Chapter 6: Dunia yang Ditinggalkan
Kami tidak berjalan jauh malam itu. Tubuhku yang belum sepenuhnya pulih akhirnya menyerah beberapa jam setelah kami meninggalkan gerbang, dan Aksa berhenti tanpa banyak bicara, menyalakan api kecil di antara reruntuhan yang cukup terlindung dari angin. Aku tertidur hampir seketika begitu duduk, terlalu lelah bahkan untuk memikirkan mimpi apa yang mungkin menungguku. Aku tidak ingat apakah Aksa sempat tidur malam itu. Setiap kali aku terbangun sejenak di antara tidurku yang gelisah, ia selalu dalam posisi yang sama—duduk tegak di dekat api, matanya terbuka, menatap ke arah kegelapan di luar cahaya unggun. Aku menduga ia sengaja tidak tidur, berjaga sepanjang malam agar salah satu dari kami tetap waspada terhadap apa pun yang mungkin mengintai di reruntuhan ini. Entah itu kebiasaan lama dari kariernya dulu, atau sekadar caranya memastikan aku benar-benar aman, aku tidak berani bertanya. Aku hanya membiarkan mataku menutup kembali, merasa sedikit lebih tenang mengetahui seseorang berjaga di sisiku. Begitu fajar mulai menyingsing—cahaya pucat yang menembus lapisan awan tebal, jauh berbeda dari matahari cerah yang kuingat di lembah tempat Aksa tinggal seratus tahun lamanya—kami melanjutkan perjalanan. Sebelum melangkah lebih jauh dari tempat kami bermalam, Aksa berjongkok sejenak di tanah, memeriksa sesuatu yang tidak langsung kupahami—jejak samar di tanah lembap, arah rerumputan yang condong, sepotong ranting yang patah pada ketinggian tertentu. Ia mengangkat segenggam tanah, meremasnya sebentar, lalu membiarkannya jatuh kembali sebelum mengendus udara dengan cara yang nyaris tak kentara. "Apa yang kau cari?" tanyaku, penasaran melihatnya begitu teliti untuk sesuatu yang bagiku hanya terlihat seperti tanah kosong. "Tanda," jawabnya singkat, masih memperhatikan sekelilingnya. Aku menatapnya, mencoba membayangkan berapa lama seseorang harus hidup dalam bahaya sebelum memeriksa tanah dan arah angin menjadi refleks sealami bernapas. Dan aku sadar, betapa aku tidak pernah benar-benar memperhatikan hal-hal semacam ini sepanjang perjalananku sendiri menuju gerbang—setiap detail reruntuhan yang kulewati waktu itu hanya bayangan kabur yang menyatu dengan detak jantungku yang memburu dan suara geraman di belakangku. Aku tidak sempat melihat, apalagi membaca tanda. Aku hanya berlari, dan berharap arah yang kupilih adalah arah yang benar. "Kau selalu melakukan ini?" tanyaku. "Bahkan waktu kau tinggal sendirian di lembah itu?" "Terutama waktu aku sendirian," jawabnya, mulai melangkah lagi, matanya tetap menyapu sekeliling meski kami sudah kembali berjalan. "Tidak ada orang lain yang bisa memperingatkanku kalau aku lengah. Kesalahan kecil di sana bisa berarti aku tidak akan sempat memperbaikinya." Ia berhenti sesaat, seolah baru menyadari sesuatu. "Begitu juga seharusnya denganmu, mengingat kondisi dunia ini sekarang," katanya, lalu menambahkan, lebih pelan, "Aku belajar itu dengan cara yang sulit, jauh sebelum aku terjebak di sana." Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, dan aku tidak mendesaknya kali ini—tapi aku menyimpan kalimat itu di kepalaku, satu lagi kepingan kecil dari masa lalunya yang belum ia izinkan aku lihat sepenuhnya. Aku juga menyimpan teguran halusnya soal kewaspadaan. Mungkin ia benar. Mungkin aku sudah terlalu lama hidup dengan cara berlari dan bersembunyi, tanpa pernah benar-benar belajar membaca dunia di sekelilingku sebelum dunia itu menyerangku lebih dulu. Kami berjalan sepanjang pagi tanpa banyak bicara setelah itu, melewati apa yang dulunya mungkin jalan setapak menuju desa-desa kecil di sekitar pesisir. Sekarang hanya ada tanah retak, ditumbuhi semak liar yang tumbuh di sela-sela reruntuhan, dan di sana-sini, kerangka bangunan yang sudah kehilangan bentuk aslinya—dinding yang runtuh separuh, atap yang ambruk ke dalam, jendela-jendela kosong yang menatap seperti soket mata tanpa isi. Entah kami sudah pernah melewati sebagian dari reruntuhan ini sebelumnya, saat aku berlari sekuat tenaga dengan genderuwo di belakangku, aku sama sekali tidak bisa memastikannya. Waktu itu, dunia ini hanya kumpulan bentuk yang harus kuhindari atau kupanjat secepat mungkin—aku tidak sempat melihat bentuk aslinya, tidak sempat bertanya apa fungsinya dulu, tidak sempat merasakan apa pun selain ketakutan yang mendorong kakiku terus bergerak. Sekarang, berjalan pelan-pelan di sisi Aksa, aku baru menyadari betapa banyak yang terlewat begitu saja saat itu—setiap reruntuhan yang kini kulihat dengan jelas mungkin sudah pernah kulewati tanpa benar-benar kulihat, hanya bayangan buram di tepi mataku yang saat itu terlalu sibuk mencari jalan keluar. Langit tetap kelabu sepanjang perjalanan, matahari hanya bayangan pucat di balik lapisan awan tebal yang seingatku sudah menggantung sejak aku kecil. Aksa berjalan beberapa langkah di depanku, matanya menyapu setiap reruntuhan yang kami lewati dengan cara yang membuatku semakin yakin dugaanku benar—ia bukan sekadar melihat puing. Ia sedang membandingkan. Di tengah hari, kami tiba di sebuah persimpangan yang dulunya, menurut potongan aspal retak yang masih tersisa di bawah pasir dan lumpur kering, adalah jalan yang cukup besar. Aksa berhenti di sana lebih lama dari biasanya. "Ini dulu jembatan," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku, menunjuk ke arah reruntuhan tiang beton yang setengah tenggelam di dasar sungai kering tak jauh dari kami. Bentuknya masih samar bisa dikenali—dua tiang penyangga yang tersisa, condong ke satu arah seperti akan roboh kapan saja. "Menghubungkan desa ini dengan yang di seberang sungai. Aku pernah melewatinya. Dulu." Aku menatap reruntuhan itu, mencoba membayangkan bentuk aslinya—jembatan yang mungkin ramai dilalui kendaraan, orang-orang berjalan kaki, kehidupan yang sama sekali tidak bisa kubayangkan karena aku tidak pernah mengenalnya. "Bagaimana rasanya?" tanyaku pelan. "Melihat semua ini?" Ia diam cukup lama sebelum menjawab, matanya masih tertuju pada reruntuhan jembatan itu. "Sama seperti yang kukatakan tadi," katanya akhirnya. "Aku sudah menduganya. Aku hanya tidak menyangka rasanya akan seperti ini—melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, bukan cuma membayangkannya di kepala selama seratus tahun." Suaranya tetap tenang, nyaris datar, tapi aku memperhatikan tangannya mengepal sebentar di sisi tubuhnya sebelum kembali rileks—begitu cepat hingga aku hampir tidak menangkapnya. Kami melanjutkan perjalanan menyusuri tepi sungai yang kini hanya berupa aliran kecil di antara bebatuan, jauh lebih kecil dari yang seharusnya bisa menopang sebuah jembatan sebesar itu. Di kejauhan, ke arah utara, aku bisa melihat siluet gunung yang menjulang samar di balik kabut tebal—salah satu dari sedikit hal yang tidak berubah dari cerita-cerita yang diwariskan kepadaku, meski asap tipis yang biasa mengepul dari puncaknya kini tampak lebih pekat dari yang kuingat. "Dulu gunung itu meletus setiap beberapa tahun sekali," kataku, mencoba mengisi keheningan. "Katanya, dulu ada orang-orang yang tinggal di lerengnya, terus kembali lagi setelah letusan reda. Aku tidak tahu apa masih ada yang tersisa di sana sekarang." Aksa menatap ke arah gunung itu sejenak, ekspresinya tidak berubah. "Dulu gunung itu dan pantai ini dianggap saling terhubung. Ada yang bilang garis lurus di antara keduanya adalah semacam... penyeimbang. Aku tidak pernah benar-benar mempercayainya waktu itu." "Kau percaya sekarang?" Ia tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, aku pikir ia akan mengabaikan pertanyaanku seperti biasa. Tapi kemudian, "Setelah semua yang kualami seratus tahun terakhir? Aku sudah berhenti memutuskan apa yang mustahil untuk dipercaya." Kami terus berjalan hingga senja mulai turun, melewati lebih banyak reruntuhan yang menurut Aksa dulunya adalah bagian dari desa-desa kecil di sepanjang pesisir. Ia mengenali beberapa di antaranya—sebuah warung, katanya, sebuah rumah yang mungkin milik seseorang yang pernah ia temui sekali dua kali. Setiap pengenalan itu diucapkan dengan nada yang sama datarnya, seolah ia sedang membacakan daftar barang belanjaan, bukan menyaksikan kuburan dari kehidupan yang pernah ia kenal. Itu yang paling mengganggu bagiku. Bukan kehancurannya—aku sudah terbiasa dengan kehancuran sepanjang hidupku. Yang mengganggu adalah betapa tenangnya ia menghadapinya, seolah tidak ada yang benar-benar menyentuhnya lagi. Saat kami berhenti untuk beristirahat di reruntuhan yang mungkin dulunya sebuah rumah kecil, aku akhirnya memberanikan diri bertanya apa yang sejak tadi mengganjal di kepalaku. "Kau tidak marah?" tanyaku. "Atau sedih? Ini duniamu, Aksa. Orang-orang yang kau kenal, tempat-tempat yang kau kenal—semuanya hilang. Bagaimana kau bisa bicara soal semua ini seolah-olah kau sedang menunjukkan arah jalan?" Ia menatapku lama sekali, dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang lebih tajam berkelebat di balik ketenangannya—bukan amarah, tapi sesuatu yang lebih dingin, lebih lama mengendap. "Aku sudah berduka untuk dunia ini seratus tahun yang lalu," katanya akhirnya, suaranya tetap pelan tapi setiap kata terasa dipilih dengan hati-hati. "Jauh sebelum aku tahu persis apa yang akan terjadi padanya. Rasa sedih itu... sudah lama habis. Yang tersisa sekarang hanya kenyataan yang harus kuhadapi, satu langkah demi satu langkah." Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ada sesuatu dalam caranya mengatakan itu yang membuatku merasa telah menyentuh tepi dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih gelap daripada yang bisa kubayangkan—sesuatu yang tidak akan ia bagikan malam ini, mungkin tidak untuk waktu yang lama. Malam turun sepenuhnya, dan kami memutuskan untuk berhenti di reruntuhan itu untuk beristirahat. Aksa menyalakan api kecil dari puing-puing kayu yang masih bisa dipakai, gerakannya sama hati-hatinya seperti saat ia merawat lukaku dulu di gubuk. Aku mengamatinya dalam diam, mencoba menyusun kembali semua yang telah kupelajari tentangnya sejauh ini—seorang pria yang telah kehilangan segalanya, namun berjalan melalui reruntuhannya dengan ketenangan yang lebih menakutkan daripada air mata sekalipun.