# chapter8: Gerbang yang Tertutup
Kami tiba di kaki tebing menjelang senja hari ketiga, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan gerbang candi hitam, aku merasakan sesuatu yang menyerupai harapan nyata—bukan sekadar keinginan untuk bertahan hidup, tapi kerinduan konkret akan sesuatu yang familiar, sesuatu yang bisa kusebut rumah. Tebing itu menjulang tinggi di hadapan kami, permukaannya kasar dan ditumbuhi tanaman rambat liar yang sengaja dibiarkan tumbuh menutupi celah masuk—dari kejauhan, siapa pun akan mengira itu sekadar retakan batu biasa, bukan pintu menuju kehidupan ratusan orang. Aku menuntun Aksa menyusuri jalur sempit di sisi tebing, jalur yang hanya bisa dikenali oleh mereka yang tahu persis di mana harus mencari. "Berhenti di sini," bisikku, saat kami mencapai titik yang kuingat sebagai batas penglihatan pos jaga. "Biarkan aku yang bicara dulu." Aksa mengangguk, tapi aku memperhatikan tubuhnya sedikit menegang—bukan karena takut, melainkan karena naluri lamanya, kesiagaan yang tidak pernah benar-benar mati meski dalam situasi yang seharusnya membawa kelegaan. "Ini aku! Asa!" teriakku ke arah celah tebing, suaraku bergetar antara lega dan cemas. "Aku kembali!" Hening sesaat, cukup lama hingga aku mulai meragukan apakah ada yang mendengarku. Lalu sesosok pria muncul dari balik tanaman rambat, tombak bambu runcing di tangannya, matanya menyipit menatap kami berdua dengan kecurigaan yang tidak coba ia sembunyikan. "Asa?" Suaranya penuh keraguan, seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya. "Kami kira kau sudah mati." "Aku hampir mati," jawabku jujur. "Tapi aku selamat. Dirga, aku butuh masuk. Aku terluka, dan—" Mata Dirga langsung beralih ke sosok di sampingku, dan aku bisa melihat seluruh ekspresinya berubah dalam sekejap—dari keraguan menjadi kewaspadaan penuh. "Siapa dia?" tanyanya tajam, tombaknya sedikit terangkat, meski belum sepenuhnya diarahkan ke Aksa. "Namanya Aksa. Dia menyelamatkanku." Aku melangkah setengah maju, mencoba menempatkan diriku di antara mereka berdua, meski aku tahu itu sia-sia—Dirga sudah melihat semua yang perlu ia lihat untuk membuat keputusannya sendiri. "Dia tidak berbahaya, Dirga. Percayalah padaku." "Percaya padamu," ulang Dirga, dan ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku merasakan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, sesuatu yang jelas bukan cuma soal hari ini. "Sama seperti kami percaya pada orang tuamu?" Kata-kata itu menghantamku lebih keras dari yang seharusnya, meski aku sudah menduga akan mendengarnya cepat atau lambat. "Ini berbeda," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap tenang. "Selalu berbeda," jawab Dirga, sudah memberi isyarat ke seseorang di belakangnya yang tidak bisa kulihat. "Sampai ternyata tidak." Sebelum aku sempat membalas, tiga orang lain muncul dari balik tanaman rambat, masing-masing membawa tombak dan sumpit yang siap digunakan. Aksa tidak bergerak sedikit pun, tangannya terangkat perlahan menjauh dari tubuhnya, telapak tangan terbuka—gestur universal yang tidak butuh penjelasan. "Aku tidak akan melawan," katanya, suaranya tetap tenang meski empat ujung senjata kini terarah padanya. "Aku hanya mengantar Asa pulang." "Serahkan senjatamu," perintah Dirga. Aksa perlahan melepas sarung pedang dari pinggangnya, menyerahkannya dengan gerakan yang sengaja dilambatkan, tidak memberi alasan apa pun bagi mereka untuk bereaksi berlebihan. Salah satu penjaga mengambilnya, memeriksa bilahnya dengan hati-hati sebelum menatap Dirga dan menggeleng—entah apa artinya, aku tidak yakin, tapi ekspresi Dirga tidak melunak sedikit pun. "Ikat tangannya," katanya. "Kita bawa mereka berdua masuk. Biar Nyai Sekar yang memutuskan." Perjalanan menyusuri lorong gua terasa jauh lebih panjang dari yang kuingat, mungkin karena tangan Aksa terikat di belakang punggungnya, diapit dua penjaga bersenjata di kedua sisinya, sementara aku berjalan di belakang mereka, diawasi dengan curiga yang sama meski tak seorang pun berani menyentuhku. Cahaya jamur bioluminesens yang biasanya membuatku merasa tenang—warna kehijauan lembut yang menandai aku sudah pulang—kini hanya terasa dingin dan asing, seolah gua ini menghakimiku sama seperti para penghuninya. Kami tiba di aula utama, dan aku bisa merasakan puluhan pasang mata berpaling ke arah kami begitu kami memasuki ruangan itu. Bisik-bisik menyebar cepat, kata "orang asing" dan "Asa" terdengar berulang kali dari berbagai penjuru, dan di antara semua itu aku menangkap sepasang mata yang menatapku dengan campuran kelegaan dan ketakutan—Wening, sahabatku sejak kecil, berdiri di antara kerumunan dengan tangan mendekap dadanya sendiri. Aku ingin berlari ke arahnya, tapi para penjaga tidak memberiku kesempatan, menggiring kami terus menuju ruang tetua yang terletak di titik terdalam gua. Nyai Sekar sudah menunggu di sana, duduk di atas tikar anyaman dengan punggung tegak meski usianya sudah lanjut, matanya yang tajam menilai kami berdua dari ujung kepala sampai kaki sebelum ia berkata apa pun. "Jadi," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang kubayangkan, tapi memiliki bobot yang membuat seluruh ruangan seketika hening. "Anak yang kami kira sudah mati kembali membawa orang asing dari dunia yang seharusnya sudah tidak menyisakan siapa pun." "Nyai, aku bisa jelaskan—" "Nanti," potongnya, tidak kasar tapi tegas. Ia menatap Aksa lama sekali, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dibaca orang lain. "Dari mana asalmu?" "Jauh," jawab Aksa sederhana, tidak berbohong, tapi juga tidak sepenuhnya menjelaskan. "Jauh dalam artian apa?" Aksa terdiam sejenak, dan aku bisa melihat pergumulannya—prinsipnya untuk tidak pernah berbohong berbenturan dengan kebutuhannya untuk berhati-hati dengan kebenaran macam apa yang boleh ia bagikan di depan orang-orang yang jelas sudah menganggapnya ancaman. "Jauh dalam artian yang akan sulit kalian percayai," jawabnya akhirnya, "bahkan jika aku menjelaskannya sekarang." Bisik-bisik di antara penjaga yang hadir semakin keras, dan aku bisa merasakan ketegangan di ruangan itu meningkat seperti tali yang ditarik semakin kencang. "Kurung dia," perintah Nyai Sekar akhirnya, tanpa nada kemarahan, hanya kelelahan yang sudah lama mengendap. "Sampai aku punya waktu memikirkan ini dengan kepala dingin. Dan kau—" Matanya beralih padaku, sedikit melunak, tapi tidak sepenuhnya. "Kau akan menjelaskan semuanya padaku, Asa. Setiap detailnya." Aksa tidak melawan saat mereka menyeretnya menuju ruang isolasi dekat pos jaga, langkahnya tenang, wajahnya datar seperti biasa—tapi aku menangkap sekilas matanya menoleh ke arahku sebelum ia menghilang di balik lorong sempit, dan di dalamnya aku melihat sesuatu yang jarang kulihat sejak mengenalnya: bukan ketakutan untuk dirinya sendiri, melainkan kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi padaku setelah ia tak lagi bisa melindungiku secara langsung. "Kau membawa bahaya ke tempat ini," seseorang berbisik tajam dari kerumunan saat aku melewati mereka, cukup keras untuk kudengar jelas. "Sama seperti orang tuamu." Aku tidak menoleh, tidak membiarkan air mata yang mulai menggenang di mataku terlihat oleh siapa pun. Aku hanya terus berjalan, mengikuti dua penjaga yang kini menuntunku entah ke mana, membiarkan kata-kata itu menempel di kulitku seperti luka lama yang baru saja disentuh kembali.