Chapter 7: Perjalanan
Hari kedua perjalanan kami dimulai dengan langit yang sama kelabunya, meski aku mulai merasa tubuhku sedikit lebih kuat dari sebelumnya—entah karena ramuan yang diberikan Aksa benar-benar bekerja, atau karena aku sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit yang tak kunjung hilang sepenuhnya. Kami berjalan menyusuri apa yang kuyakini sebagai arah menuju benteng, meski setiap penanda yang kuingat—pohon tertentu, bebatuan berbentuk aneh, kemiringan tanah—sudah berubah wujud atau lenyap sepenuhnya ditelan waktu. Aku mengandalkan ingatan dari catatan yang selama ini kupelajari, bukan catatanku sendiri, melainkan milik orang tuaku. "Di bentengmu," kata Aksa tiba-tiba, memecah keheningan pagi itu, "tugasmu apa?" Sejak semalam ia mulai lebih sering bertanya, seolah keputusannya untuk jujur soal masa lalunya sendiri membuka semacam keseimbangan baru di antara kami—informasi ditukar sedikit demi sedikit, bukan lagi ditimbun sepihak. "Aku seorang pencatat," jawabku. "Aku mencatat apa yang terjadi di benteng. Ekspedisi, kejadian aneh, apa pun yang mungkin berguna untuk diingat generasi setelah kami." "Kau belajar dari siapa?" Aku menghela napas, mempersiapkan diri untuk cerita yang tidak pernah mudah kuucapkan, meski sudah ratusan kali kuulang dalam kepalaku sendiri. "Orang tuaku. Mereka berdua pencatat sebelum aku. Mereka juga—" Aku berhenti sejenak, memilih kata-kataku. "Mereka juga pernah mencari senjata legenda yang sama denganku. Beberapa kali. Sampai suatu hari mereka tidak kembali." Aksa tidak langsung merespons, tapi langkahnya melambat sedikit, memberiku ruang untuk melanjutkan atau berhenti sesuai kemauanku sendiri. "Kami menemukan mereka beberapa hari kemudian," lanjutku, suaraku lebih pelan dari yang kuinginkan. "Sudah terbunuh. Tidak ada yang pernah benar-benar menjelaskan bagaimana, atau oleh apa. Hanya... ditemukan." "Aku turut berduka," katanya, dan untuk pertama kalinya aku mendengar sesuatu yang benar-benar tulus dalam kalimat itu—bukan sekadar basa-basi, tapi pengakuan dari seseorang yang tahu betul rasanya kehilangan tanpa penjelasan. "Banyak orang di benteng menyalahkan mereka," kataku, mengeraskan suaraku sedikit, seolah mengatakannya lebih cepat akan membuatnya lebih mudah ditelan. "Menyalahkan pencarian mereka. Bilang mereka membahayakan kami semua, mengundang sesuatu mendekat ke tempat yang seharusnya tak pernah ditemukan siapa pun. Aku tumbuh besar dengan orang-orang yang menatapku seperti aku ini... kelanjutan dari kesalahan mereka." "Tapi kau tetap pergi," kata Aksa, bukan pertanyaan, lebih seperti pengamatan. "Aku tetap pergi," ulangku. "Mungkin karena aku ingin membuktikan pencarian mereka bukan kesia-siaan. Mungkin karena aku ingin tahu apa yang membunuh mereka, sesuatu yang bahkan catatan mereka sendiri tidak bisa jawab. Mungkin keduanya." Aksa mengangguk pelan, tidak menawarkan nasihat atau penghiburan kosong seperti yang mungkin dilakukan orang lain. Hanya penerimaan diam yang entah kenapa terasa lebih berarti daripada kata-kata apa pun. "Aku paham rasanya," katanya akhirnya, "membawa kesalahan orang lain sebagai milikmu sendiri." Aku menatapnya, ingin bertanya lebih jauh apa maksudnya, tapi ia sudah melangkah lebih dulu, kembali menyapu pandangannya ke reruntuhan di sekitar kami seperti biasa. Kami berhenti sesaat menjelang tengah hari di reruntuhan yang menurutku dulunya sebuah gudang, untuk beristirahat dan membagi sisa perbekalan kering yang tersisa dalam buntalan kain Aksa. Saat itulah aku pertama kali melihatnya berhenti secara tiba-tiba, tubuhnya menegang, satu tangan terangkat pelan memberi isyarat agar aku diam. Aku membeku, jantungku mulai berdegup kencang. "Ada sesuatu," bisiknya, nyaris tak terdengar. Matanya menyapu reruntuhan sekitar kami, bukan mencari sesuatu yang besar seperti genderuwo, melainkan sesuatu yang lebih kecil, lebih tersembunyi. Aku mengikuti arah pandangnya, dan untuk sesaat aku hanya melihat bayangan biasa di antara reruntuhan tembok. Tapi kemudian bayangan itu bergerak—bukan seperti bayangan tertiup angin, melainkan seperti sesuatu yang hidup, merangkak menyusuri dinding dengan gerakan yang salah, terlalu lentur, terlalu diam. Sesosok wanita, atau sesuatu yang menyerupai wanita, dengan rambut panjang yang menjuntai menutupi sebagian besar tubuhnya, merunduk di celah reruntuhan tak jauh dari kami. Aku tidak bisa melihat wajahnya, hanya siluetnya yang aneh, terlalu tinggi di bagian tertentu, terlalu bungkuk di bagian lain, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya mengikuti aturan yang sama seperti tubuh manusia. "Jangan bersuara," bisik Aksa, hampir tak bergerak bibirnya. "Dan jangan menatap terlalu lama." "Apa itu?" bisikku balik, suaraku nyaris tak keluar sama sekali. "Aku tidak tahu namanya di sini," jawabnya, "tapi aku pernah menghadapi sesuatu yang serupa dulu. Mereka pengintai. Bukan penyerang langsung—setidaknya, tidak selalu. Mereka mengamati, lalu pergi, lalu kembali membawa yang lain." Kami berdua tetap diam sempurna, menahan napas selagi sosok itu bergerak lebih jauh menyusuri reruntuhan, seolah menyisir area itu, mencari sesuatu—atau seseorang. Aku merasakan keringat dingin mengalir di punggungku meski udara pagi itu jauh dari panas. Setelah beberapa menit yang terasa seperti waktu yang tak berujung, sosok itu akhirnya menghilang di balik reruntuhan yang lebih jauh, bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk sesuatu yang tadinya bergerak begitu lambat dan hati-hati. Aksa tidak langsung bergerak, menunggu beberapa saat lagi sebelum akhirnya menghembuskan napas pelan. "Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang," katanya, mulai mengemas sisa perbekalan kami. "Kalau itu benar-benar pengintai, ada kemungkinan ia sudah melihat kita, atau akan melihat kita sebelum kita sampai." "Melihat kita menuju ke mana?" tanyaku, meski aku sudah menduga jawabannya sebelum ia mengucapkannya. "Bentengmu," jawab Aksa, matanya menatapku serius. "Kalau makhluk seperti itu bisa melacak sesuatu yang mereka anggap berharga atau berbahaya, dan kalau ia mengikuti kita cukup jauh..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi aku sudah memahami maksudnya tanpa perlu ia mengucapkannya lebih jelas. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu yang menyerupai kekhawatiran nyata di wajahnya—bukan untuk dirinya sendiri, aku yakin itu, melainkan untuk tempat yang belum pernah ia lihat, yang selama ini hanya berupa cerita dariku. Kami melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih cepat dan lebih waspada dari sebelumnya, dan aku tidak bisa mengabaikan rasa dingin yang menjalar di dadaku—bukan hanya karena sosok yang baru saja kami hindari, tapi karena kemungkinan bahwa perjalanan ini, yang seharusnya membawaku pulang dengan selamat, mungkin justru membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya menuju rumah yang tersisa bagiku.