# Chapter5 : Nama
Aku berdiri di sampingnya, tidak berani bicara dulu, membiarkan ia menghabiskan waktu sebanyak yang ia butuhkan dengan napas pertamanya. Deru ombak laut selatan memecah di belakang kami, berulang-ulang, satu-satunya suara yang mengisi keheningan selain angin. Di sekeliling kami, dunia yang kutinggalkan berdiri sebagaimana adanya—hancur, sunyi, berbau abu dan air asin—tapi entah kenapa, dengan pria itu berdiri di sana, matanya masih terpejam, semuanya terasa sedikit berbeda. Seolah dunia ini akhirnya punya saksi lain selain diriku sendiri. Ia membuka matanya perlahan. Untuk sesaat, tidak ada yang ia katakan. Pandangannya menyapu reruntuhan di sekitar kami—puing bangunan yang dulunya entah apa, tanah gersang yang dulunya mungkin ditumbuhi rumput, langit kelabu yang tidak lagi punya warna biru cerah seperti di lembah yang baru saja kami tinggalkan. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada air mata, tidak ada rahang yang gemetar. Hanya ketenangan yang aneh, yang justru membuatku merinding lebih dari kalau ia menangis sekalipun. "Ini..." Aku mencoba mencari kata-kata yang pantas, tapi tidak menemukannya. "Aku turut prihatin. Aku tahu ini pasti berat untukmu." Ia menggeleng pelan, masih menatap reruntuhan di kejauhan. "Aku sudah menduganya akan seperti ini. Bahkan lebih buruk dari yang bisa kubayangkan sekalipun." Kalimat itu menyangkut sesuatu di kepalaku. Sudah menduganya. Aku teringat malam sebelumnya, saat ia bilang "sudah kuduga" begitu saja ketika aku menyebut bahwa seratus tahun telah berlalu—seolah itu bukan kabar baru baginya, seolah ia sudah tahu jauh sebelum aku mengucapkannya. Waktu itu aku terlalu lelah, terlalu penuh pertanyaan lain, untuk mendesaknya lebih jauh. Tapi sekarang, mendengar kalimat serupa keluar dari mulutnya lagi—kali ini soal kehancuran dunia yang bahkan belum ia lihat langsung sebelum kami keluar dari gerbang—aku tidak bisa lagi membiarkannya lewat begitu saja. "Kau bilang begitu juga semalam," kataku pelan, mencoba menyusun kata-kataku hati-hati. "Waktu aku bilang sudah seratus tahun berlalu. Kau bilang sudah menduganya. Sekarang kau bilang lagi, sudah menduga dunia ini akan hancur seperti ini." Aku menatapnya, mencoba membaca sesuatu di balik wajahnya yang tenang itu. "Bagaimana kau bisa menduga sejauh itu, kalau kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana selama seratus tahun ini?" Untuk sesaat, sesuatu berkelebat di matanya—bukan terkejut karena pertanyaan itu sendiri, tapi lebih seperti terkejut karena aku akhirnya berani menanyakannya. Rahangnya mengeras sedikit, caranya berdiri berubah, seolah ia sedang menimbang apakah ini saatnya menjawab jujur atau kembali mengelak seperti biasa. "Karena aku tahu bagaimana dunia ini bekerja," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, jeda-jeda kecil di antara kata-katanya yang mulai kupelajari sebagai caranya menimbang seberapa banyak yang boleh ia ungkapkan. "Aku tahu apa yang mulai terjadi sebelum aku disegel di sana. Aku hanya... tidak menyangka semuanya akan berakhir sejauh ini." Ia tidak melanjutkan, dan aku merasakan pintu kecil yang tadi sempat terbuka mulai menutup lagi. Tapi setidaknya kali ini, aku tahu ada sesuatu yang nyata di baliknya—bukan sekadar firasat kosong, melainkan pengetahuan yang ia simpan sendirian, mungkin terlalu berat untuk dibagikan sekaligus. Keheningan yang menyusul terasa berbeda dari sebelumnya—bukan lagi keheningan canggung antara dua orang asing, tapi keheningan yang mulai terisi oleh hal-hal yang belum siap diucapkan. Di tengah keheningan itulah aku menyadari sesuatu yang aneh: selama ini kami sudah melalui begitu banyak hal bersama—pertarungan, kejujuran setengah-setengah, keputusan besar untuk saling percaya—tapi kami bahkan belum pernah saling menyebut nama. "Kau tahu," kataku pelan, mencoba mencairkan keheningan yang terasa terlalu berat untuk dipikul berdua, "aku baru sadar, aku bahkan tidak tahu harus memanggilmu apa." Untuk pertama kalinya sejak kami keluar dari gerbang, sesuatu yang menyerupai senyum kecil muncul di sudut bibirnya—bukan senyum getir seperti sebelumnya, tapi sesuatu yang lebih tulus, meski tetap ringan. "Aksa," katanya. "Namaku Aksa." Aku mengulang nama itu dalam hati, mencoba membiasakannya. Aksa. Nama yang sederhana, tidak berlebihan, seperti dirinya. "Asa," balasku, menyebut namaku sendiri untuk pertama kalinya kepadanya. "Namaku Asa." Ada jeda kecil setelah aku mengucapkannya—begitu singkat, tapi aku menangkapnya. Sesuatu berkelebat di matanya, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mendengar nama baru. Untuk sepersekian detik, ia terlihat seperti sedang menahan napas. "Asa," ulangnya pelan, seolah mencicipi kata itu di lidahnya sendiri. "Nama yang bagus." Ia tidak menjelaskan kenapa reaksinya terasa lebih berat dari yang seharusnya untuk sekadar pertukaran nama biasa, dan aku tidak bertanya. Tapi sesuatu di dalam diriku mencatat momen itu, menyimpannya, meski aku belum tahu artinya. "Aksa," kataku lagi, mencoba nama itu di lidahku sendiri. "Baiklah, Aksa. Sekarang setidaknya aku tahu harus berterima kasih kepada siapa." Ia mengangguk kecil, lalu kembali menatap reruntuhan di depan kami—kali ini dengan pandangan yang berbeda, seolah ucapan namanya sendiri telah menariknya kembali sepenuhnya ke dunia ini, ke kenyataan yang harus ia hadapi. "Aku belum tahu dunia macam apa yang menantiku di luar sana," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Tapi kurasa tidak ada gunanya menunda-nunda." "Bentengnya ke arah sana," kataku, menunjuk ke arah timur laut, mencoba mengingat-ingat penanda jalan yang pernah kuhafal sebelum semuanya berubah menjadi puing yang tidak lagi kukenali. "Setidaknya, kurasa begitu. Semuanya terlihat berbeda dari yang kuingat." Aksa mengangguk, tidak mempertanyakan kepastianku meski aku sendiri tidak sepenuhnya yakin. Ia mulai melangkah, dan aku mengikutinya, meninggalkan gerbang candi hitam di belakang kami. Air laut masih menggenangi kaki kami setinggi mata kaki, dingin dan asin, berdesir pelan setiap kali ombak kecil menyapu bibir pantai lalu surut kembali. Dua pilar bata merah itu kini berdiri diam beberapa meter di belakang, sebagian terendam air, dihantam ombak yang datang dan pergi seolah tidak pernah ada apa pun yang aneh tentang keduanya—kegelapan di antara keduanya sudah kembali tenang, seolah tidak pernah ada apa-apa. Kami berjalan menembus air yang semakin dangkal, melewati garis pasang, hingga akhirnya kaki kami menapak pasir hitam yang basah, lalu kering. Aku menoleh sekali ke belakang—ke gerbang yang kini hanya siluet di antara deru ombak dan langit kelabu—sebelum memutuskan untuk tidak menoleh lagi. Setiap langkah membawa kami lebih jauh ke dalam reruntuhan, dan aku memperhatikan caranya berjalan—waspada, tenang, matanya terus bergerak menyapu sekeliling seperti sedang membaca ulang sebuah peta yang sudah lama ia hafal, namun kini menemukan semua jalannya telah berubah menjadi puing. Sesekali ia berhenti di depan reruntuhan tertentu—sebuah pilar yang setengah runtuh, kerangka bangunan yang bentuknya masih samar-samar bisa dikenali—dan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, sebelum melanjutkan langkah tanpa berkata apa pun. Aku tidak bertanya apa yang ia lihat di reruntuhan itu. Tapi aku mulai curiga bahwa bagi Aksa, dunia ini bukan sekadar pemandangan hancur yang asing—setiap sudutnya mungkin menyimpan bayangan tentang apa yang pernah ada di sana, seratus tahun yang lalu, sebelum semuanya direnggut dari genggamannya.