# Chapter4 : Udara yang Sudah Lama Tak Terhirup
Kami duduk di antara reruntuhan gubuk untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. Tubuh genderuwo yang tergeletak tak jauh dari kami perlahan mulai memudar menjadi abu gelap, terurai ditelan angin seolah ia tak pernah benar-benar ada di dunia ini. Aku menatapnya sampai serpihan terakhir menghilang, masih tak percaya dengan apa yang baru saja kusaksikan. Lalu rasa sakit itu menampar seketika, mencengkeram tubuhku dari segala arah. Aku berteriak kesakitan, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Dan kemudian semua gelap. Samar-samar aku membuka mata, melihatnya duduk di depan api unggun yang ia buat dari serpihan dinding kayu. "Kau baru saja pingsan lagi," katanya. "Aku memberi lagi beberapa obat pada lukamu yang sedikit terbuka, kutambahkan ramuan untuk mengurangi rasa sakit." Ia berhenti sejenak, matanya tidak sepenuhnya menatapku. "Aku mohon maaf karena monster itu menyerang kita. Aku terlalu larut dalam pikiranku, bahkan tidak menyadari makhluk sebesar itu sudah mengendap-endap sedekat itu." Aku tidak tahu harus menjawab apa. Lalu, tanpa sadar, mulutku mengucapkan, "Terima kasih." Malam sudah datang, dan kesunyian menghampiri kami—hanya derik suara api unggun yang mengisi jarak di antara kami. "Kau bilang pedang itu hanya pedang biasa," kataku akhirnya, memecah keheningan. "Katamu, kau pun begitu. Tapi aku baru saja melihatmu merobohkan makhluk sebesar itu, sendirian, dengan pedang yang bahkan tidak bisa melukainya saat aku yang memegangnya." Ia tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk membersihkan bilah pedang dengan sepotong kain yang ia ambil dari reruntuhan, gerakannya lambat dan hati-hati, seperti sebuah kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. "Aku memang tidak istimewa," katanya akhirnya. "Aku hanya sudah terlatih untuk bertahan hidup. Ada bedanya." Ia menghentikan gerakannya sejenak. Matanya menatap ke arah reruntuhan gubuk, ke arah dunia hijau yang tenang di luar sana, seolah sedang menimbang seberapa banyak yang boleh ia katakan. "Aku bukan dari sini," katanya. "Bukan dari dunia ini, dan sepertinya bukan dari waktu yang sama denganmu." Aku menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Aku berasal dari tahun 2025," lanjutnya. Kata-kata itu terasa aneh di telingaku, seperti sesuatu yang seharusnya mustahil tapi entah bagaimana masuk akal sekaligus, mengingat segala hal aneh yang sudah kualami sejak menyentuh gerbang itu. "Itu—" Aku berhenti, mencoba menghitung. "Itu seratus tahun yang lalu. Sebelum dunia ini berubah, sebelum peperangan itu terjadi, sebelum kekalahan manusia, sebelum semuanya hancur." "Sudah kuduga," katanya. Suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu di baliknya yang terasa berat, seperti batu yang disembunyikan di dasar sungai yang tenang. "Waktu tidak berjalan untukku di sini. Tidak dengan cara yang sama seperti di luar sana. Aku menghitung hari, lalu bulan, lalu tahun, sampai akhirnya aku berhenti menghitung sama sekali. Tapi tubuhku tidak berubah. Tidak menua. Seolah aku dijeda di satu titik, dan sepertinya dunia di luar terus berjalan tanpaku." Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku mencoba membayangkan seperti apa rasanya—merasakan setiap hari berlalu, satu demi satu, tanpa henti, terjebak sendirian di tempat yang indah namun asing, sementara dunia yang ia kenal terus berubah tanpa pernah memberitahunya bagaimana. "Kenapa kau di sini?" tanyaku pelan. "Terjebak di sini, maksudku." Rahangnya mengeras sedikit, nyaris tak kentara. "Itu cerita untuk lain waktu." Aku ingin mendesak, tapi sesuatu dalam cara ia mengatakannya membuatku memilih untuk tidak memaksa. Belum sekarang. "Lalu kenapa aku bisa masuk?" tanyaku, mengganti arah pertanyaan. "Kau bilang tempat ini sudah lama tidak kedatangan siapa pun." Ia menghela napas panjang, meletakkan pedang yang sudah bersih itu di sampingnya. "Dugaanku, karena segel yang menjaga tempat ini melemah," katanya. "Aku bisa merasakannya—sudah beberapa waktu ini, meski aku tidak tahu persis kenapa. Batas antara duniaku dan duniamu tidak sekuat dulu lagi. Itu sebabnya genderuwo itu juga bisa menembus masuk. Kurasa itu juga sebabnya kau bisa sampai kemari." "Melemah bagaimana? Kenapa sekarang?" Ia menatapku lama, dan untuk sesaat aku merasa ia hendak mengatakan sesuatu yang lebih—sesuatu yang tersembunyi jauh di balik matanya yang tenang itu. Tapi kemudian ia hanya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pasti," katanya, meski nada suaranya membuatku curiga bahwa itu bukan seluruh kebenaran. "Yang aku tahu, tempat ini tidak akan bertahan selamanya. Cepat atau lambat, semua yang ada di luar sana akan bisa masuk ke sini juga." "Aku harus kembali," kataku pelan, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. "Ke benteng. Tempat aku tinggal—satu-satunya tempat yang tersisa bagi orang-orang sepertiku untuk bertahan hidup. Mereka pasti sudah mengira aku mati." Ia menatapku, mendengarkan tanpa menyela, seolah sedang menyimpan setiap detail yang baru saja kuucapkan. "Sebuah benteng," ulangnya pelan, seperti mencoba membayangkan bentuknya. "Berapa jauh dari sini?" "Aku tidak tahu pasti," jawabku. "Aku berjalan berhari-hari untuk sampai ke gerbang itu. Mungkin sejauh itu juga untuk kembali." Ia terdiam sejenak, matanya kembali menerawang ke arah reruntuhan gubuk di sekelilingnya, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak bisa kulihat. "Dan kalau begitu, tidak ada gunanya kau maupun aku tetap tinggal di sini, menunggu hal seperti tadi terjadi lagi," katanya akhirnya. Ia berdiri, mengulurkan tangan untuk membantuku bangkit sekali lagi. "Aku akan mengantarmu kembali," katanya. "Ke bentengmu." Aku menatapnya, terkejut. "Kau ikut?" Ada jeda kecil sebelum ia menjawab—begitu singkat hingga aku hampir tidak menyadarinya. "Ya," katanya. "Aku ikut." Ia tidak menjelaskan alasannya, dan aku tidak bertanya lebih jauh. Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kata itu yang terasa lebih berat daripada sekadar keputusan sederhana untuk menolong orang asing. Ia mengambil sebuah buntalan kain—entah apa isinya—lalu menyarungkan pedangnya ke dalam sarung kulit yang sudah usang. Kami berjalan beriringan menuju gerbang, dan sesekali aku menyadari matanya melirik ke arahku, memeriksa kondisiku tanpa berkata apa-apa. Perjalanan menuju gerbang tidak memakan waktu lama—lebih singkat dari yang kubayangkan, mengingat betapa jauhnya aku merangkak untuk mencapai sungai tempat aku pingsan. Lembah hijau itu terasa berbeda sekarang, seolah ikut menyadari bahwa sesuatu akan segera berubah. Angin bertiup lebih pelan, seperti menahan napas. Gerbang itu berdiri di ujung lembah, dua pilar yang sama seperti yang kulihat saat aku menembusnya—hanya saja kini terlihat dari sisi yang berlawanan, kegelapan di antara keduanya bergetar pelan, seolah bernapas. Pria itu berhenti sesaat di depannya. Aku memperhatikan wajahnya, mencoba membaca apa yang mungkin ia rasakan—takut, ragu, mungkin juga sedikit lega. Tapi wajahnya tetap datar, tenang seperti biasanya, hanya rahangnya yang sedikit mengeras. "Sudah seratus tahun," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untukku. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kegelapan itu, dan aku mengikutinya. Rasanya sama seperti sebelumnya—tubuh yang seolah ditarik dan diperas melalui celah yang terlalu sempit, lalu dilepaskan begitu saja. Aku melihatnya berhenti tepat di ambang gerbang, satu langkah keluar dari kegelapan, matanya terpejam sesaat. Dan kemudian, perlahan, ia menarik napas panjang—napas pertama yang ia hirup dari dunia ini dalam seratus tahun. Udara yang dipenuhi debu, abu, dan bau sesuatu yang telah lama membusuk. Udara yang sama sekali berbeda dari udara bersih lembah yang baru saja kami tinggalkan. Ia tidak terbatuk. Tidak mengeluh. Hanya berdiri diam, matanya masih terpejam, dadanya naik turun pelan, seolah sedang menimbang setiap partikel udara yang memasuki paru-parunya—udara dunia yang telah lama ia tinggalkan, dan yang kini, akhirnya, telah menemukannya kembali.