara tangan kananku yang berserat ungu korosif membakar udara.
"Mari kita tunjukkan pada mereka... apa yang terjadi ketika hantu masa lalu kembali untuk menuntut perhitungan."
"Daeun, amankan sektor belakang!" teriak Yeon Chul seraya melompat lincah membawa belati kristal Genesis-nya.
"Serahkan padaku, Kak!" balas Daeun tanpa ada lagi rasa ragu atau kepanikan di wajahnya.
Sari Penstabil Realitas dan aura Inti Zero menyatu sempurna. Dengan kehendak bebas yang tak lagi terkekang oleh kalkulasi waktu atau angka-angka layar sistem, kami bertiga melesat menerjang barisan musuh dan siap menghancurkan panggung kebohongan Dr. Kang dan menuntut perhitungan atas lima tahun waktu kami yang telah dicuri.