# Chapter 3: Pedang Usang
Dinding gubuk itu meledak ke dalam sebelum aku sempat berteriak. Kayu-kayu yang tadi terasa begitu kokoh kini berhamburan seperti ranting kering, menghantam segala arah. Sesuatu yang keras menghantam bahuku—entah kayu, entah batu—dan aku terlempar ke samping, jatuh menimpa reruntuhan perapian yang baranya masih menyala kecil. Debu dan serpihan jerami mengambang di udara, membuatku terbatuk-batuk sambil mencoba mencari arah. Lalu aku melihat ke atas, dan napasku tercekat. Genderuwo itu bukan lagi sosok yang mengejarku di reruntuhan kota. Di sini, di tengah lembah yang lapang, tanpa apa pun yang bisa menyembunyikan bentuk sebenarnya dari mahluk itu, tubuhnya menjulang setinggi pohon kelapa—begitu tinggi hingga aku harus mendongak penuh untuk melihat wajahnya, siluetnya menutupi sebagian langit senja di belakangnya. Setiap langkahnya menggetarkan tanah di bawah kakiku. Geramannya bukan lagi sekadar suara—itu seperti guntur yang bergulung rendah, membuat gigi-gigiku bergetar. Aku merangkak mundur, tanganku meraba-raba di antara puing, mencari apa pun yang bisa kupakai. Jariku menyentuh sesuatu yang keras dan dingin—gagang kayu, lalu logam. Pedang itu. Pedang yang tadi tergantung di dinding, sekarang tergeletak di antara reruntuhan, setengah terkubur pecahan kayu. Aku menggenggamnya dengan kedua tangan, jantungku berdebar begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Ini dia. Ini pasti dia. Kalau legenda itu benar, kalau senjata yang bisa menyelamatkan manusia benar-benar ada, mungkin—mungkin inilah alasan aku dibawa ke tempat ini. Mungkin inilah jawabannya. Genderuwo itu mengaum, dan salah satu kakinya yang sebesar batang pohon tua itu melangkah maju, mengayunkan tangan raksasanya ke arahku dalam satu sapuan rendah yang menghantam apa pun yang menghalangi. Aku hanya sempat mengayunkan pedang ke bagian yang bisa kujangkau—pergelangan kaki makhluk itu, sebesar tubuhku sendiri—aku berteriak lebih karena ketakutan daripada keberanian. Bilahnya membentur kulitnya yang keras dan memantul begitu saja, seperti menghantam batang pohon tua. Tidak ada cahaya. Tidak ada ledakan energi. Tidak ada apa pun selain getaran yang menjalar ke tanganku hingga ke bahu, membuatku hampir menjatuhkan pedang itu sendiri. Ini hanya pedang biasa. Aku tidak sempat memahami sepenuhnya kekecewaan itu sebelum tangan raksasa itu menyapu tubuhku seperti menyingkirkan serangga. Aku terlempar jauh melintasi reruntuhan, menghantam apa yang dulunya dinding gubuk, sekarang hanya tumpukan kayu. Napas tercekat di dadaku. Pandanganku berkunang-kunang, dan untuk sesaat aku hanya bisa terbaring, mendengar deru napasku sendiri bercampur langkah kaki raksasa yang mendekat, masing-masing menggetarkan tanah di bawah punggungku. Aku sudah datang sejauh ini. Aku tidak boleh mati di sini. Tidak seperti ini. Aku mencoba bangkit, tapi lenganku gemetar hebat, tak sanggup menopang beratku sendiri. Lalu aku melihatnya, Pria itu tidak berteriak. Tidak ada aba-aba, tidak ada jeda untuk mengambil napas dramatis seperti yang mungkin kubayangkan sebelumnya tentang seorang penyelamat. Ia hanya bergerak—cepat, rendah, efisien—menyambar pedang yang tadi terlepas dari tanganku, jatuh tak jauh dari kakiku, dalam satu gerakan yang terasa sudah dilakukannya ribuan kali sebelumnya. Genderuwo itu mengayunkan tangannya yang sebesar balok kayu ke arahnya, cakar sepanjang lenganku sendiri siap merobek apa pun yang menghalangi. Pria itu tidak menangkis dengan kekuatan—mustahil menangkis pukulan sebesar itu dengan sebilah pedang biasa. Ia menggelinding ke samping, membiarkan tangan raksasa itu menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri sesaat sebelumnya, mengirim gelombang debu dan pecahan kayu ke udara. Dalam gerakan yang sama, ia sudah berlari rendah menuju kaki genderuwo, dan menebaskan pedang itu dalam ke bagian belakang lutut raksasa itu—titik yang paling mungkin dijangkau, dan yang paling rentan pada makhluk sebesar apa pun. Genderuwo itu mengaum kesakitan, lebih kaget daripada terluka parah, dan kakinya sedikit oleng, tubuh raksasanya limbung ke satu sisi. Ia tidak memberi jeda. Aku hampir tidak bisa mengikuti gerakannya dengan mataku sendiri—bukan karena ia bergerak dengan kekuatan yang mustahil, bukan karena ada sesuatu yang gaib dalam caranya berkelahi, tapi karena setiap gerakannya begitu minim, begitu tepat, seolah ia sudah menghitung setiap kemungkinan sebelum genderuwo itu bahkan menyelesaikan ayunan tangannya. Ia tidak berusaha melawan kekuatan raksasa itu secara langsung—ia tidak bisa, dan sepertinya sudah lama menyadarinya. Sebaliknya, ia menggunakan reruntuhan di sekelilingnya: melompat ke atas balok kayu besar yang dulunya tiang gubuk, menjadikannya pijakan untuk melesat lebih tinggi setiap kali genderuwo itu oleng karena luka di lututnya. Genderuwo itu, kesakitan dan limbung, mengayunkan tangannya sekali lagi—kali ini lebih rendah, lebih dekat ke tanah, mencoba menyapu bersih apa pun yang mengganggunya. Pria itu melompat melewati sapuan itu, menggunakan lengan raksasa yang sedang bergerak sebagai pijakan sesaat, berlari sepanjang lengan itu sendiri sebelum makhluk itu sempat menyadarinya, menuju bahu dan lehernya yang kini berada dalam jangkauan. Genderuwo itu meraung, mencoba mengibaskan tubuh untuk melemparkannya. Tapi pria itu sudah menancapkan pedang itu dalam-dalam ke titik lunak di sisi lehernya, menggantung sesaat dengan seluruh berat tubuhnya bertumpu pada gagang pedang, sebelum menariknya turun dalam satu tebasan panjang yang membelah lebih dalam. Darah gelap—lebih kental dan lebih pekat dari darah manusia—menyembur dari lukanya, membasahi tanah dan sisa-sisa kayu yang berserakan dalam jumlah yang membuatku mual. Genderuwo itu terhuyung, tubuh raksasanya limbung ke belakang seperti pohon tumbang. Pria itu melompat turun jauh sebelum tubuh itu ambruk sepenuhnya, mendarat dengan berguling di tanah untuk meredam benturan. Semuanya berhenti. Tubuh genderuwo itu jatuh ke tanah dengan suara berdebam yang menggetarkan seluruh lembah, seperti pohon besar yang akhirnya tumbang setelah ditebang. Matanya yang menyala merah perlahan meredup, lalu padam sepenuhnya. Hening. Aku masih terbaring di antara puing, dadaku naik turun cepat, tak percaya semuanya sudah berakhir. Dari saat pedang itu bergerak pertama kali sampai tubuh raksasa itu jatuh, mungkin belum ada satu menit berlalu. Pria itu berdiri perlahan di tengah reruntuhan, napasnya sedikit memburu—satu-satunya tanda bahwa pertarungan barusan bukan sesuatu yang benar-benar mudah, meski ia menghadapinya seolah sudah melakukan hal serupa ribuan kali sebelum ini. Pedang jelek itu—pedang yang gagal melindungiku, yang tidak bercahaya, yang tidak memiliki kekuatan apa pun selain logam yang diasah tajam—tergantung longgar di tangannya, ujungnya menetes darah gelap ke tanah. Ia menatap tubuh genderuwo yang tak bergerak sejenak, lalu berbalik ke arahku. Matanya memindai tubuhku dengan cepat, memastikan tak ada luka baru yang lebih parah dari sebelumnya, sebelum akhirnya berjongkok di depanku. “Kau bisa berdiri?” tanyanya, suaranya tetap setenang sebelumnya, seolah gubuknya baru saja tidak hancur berantakan, seolah ia baru saja tidak membunuh makhluk sebesar itu hanya dengan sebilah pedang biasa dan tubuhnya sendiri. Aku menatapnya, lalu menatap pedang di tangannya, lalu menatap reruntuhan gubuk di sekelilingnya kami. “Bagaimana...” Suaraku tercekat. “Bagaimana kau melakukan itu? Pedang itu—pedang itu bahkan tidak bisa melukai lengannya waktu aku yang memegangnya.” Ia menurunkan pandangannya ke pedang di tangannya sendiri, seolah baru menyadari keberadaannya. “Karena pedang ini memang hanya pedang biasa,” katanya pelan. “Seperti aku.” Aku tidak sepenuhnya memahami apa maksudnya. Tapi sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, ia sudah berdiri, mengulurkan tangannya yang bebas ke arahku—bukan untuk menjelaskan, hanya untuk membantuku bangkit dari reruntuhan yang, beberapa menit lalu, masih menjadi satu-satunya tempat berlindung yang kupunya di dunia asing ini.